Sabtu, 22 Juli 2017

cfd  CFD

Alibaba Buka Peluang Lagi untuk IPO di Hong Kong

Senin, 28 Oktober 2013 13:11 WIB
Dibaca 466

Monexnews -  Beberapa pekan setelah negosiasi dengan pihak operator bursa Hong Kong menemui jalan buntu, direksi Alibaba kembali membuka pintu untuk diskusi baru. Wacana penawaran saham perdana di salah satu bursa terbesar Asia belum sepenuhnya tertutup.

CEO Alibaba, Jonathan Lu, memberi indikasi untuk tidak terburu-buru dalam melaksanakan IPO. Perusahaan transaksi online ini konon memberi waktu bagi otoritas bursa Hong Kong untuk meninjau kembali poin persyaratan untuk menjadi emiten. Operator diharapkan mau mengubah aturannya yang dinilai kaku, terutama dalam aspek struktur usaha anggota bursa. Terlebih lagi, Alibaba bisa menjadi aset yang berharga bagi pihak operator karena selain memiliki nama besar, perusahaan ini berencana menggalang dana sekitar $12 miliar dari kocek investor.

Seperti diketahui, Alibaba mengurungkan niatnya untuk menggelar penawaran saham perdana (IPO) di bursa saham Hong Kong pada bulan lalu. Pihak direksi kemudian mengalihkan perhatian ke bursa saham Amerika Serikat dengan cara berkonsultasi dengan NYSE dan Nasdaq, untuk membahas legalitas strukutur perusahaan. NYSE dan Nasdaq kemudian memberitahu pihak Alibaba bahwa karakteristik kepemilikan usahanya tidak menyalahi aturan di bursa Amerika sehingga perusahaan dengan nilai aset mencapai 60 miliar tinggal memilah lokasi bursa mana yang dijadikan pelabuhan IPO.

Pada akhir September lalu, Alibaba sudah terlebih dahulu bernegosiasi dengan operator bursa Hong Kong. Namun tidak lama berselang, direksi menarik diri dari proses pendaftaran IPO karena skema organisasi bisnisnya tidak sejalan dengan prasyarat emiten bursa. Dalam sebuah tulisan di blog, co-founder sekaligus Executive Chairman Alibaba menyatakan bahwa wacana IPO di bursa saham terbesar ke-dua Asia sudah tertutup. "Kami memahami bahwa pengawas Hong Kong tidak ingin mengubah tradisi hanya karena satu perusahaan. Namun kami juga memiliki kebijakan sendiri dalam menyikapi perubahan trend," tulis Joe Tsai, salah satu sosok paling berpengaruh di industri transaksi elektronik China.

Alibaba mengajukan dokumen berisi struktur organisasi perusahaan kepada pengawas bursa. Di dalam struktur itu, para pendiri perusahaan memiliki akses untuk mengambil kebijakan strategis demi kesinambungan bisnis. Mereka berwenang menentukan arah perusahaan tanpa pengaruh dari fluktuasi pasar modal secara keseluruhan. Dengan menentukan kebijakan secara mandiri, Alibaba meyakini bahwa kepentingan konsumen dan pemegang saham lebih terjaga. Pihak pengawas Jong Kong menolak bentuk struktur perusahaan, yang memperbolehkan pendiri Jack Ma dan 27 eksekutif lainnya menentukan komposisi dewan direksi, padahal mereka hanya menguasai sekitar 10% dari total saham perseroan. Poin itulah yang tidak sejalan dengan prasyarat emiten bursa Hong Kong.

Walaupun tidak mengeluarkan komentar resmi, Chief Executive Operator Bursa Hong Kong akhir September lalu menyebut pihaknya menghadapi dilema besar. Dalam blognya, Charles Li mengaku terjebak di dalam pilihan, menjaga tradisi atau melakukan reformasi aturan. Alibaba sendiri memiliki tiga pemegang saham mayoritas, yakni Softbank Corp Jepang dengan jumlah saham sebesar 35%, disusul oleh Yahoo yang mempunyai 24% dan pihak pendiri mendapat 10% kepemilikan saham.

Kini Alibaba tinggal menunggu apakah otoritas bursa Hong Kong mau mengubah aturannya sehingga proses IPO bisa berjalan mulus. Jika tidak, dua operator negeri Paman Sam yaitu NYSE dan Nasdaq siap menampung keinginan go public Alibaba. (dim)

 

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar