Rabu, 18 Januari 2017

breaking-news Indeks Harga Konsumen AS tumbuh 0.3% di Desember vs. 0.2% di November, estimasi 0.3%

cfd CFD

Alibaba Tinggal Selangkah Lagi Menuju Lantai Bursa

Rabu, 16 April 2014 14:36 WIB
Dibaca 503

Monexnews - Alibaba dijadwalkan mengirim proposal initial public offering (IPO) kepada Securites Exchange Comission (SEC) Amerika Serikat. Sumber perusahaan yang dikutip oleh Reuters mengatakan bahwa pihak direksi sudah menyelesaikan prospektus dan berbagai persiapan untuk IPO di New York.

Dokumen permohonan IPO Alibaba paling cepat dikirimkan pada hari Senin mendatang (21/04). Penjualan saham perdana oleh spesialis perdagangan online ini diprediksi bernilai lebih dari $16 miliar atau memecahkan rekor IPO sektor teknologi yang dipegang oleh Facebook pada tahun 2012 lalu.

Kepastian IPO perusahaan asal China ini didapat pertengahan bulan Maret 2014 saat Alibaba akhirnya memilih bursa saham Amerika Serikat sebagai pelabuhan initial public offering-nya (IPO) tahun ini. Meskipun tidak terlalu memiliki nama di Amerika Serikat, Alibaba otimis mampu menggalang dana segar di atas $16 miliar dari IPO-nya nanti. Jumlah modal yang ditargetkan dari kocek investor tersebut kurang lebih sama dengan nilai IPO Facebook ($16 miliar).

Setelah berbulan-bulan melakukan negosiasi dengan otoritas bursa Hong Kong serta operator bursa NYSE dan Nasdaq, Alibaba akhirnya memutuskan untuk memilih New York sebagai lokasi penerbitan saham perdana. Sejak pertengahan tahun lalu, pihak direksi sebenarnya lebih menyukai bursa Hong Kong namun rencana IPO di sana terbentur tata aturan yang berlaku. Alibaba terpaksa mengurungkan niatnya untuk melantai di Hong Kong karena skema organisasi bisnisnya tidak sejalan dengan prasyarat emiten bursa. Dalam sebuah tulisan di blog bulan Oktober 2013, co-founder sekaligus Executive Chairman Alibaba menyatakan bahwa wacana IPO di bursa saham terbesar ke-dua Asia sudah tertutup. "Kami memahami bahwa pengawas Hong Kong tidak ingin mengubah tradisi hanya karena satu perusahaan. Namun kami juga memiliki kebijakan sendiri dalam menyikapi perubahan trend," tulis Joe Tsai, salah satu sosok paling berpengaruh di industri transaksi elektronik China. Perusahaan kemudian mengalihkan perhatian ke bursa saham Amerika Serikat dengan cara berkonsultasi dengan NYSE dan Nasdaq, seraya tetap menjalin komunikasi dengan otoritas bursa Hong Kong dengan harapan pihak pengawas mau memodifikasi aturan. Tidak lama berselang, NYSE dan Nasdaq kemudian memberitahukan pihak Alibaba bahwa karakteristik kepemilikan usahanya tidak menyalahi aturan di bursa Amerika sehingga perusahaan dengan nilai aset mencapai 60 miliar itu dipersilakan untuk memilih operator mana yang dianggap paling sesuai.

Adapun perihal yang bertentangan dengan aturan bursa Hong Kong yakni terkait dengan struktur kepemilikan Alibaba yang kurang lazim. Di dalam struktur itu, para pendiri perusahaan memiliki akses untuk mengambil kebijakan strategis demi kesinambungan bisnis dan berwenang menentukan arah perusahaan tanpa pengaruh dari fluktuasi pasar modal secara keseluruhan. Dengan menentukan kebijakan secara mandiri, Alibaba meyakini bahwa kepentingan konsumen dan pemegang saham lebih terjaga. Pihak pengawas Hong Kong menolak garis kebijakan Alibaba, yang memperbolehkan pendiri Jack Ma dan 27 eksekutif lainnya menentukan komposisi dewan direksi meskipun mereka hanya menguasai sekitar 10% dari total saham perseroan. Poin itulah yang tidak sejalan dengan prasyarat emiten bursa Hong Kong.

Dengan memilih Amerika sebagai lokasi IPO, perusahaan optimis dapat memperkenalkan nama besarnya ke belahan dunia lain. Alibaba sendiri kemungkinan baru mengumumkan detil IPO pada penyerahan prospektus kepada SEC mulai dari tanggal IPO, underwriter dan kisaran harga jual.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar