Selasa, 30 Mei 2017

cfd  CFD

Kebanjiran Kas, Apple Justru Pilih Berhutang

Kamis, 25 April 2013 12:03 WIB
Dibaca 1090

Monexnews - Apple Inc mungkin merupakan perusahaan termahal sejagad, namun direksinya juga dikenal pelit kepada para pemegang saham. Meski dihujani laba berlimpah selama satu dasawarsa terakhir, produsen iPhone ini enggan merogoh kocek untuk menambah jatah dividen investornya.

Berkat tekanan dari pemilik saham dan komunitas investasi Amerika, Apple akhirnya berencana melakukan buyback dan menaikkan dividen. Namun bukannya memakai uang kas untuk menuntaskan wacana itu, Apple justru berencana menjual surat hutang untuk pertama kali dalam sejarah perusahaan. Dana yang digalang dari penerbitan surat hutang nantinya akan dipakai untuk melipatgandakan bunga dividen dan melakukan buyback di tahun 2015 mendatang. Langkah ini terbilang aneh karena Apple sendiri diketahui menyimpan uang tunai $144 miliar. Sebanyak $100 di antaranya disimpan di luar negeri untuk menghindari beban pajak sebesar 35% yang berlaku di Amerika. 

Pihak direksi mengakui bahwa penerbitan surat hutang lebih menguntungkan ketimbang mengembalikan dana mereka yang ditimbun di luar negeri. Meski akan dipakai untuk membayar dividen dan buyback, penggunaan dana itu di wilayah Amerika akan membuat beban pajak jadi lebih besar. "Kami terus menghasilkan uang di luar negeri dan membawa likuiditas kembali ke dalam negeri hanya akan menaikkan beban pajak," demikian pengakuan Direktur Keuangan Peter Oppenheimer dalam sebuah forum analis awal pekan ini. Oppenheimer merupakan sosok yang dikenal aktif menentang pungutan pajak tinggi terhadap korporasi besar oleh pemerintah. Ia meyakinkan semua pihak bahwa Apple hanya akan memulangkan dana kas jika aturan pungutan pajak bisnis diubah.

Keputusan Apple untuk masuk ke pasar kredit diambil setelah mempertimbangkan iklim bunga pinjaman yang kondusif di Amerika. Bank sentral konsisten mempertahankan suku bunga di level rendah dan bunga rata-rata untuk surat hutang korporasi Amerika hanya 2.6%. Bahkan jika ditaksir, perusahaan dengan rating AA- seperti Apple hanya akan harus membayar bunga kurang dari 2% jika memang jadi melepas surat hutangnya.

Emiten-emiten teknologi dengan kapitalisasi pasar terbesar di Amerika dikenal mempunyai kas yang tidak sedikit. Apple diketahui menyimpan dana segar $144 miliar dan Microsoft masih memiliki tabungan $68 miliar. Sementara Google, Cisco dan Oracle masing-masing mengantongi dana tidak terpakai sebesar $48 miliar, $45 miliar dan $34 miliar. Jumlah tersebut belum dihitung dengan investasi likuid yang mereka kuasai sampai sekarang.

Pelaku pasar menyayangkan mengapa perusahaan-perusahaan itu tidak membagikan dividen lebih banyak di saat sedang kebanjiran dana tunai. Manajer hedge fund dan pemegang saham Apple, David Einhorn, menjadi sorotan awal tahun ini karena kecamannya kepada pihak direksi yang tidak juga melepas saham preferensi bagi shareholder-nya. Einhorn menganggap investor Apple layak mendapatkan imbalan berupa saham kelas baru dengan dividen lebih tinggi atas loyalitasnya selama ini. Namun bukannya simpati yang didapat, Einhorn justru mendapat kecaman balik dari sang CEO. Tim Cook menilai permintaan Einhorn sebagai suatu hal yang konyol dan tidak bisa diterima. Apple mengaku bahwa dana sangat dibutuhkan untuk belanja biaya pengembangan, riset dan akuisisi akan tetapi pelaku pasar melihat statement itu hanyalah sangkalan. Mengingat arus kas Apple kian mengalir deras setiap kuartal berkat angka penjualan produk yang konsisten fantastis. Investor seharusnya berhak dianugerahi insentif ekstra di luar dividen sehat 2,2% per tahun yang mereka terima.

Banyak analis keuangan menilai tidak masuk akal apabila perusahaan-perusahaan Wall Street mengklaim cadangan kas dibutuhkan untuk kepentingan ekspansi. Jumlah uang yang mereka miliki bisa dipakai untuk kepentingan bisnis apapun, dan pasti masih akan banyak tersisa. Jika diakumulasi, cadangan kas 'nganggur' Apple, Microsoft, Google, Cisco (CSCO), Oracle (ORCL), Intel (INTC) dan raksasa farmasi Pfizer (PFE), Merck (MRK), Johnson & Johnson (JNJ) serta Amgen (AMGN) mencapai lebih dari $435 miliar! Sebagian besar dana justru diparkir di luar negeri untuk menghindari pengenaan pajak progresif. Di tengah iklim suku bunga rendah, uang-uang korporasi hanya ditaruh di bank atau diinvestasikan pada obligasi pemerintah. Padahal di sisi lain manfaatnya bisa dikembalikan pada investor dengan penerbitan saham preferensi atau penambahan dividen.

Penurunan saham Apple beberapa bulan terakhir menjadi simbol ketidakpercayaan investor terhadap geliat bisnis korporasi Amerika. Investor menginginkan timbal balik atas apa yang sudah mereka berikan saat ini, bisa berupa pembagian dividen, kabar akuisisi atau buyback saham. Apapun itu bentuknya, asalkan uang tidak hanya nganggur tak bertuan di dalam gudang di luar negeri. Penerbitan surat hutang untuk membayar dividen dan melakukan buyback bisa jadi jalan tengah yang bagus jika Apple memang ingin membalas buda kepada investornya. Namun untuk jangka panjang, Tim Cook dan kolega harus benar-benar mempunyai rencana strategis dalam penggunaan dana kas berlimpah tersebut. Harga saham Apple Inc (AAPL) diperdagangkan pada level $405.46 atau melemah 0.16% pada sesi bursa hari Kamis (24/04).

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar