Selasa, 17 Januari 2017

breaking-news PM Inggris Theresa May: Pemerintah Akan Ajukan Kesepakatan Brexit Baru Untuk Voting Parlemen

cfd CFD

'Kabur' ke Kanada, Burger King Berhemat Rp3,4 triliun

Kamis, 11 Desember 2014 13:02 WIB
Dibaca 670

Monexnews - Burger King menurut jadwal akan menuntaskan proses merjernya dengan perusahaan resto kopi asal Kanada Tim Hortons pada hari Jumat besok. Meski ditentang oleh grup aktivis dan pemerintah, kerjasama bisnis keduanya akan tetap berlangsung di bawah bendera perusahaan induk, Restaurant Brands International. 

Setelah resmi merjer nanti, Burger King segera memindahkan kantor pusatnya ke Kanada, negara asal Tim Hortons. Dengan demikian, Burger King akan berhasil menjalankan strategi melarikan diri dari pajak, yang biasa disebut dengan istilah 'inversion' atau fasilitas pemotongan pajak bagi pengusaha jika mau bersatu dengan perusahaan asing dan memindahkan kantor pusatnya ke luar negeri. Merjer akan membuat pos penghasilan usaha Burger King jadi lebih besar karena beban pajaknya berkurang. Di Kanada sendiri, pungutan pajak usaha relatif lebih kecil ketimbang di Amerika Serikat sehingga tidak heran jika pihak direksi bersikukuh menuntaskan merjernya.

Merjer antara Burger King dan Tim Hortons akan membentuk perusahaan restoran baru terbesar ke-3 di dunia. Dengan cabang tersebar di 100 negara, restoran burger dan kopi ini akan menghasilkan angka penjualan sekitar $22 miliar dari 18000 gerainya.

Menurut organisasi Americans for Tax Fairness, langkah Burger King merupakan 'penyimpangan' karena mereka memanfaatkan peluang untuk lari dari kewajiban membayar pajak. Dengan cara 'kabur' ke Kanada, Burger King bisa terhindar dari beban pajak $117 juta per tahun yang seharusnya dibayarkan kepada pemerintah Amerika. Laba luar negeri perusahaan ini tidak akan terkena aturan pajak negara asal karena kantor pusatnya berlokasi di negara lain.


Menurut perhitungan laba rugi emiten versi Wall Street Journal, Burger King bisa terhindar dari pajak total sekitar $275 juta (Rp3,4 triliun) sejak tahun 2015 hingga 2018 mendatang. Dari kacamata bisnis, uang sebanyak itu lebih pantas dipakai untuk memperluas bisnis ke negara-negara lain ketimbang dibayarkan kepada pemerintah. Namun tidak demikian halnya jika dilihat dari perspektif etika dan nasionalisme. Dalam satu dasawarsa terakhir, setidaknya ada 48 perusahaan yang sukses menjalankan strategi inversion via merjer. 

Meski tidak melanggar hukum, kebijakan merjer untuk menghindari pajak sempat dikecam keras oleh pihak Gedung Putih. Pemerintah menyerukan supaya perusahaan-perusahaan domestik tidak berusaha 'mengakali' beban pajaknya dan selalu menjalankan bisnis dengan jiwa patriotisme. "Mereka mengumumkan bahwa markasnya pindah ke luar negeri, padahal kegiatan operasional lebih banyak di sini (AS). Saya tidak peduli apakah itu sah secara hukum, tetapi itu adalah perilaku yang salah," ujar Presiden Barack Obama dalam suatu kesempatan di bulan Juli lalu. Angkatan bersenjata Amerika sendiri memiliki kontrak dengan Burger King sebagai supplier produk burger bagi keluarga tentara. Tetapi pemerintah dikabarkan segera memutus kerjasama itu jika proses merjer tetap dilangsungkan.


[Harga saham Burger King Worldwide Inc (NYSE:BKW) ditutup pada posisi $34.62 atau menguat 6,56% pada sesi perdagangan hari Rabu kemarin (10/12).]

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar