Selasa, 23 Mei 2017

breaking-news Ifo: Indeks Iklim Bisnis Jerman naik ke 114.6 di Mei dari 112.9 di April, estimasi 113.1.

cfd  CFD

Jelang Detik-detik IPO, Twitter Tersandung Kasus Hukum

Kamis, 31 Oktober 2013 13:30 WIB
Dibaca 631

Monexnews - Hanya beberapa hari jelang penerbitan saham perdananya, Twitter dilanda kabar kurang menyenangkan. Dua perusahaan keuangan menggugat media sosial ini dengan nilai ganti rugi mencapai $124 juta atau nyaris Rp1.4 triliun.

Precedo Capital Group dan Continental Advisors menuding Twitter mengarang skenario privatisasi untuk mendongkrak nilai jual sahamnya pada saat IPO nanti serta mencegah penurunan harga di pasar sekunder. Twitter diklaim memutus kesepakatan dengan GSV Management [pembeli saham resmi Twitter], yang di dalamnya tercantum suatu klausul perjanjian di mana GSV diberi keleluasaan untuk menjual saham Twitter sebesar $280 juta di pasar sekunder. GSV sudah mendapatkan dua calon pembeli saham siaga, yang tidak lain adalah Precedo dan Continental. Pemberitaan yang beredar menyebut bahwa kedua pihak siap membayar $19 per unit untuk mendapatkan saham Twitter. Namun di tengah jalan, perusahaan salah satu perusahan socmed paling terkenal itu memutus kerjasama dengan GSV, sehingga secara otomatis Precedo dan Continental juga kehilangan hak untuk membeli sahamnya.

Menurut laporan yang diajukan kepada pengadilan, Twitter menghembuskan kabar privatisasi fiktif guna membentuk opini publik terhadap nilai saham yang konon mencapai $19 per unit. Dengan demikian, maka Twitter bisa menaikkan valuasi harga IPO ke kisaran $17-20 atau mewakili valuasi total perusahaan sebesar $10.9 miliar. Pihak Twitter membantah keras tudingan dua perusahaan investasi seraya ,enyerang balik. "Kami tidak pernah terkait dengan isu itu dan klaim mereka sangat tidak beralasan," ujar Jim Prosser, juru bicara perseroan.

Twitter dituduh mengarang skenario privatisasi karena khawatir apa yang terjadi dengan Facebook terulang lagi. Seperti diketahui, penjualan saham Facebook di pasar sekunder tidak terlalu impresif pasca penyelenggaran IPO yang sangat buruk pada tahun 2012 silam. Mengacu pada pengalaman buruk itu, Twitter diklaim menarik diri dari kerjasama penjualan saham di pasar sekunder dengan GSV. Pengadilan New York akan mempelajari tuntutan kedua perusahaan investasi dan belum menentukan sikap.

Twitter resmi mengumumkan valuasi saham untuk initial public offering (IPO) di New York Stock Exchange (NYSE) hari Kamis pekan lalu. Perusahaan jejaring sosial itu mematok harga perdana di kisaran $17-20 per unit dengan volume sebanyak 70 juta saham. Apabila harga ditransaksikan pada valuasi harga tertinggi, maka raupan dana Twitter akan mencapai $10.9 miliar. Meskipun belum memberi pernyataan resmi terkait jadwal IPO, sumber dekat di perusahaan mengklaim saham mulai melantai pada tanggal 7 November atau satu hari setelah penetapan harga.

Dalam laporan keuangan pertama yang dirilis ke publik beberapa saat lalu, Twitter mencetak kerugian sekitar $79.4 juta atau setara Rp890 miliar Rupiah pada tahun 2012. Perusahaan bahkan diprediksi kembali merugi tahun 2013 mengingat hingga kini jumlah kerugian sudah mencapai $69 juta di semester I. Namun demikian, angka penjualan juga meningkat dengan tingkat penghasilan sebesar $254 juta di periode yang sama. Hal inilah yang bisa menghadang minat beli investor pada awal November nanti.

Perusahaan yang berdiri sejak 2006 ini belum mencetak laba dalam tiga tahun terakhir atau sejak Twitter diwajibkan melaporkan pos keuangan kepada publik. Angka kerugian tercatat sebesar $67 juta pada tahun 2010 dan $164 juta satu tahun kemudian. Kalaupun ada alasan yang membuat sahamnya menarik untuk dibeli yakni potensi keuntungan dari trend iklan pada perangkat mobile. Mobile ads memberi kontribusi 65% terhadap total pendapatan iklan tahun lalu. Jumlah penggunanya yang mencapai 218 juta juga bisa menjadi parameter dari prospek cerah perusahaan di masa depan. Valuasi nilai perusahaan saat ini berada di kisaran $10 miliar. Sampai dengan 30 Juni lalu, Twitter memiliki aset cair dan tunai sekitar $375 juta dan jumlah tenaga kerja sampai 2000 orang. Pendirinya, Evan Williams, adalah pemegang saham terbesar dengan rasio kepemilikan 12%. Direktur Peter Fenton menjadi pemegang saham perorangan terbesar ke-dua dengan jumlah kepemilikan 6.7%. Biz Stone, yang dikenal sebagai pemegang saham institusi, tidak tercatat dalam lampiran dokumen yang diajukan kepada otoritas. Perusahaan akan terjun ke bursa dengan simbol TWTR di bawah otorita NYSE. Goldman Sachs memimpin koordinasi IPO, dengan dukungan dari Morgan Stanley.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar