Ketika Anda menerima penghasilan, terdapat pilihan dalam benak masing-masing individu sebelum menggunakan dana tersebut. Setiap orang punya keputusan berbeda dalam menentukan pembelian kebutuhan pokok, keinginan lain maupun simpanan masa depan.
Salam trader! Pada rubrik fundamental kali ini, akan dibahas tentang laporan Personal Income & Spending negara Amerika Serikat (AS). Dalam dunia bisnis dan ekonomi, daya beli konsumen adalah kunci paling utama. Pengeluaran konsumen yang lancar akan berimbas pada kenaikan penjualan barang impor, output manufaktur, bisnis dan investasi hingga pertumbuhan lapangan kerja. Di sisi lain, jika pendapatan warga menurun, maka akan menimbulkan efek domino, mulai dari berkurangnya kepercayaan konsumen, penurunan retail sales hingga ancaman kredit macet. Di bawah ini adalah penjelasan tentang data tersebut, yang terbagi dalam 3 kategori: personal income, expenditures dan saving.
Personal Income
Besar atau kecilnya pendapatan netto diukur dari berapa banyak uang yang dihasilkan setelah dipotong pajak dan pengeluaran tetap lainnya. Istilah ini dikenal dengan nama disposable personal income (DPI). Pendapatannya sendiri berasal dari sumber sebagai berikut :
- Upah dan gaji : penghasilan yang dibayar perusahaan kepada karyawannya.
- Penghasilan dari kepemilikan (8%): penghasilan yang diperoleh dari jasa atas pemakaian hak milik pribadi oleh orang lain. Pendapatan ini biasanya dikenakan bukan mengacu pada tarif sewa normal.
- Pendapatan atas sewa (1.4%): penghasilan yang diperoleh dari jasa menyewakan atau leasing real estat. Pendapatan ini dihitung jika bukan dianggap sebagai penghasilan utama.
- Pendapatan dari dividen saham (4.4%): penghasilan dari kepemilikan saham satu perusahaan
- Pendapatan dari bunga bank (11%): penghasilan dari penempatan dana di bank dalam bentuk tabungan, sertifikat deposito, sekuritas maupun obligasi.
- Transfer payments (13%): penghasilan dari pembayaran oleh pemerintah, baik berupa jaminan sosial, subsidi tunai, klaim asuransi pengangguran dan lain-lain.
- Pendapatan pekerjaan lain-lain (6.2%) : akumulasi pembayaran upah berbentuk asuransi, dana pensiun dan sebagainya.
Seluruh klasifikasi pendapatan/penghasilan di atas tidak menyertakan cash inflow dari hasil penjualan properti, saham, atau surat hutang.
Personal Spending atau Personal Consumption Expenditures (PCE)
Pengukuran PCE tidak hanya sebatas untuk mengetahui jumlah agregat belanja konsumen. Namun lebih jauh lagi, PCE merupakan komponen dari GDP dan menjadi tolok ukur utama dari tumbuh kembangnya siklus bisnis sebuah negara. Sebanyak 95% dari penghasilan rumah tangga dibelanjakan pada 3 kategori produk: durable goods, non-durable goods dan services.
Durable goods atau barang-barang tahan lama memiliki harga relatif mahal dan awet lebih dari 3 tahun, seperti mobil, refrigerator, televisi dan sebagainya. Oleh karena alasan tersebut, produk durable memakan 12%-14% dari penghasilan. Nondurable goods hanya memiliki usia pakai kurang dari 3 tahun, seperti makanan, pakaian dan sebagainya. Persentase angka belanjanya sekitar 30% dari total penghasilan. Sementara segmen jasa memiliki tingkat pertumbuhan dan permintaan lebih tinggi dibandingkan durable goods dan nondurable goods. Pada masa the Groovy 1960s, pengeluaran untuk kategori services di negara maju mencapai 40% dari total penghasilan. Jasa yang lazim diminati pada tahun 60-an adalah salon kecantikan, jasa konsultan, hiburan perfilman, travel agent dan sebagainya.
Personal Savings
Alokasi tabungan konsumen biasanya berbentuk sertifikat deposito bank, tabungan regular maupun investasi di pasar uang, saham atau obligasi. Rata-rata jumlah tabungan pribadi (personal saving rate) cenderung tidak konsisten dan stabil. Sebagai contoh, jika Anda sekarang menabung Rp.5 dari setiap pendapatan Rp.100, maka persentase tabungan adalah sebesar 5%. Jika kondisi pendapatan personal meningkat, individu cenderung menaikkan standar hidup jadi konsumtif. Tentunya pilihan untuk menabung menjadi hal yang terlupakan, sehingga alokasi dana simpanan kian berkurang.
Penyusutan bisa terjadi pada simpanan berbentuk instrumen investasi. Pada masa resesi tahun 2001 lalu, banyak warga AS merugi akibat nilai portofolionya turun. Pemerintah langsung membuat program penyelamatan dengan melepas paket investasi jangka panjang. Pasar uang merespon positif kebijakan tersebut sehingga safe haven kembali jadi primadona.
MARKET IMPACT
Data personal income patut diperhatikan oleh traders secara seksama. Proses penerbitan data ini cukup alot lantaran adanya perbedaan tingkat dan jenis pekerjaan. Oleh karena itu, lembaga peneliti biasanya memakai komponen dari data penjualan ritel. Jika terjadi kenaikan pada data retail sales, maka tingkat personal income dipastikan ikut naik. Sementara rilis data personal income termasuk berkategori lambat karena kalkulasi berdasarkan penghasilan individu 1 bulan sebelumnya. Sedangkan dampak dari data tersebut bisa dilihat pada ilustrasi berikut:
Buruknya laporan personal spending dan personal income akan menaikkan harga obligasi. Hal ini karena terbuka kemungkinan penerbitan surat hutang ber-yield tinggi oleh pemerintah. Sebaliknya, jika data menunjukkan kenaikan, maka nilai obligasi akan jatuh. Adapun efek data tersebut bagi pasar saham berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada obligasi. Indikator ini mencerminkan laju roda perekonomian, sehingga investor akan menikmati keuntungan dari corporate profit dari tiap saham.
Perhatikan pola rally indeks S&P, NQ dan DJ di bawah. Responsive upside tampak sangat signifikan, sehingga beberapa komponen saham juga terdongkrak naik.
Source : monex mt4 platform. Lingkaran merah tanggal 31 Jan 2011
Sementara itu, mata uang lokal (dalam hal ini USD) akan merespon positif kenaikan pada laporan pendapatan dan belanja personal. Ada kecenderungan koreksi pada kurs mata uang utama lain terhadap dollar AS.
Komentar