Kamis, 30 Maret 2017

cfd  CFD

Daftar Korban Tewas Akibat Mobil GM akan Terus Bertambah

Jumat, 6 Juni 2014 12:51 WIB
Dibaca 906

Monexnews - Kasus recall kendaraan General Motors (GM) semakin pelik pasca munculnya argumen dan bukti-bukti baru sepanjang proses penyelidikan. Kabar terbaru menyebut kalau jumlah korban tewas akibat cacat produksi komponen mobil mencapai lebih dari angka 13 orang seperti yang dilaporkan oleh GM.

GM selama ini mengklaim jumlah orang meninggal hanya sebanyak 13 orang sejak perusahaan memasarkan produk yang bermasalah. Perusahaan otomotif terbesar Amerika ini hanya memperhitungkan penumpang yang duduk di kursi depan, di mana dua posisi tersebut memiliki fasilitas kantung udara (airbag). Padahal ada pula korban meninggal yang duduk di kursi belakang namun namanya tidak dimasukkan karena GM menganggap kegagalan fungsi airbag hanya berlaku untuk penumpang di depan. Perusahaan mengklaim penumpang yang duduk di kursi belakang bukan menjadi korban gangguan teknis, mengingat tidak ada kewajiban bagi kursi belakang untuk dilengkapi dengan airbag.

Atas rekomendasi penasihat teknisnya yang baru, Kenneth Feinberg, GM akan menambah daftar korban jiwa berdasarkan kriteria tambahan. Kemudian Feinberg akan menjadi orang yang bertugas untuk menghitung dan membayarkan ganti rugi kepada keluarga korban. "Setelah Kenneth Feinberg membuat kriteria dan data lengkap (korban jiwa), kami akan mengumumkan total korban jiwa baik yang meninggal maupun luka parah," tegas seorang juru bicara perusahaan.

Sementara ada keluarga korban meninggal yang mengecam jumlah tewas dalam daftar penumpang yang dirilis oleh GM. Beth Melton, orangtua dari Brooke Melton yang meninggal dalam kecelakaan mengatakan kalau putrinya itu tidak diperhitungkan oleh GM. Padahal Brooke tewas akibat terjadi error pada switch starter mobil Cobalt yang termasuk dalam daftar recall perusahaan. "Mereka (GM) bermain-main dengan angka. Sudah jelas ia meninggal karena gangguan pada switch itu," keluh Beth Melton kepada awak media yang mewawancarainya.

Seperti diketahui, jaksa penuntut umum wilayah Manhattan, New York pada bulan Maret lalu resmi menggelar penyelidikan terkait kasus cacat produksi mobil-mobil produksi General Motors. Meskipun perusahaan otomotif terbesar Amerika itu telah melakukan recall unit, investigasi tetap berlaku karena menurut penyelidikan awal, 13 korban jiwa sudah melayang di jalan raya.

Penyidikan terfokus pada indikasi pembiaran cacat produksi sejak satu dasawarsa silam. Bagian switch ignition yang bekerja tidak sempurna konon sudah diketahui oleh tim insinyur sejak lama, namun tidak ada perbaikan sama sekali. Cacat fungsional itu juga berlaku untuk model seperti Chevrolet Cobalt, Pontiac G5 serta Saturn Sky dan Ion.

Di awal bulan April, CEO Mary Barra dipanggil oleh DPR untuk menjelaskan kasus recall di hadapan publik dan keluarga 13 korban meninggal. Di tengah cecaran kritik anggota legislatif, CEO Mary Barra hanya bisa menyatakan permintaan maaf atas kesalahan produksi namun tidak dapat menerangkan apa yang sebenarnya terjadi di tubuh perusahaannya.

Dalam pidatonya, Barra mengakui kalau perusahaannya membiarkan mobil cacat komponen beredar di Amerika sejak satu dasawarsa lalu. Namun komite perlindungan konsumen DPR Amerika tidak hanya menyalahkan GM atas skandal memalukan ini, namun mereka juga mencibir National Highway Traffic Safety Administration (NTSA), yang dianggap gagal mengawasi kualitas kendaraan yang dijual ke konsumen. "Kesalahan berada di pihak GM dan NTSA karena keduanya tidak mengambil tindakan apa-apa sejak dulu," kilah anggota dewan dari partai Republik, Tim Murphy kala itu. Sementara anggota partai Demokrat, Diana DeGette, mempertanyakan alasan mengapa GM tidak mau mengganti komponen yang cacat padahal biaya penggantian hanya sebesar 57 sen per mobil. DeGette mengkritik kebijakan perusahaan yang hanya mementingkan faktor uang ketimbang keselamatan penumpang. "Mereka terus menjual meski barangnya tidak memenuhi standar keamanan," tegasnya di forum.

Opini publik sendiri terbelah dalam menyikapi skandal recall perusahaan otomotif terbesar Amerika itu. Menurut pantauan Monexnews terhadap beberapa media, sebagian besar warga memberikan komentar pembelaan untuk Mary Barra, karena ia bukanlah orang yang mengatur operasional GM dalam satu dasawarsa terakhir. Ia baru saja menjabat posisi CEO per bulan Januari lalu dan sudah diwariskan budaya bisnis yang 'bobrok' dari pendahulunya. Sementara ada juga warga yang menganggap ia tetap harus bertanggungjawab karena skandal tersebut muncul di bawah periode kepemimpinannya.

[Harga saham General Motors (NYSE:GM) ditutup pada posisi $36.27 atau melemah 0.25% pada sesi perdagangan Kamis (06/06)]

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar