Sabtu, 25 Maret 2017

cfd  CFD

JC Penney Catat Periode Bagus di Akhir Tahun

Rabu, 7 Januari 2015 13:25 WIB
Dibaca 897

Monexnews - Angin segar berhembus ke perusahaan department store asal Amerika Serikat, JC Penney. Pengelola jaringan pusat perbelanjaan ini akhirnya mampu menangguk keuntungan optimal selama musim liburan bulan November dan Desember lalu.

JC Penney dalam beberapa kuartal terakhir memang harus berjuang menyeimbangkan pos keuangannya. Sejak kalah bersaing dengan perusahaan ritel dan raksasa online, JC Penney memang kesulitan untuk bertahan di bisnis. Namun tingginya angka penjualan sepanjang liburan akhir tahun lalu bisa memberikan kepercayaan diri, terutama bagi para pemegang sahamnya.

Angka penjualan JC Penney naik 3,7% dibandingkan musim liburan akhir tahun 2013 lalu. Pihak direksi semakin optimis kalau perusahaan akan mampu memenuhi target atas kuartal IV yang dipatok pada kisaran 2% sampai 4% (dibandingkan kuartal akhir 2013).

Sejak keluar kabar melonjaknya angka penjualan, harga saham JC Penney langsung meroket 16% ke posisi $7.67 pada hari Senin lalu. Penguatan harga berlanjut semalam sehingga JC Penney mampu mencatat kenaikan 1,86% ke posisi $6.56. Pun demikian, investor sepertinya tidak bisa terlalu senang dengan laporan penjualan yang dirilis awal pekan, mengingat jika dihitung sejak September lalu harga saham sekarang sudah anjlok sampai sepertiga.

Perjalanan Bisnis JC Penney

Sampai akhir tahun 2013 lalu, JC Penney bergulat dengan masalah keuangan dan terpaksa merombak susunan organisasinya. Pihak direksi mengklaim potensi penurunan kinerja keuangan sebagai imbas dari gagalnya strategi bisnis yang diambil oleh eks-CEO Ron Johnson.

Pada tahun 2012, JC Penney mengalami penurunan angka penjualan setelah Johnson mencabut kupon dan musim diskon tertentu sehingga konsumen lari ke retailer lain. Johnson kemudian didepak bulan lalu dan digantikan oleh Myron Ullman, yang bertekad mengambalikan pelanggan ke toko-toko JC Penney seperti sedia kala.

JC Penney merupakan salah satu emiten bursa Amerika Serikat yang mengalami masa-masa sulit di tahun 2012. Kinerja bisnisnya lesu dan membuat pos keuangan menjadi tidak sebaik beberapa tahun sebelumnya. Ketika berbicara di hadapan analis pasar keuangan awal tahun 2013 lalu, eks-CEO Johnson mengaku bahwa JC Penney melakukan kesalahan di tahun 2012. Namun ia mengklaim perusahaannya sukses mengendalikan biaya pengeluaran, membangun platform teknologi dan memberikan pengalaman belanja kepada pelanggan.

Di bawah komando pimpinan yang baru menjabat sekitar satu tahun, banyak investor mulai optimis dengan prospek kinerja perusahaan department store ini. Harga saham JC Penney melonjak lebih dari 7% pada sesi after market tanggal 25 April 2013 setelah miliarder George Soros mengumumkan kepemilikan 7.9% di JC Penney. Soros mengumumkan kepada publik bahwa ia memiliki sekitar 17.4 juta saham JC Penney dalam sebuah dokumen yang diajukan kepada Securities and Exchange Committee (SEC). Soros sendiri kini resmi menjadi pemegang saham terbanyak ke-empat JC Penney. Di posisi teratas adalah investor yang juga aktivis William Ackman dengan Pershing Square Capital-nya. Ia menguasan saham JC Penney sebanyak 17.8%.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar