Senin, 16 Januari 2017

cfd CFD

Kebanjiran Uang, Apple Justru Memilih Berhutang

Selasa, 3 Februari 2015 12:53 WIB
Dibaca 821

Monexnews - Apple memutuskan untuk menjual obligasi senilai $6,5 miliar atau Rp82 triliun awal pekan ini. Langkah tersebut cukup kontroversial mengingat perusahaan diketahui memiliki arus kas yang sehat sehingga tidak membutuhkan hutang baru.

Sebelum melepas surat hutang, Apple pekan lalu mengumumkan rekor keuntungan $18 miliar di kuartal terakhir 2014. Jumlah itu makin melambungkan pundi-pundi kas perusahaan termahal dunia itu menjadi $178 miliar, semua dalam bentuk tunai. Kalau memang tidak mengalami kesulitan modal, kenapa Tim Cook dan kolega mengambil langkah penjualan obligasi?

Jawabannya adalah 'pajak'. Seperti diketahui oleh umum, sebagian besar keuntungan Apple diparkir di luar negeri untuk menghindari pungutan pajak di negaranya sendiri. Selama uang itu berada di luar wilayah Amerika, maka pemerintah tidak berhak memungut pajaknya. Merasa tidak mau rugi, Apple menunda repatriasi atau pemulangan uang ke dalam negeri karena tidak mau jumlahnya berkurang 35% akibat kewajiban pajak.

Apple konon menginginkan fasilitas tax holiday untuk repatriasi, seperti aturan yang sedang diajukan oleh anggota DPR Barbara Boxer dan Rand Paul. Keduanya sedang membuat proposal yang mengatur jumlah pembayaran pajak bagi perusahaan Amerika yang berbisnis di luar negeri. Persentase pungutan dalam proposal Boxer dan Paul sangatlah kecil, yakni hanya 6,5% dari total profit per periode buku.

Walaupun peluang diloloskannya ide itu tergolong kecil, Apple sepertinya masih berharap keluarnya aturan yang bisa meringankan beban pajaknya. Sembari menunggu, pihak direksi memang membutuhkan dana segar untuk membiayai keperluan sehari-hari, mulai dari buyback saham hingga pembayaran dividen dan cicilan hutang sebelumnya. Tetapi Tim Cook tidak perlu memakai uangnya di kas luar negeri karena kalau dipulangkan ke Amerika, pajaknya luar biasa besar. Penerbitan surat hutang lebih murah karena suku bunga masih rendah, jauh lebih murah ketimbang harus me-repatriasi Dollar ke negeri sendiri. Selama belum ada reformasi pajak oleh pemerintah dan DPR, Apple diyakini masih akan menjalankan cara serupa dalam berbisnis.

Tidak Ada Nasionalisme dalam Berbisnis

Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak perusahaan teknologi Amerika Serikat memiliki cadangan dana dalam jumlah besar saat ini. Namun alih-alih melakukan ekspansi bisnis, mereka justru lebih suka membiarkan uangnya 'nganggur' di bank luar negeri.

Emiten-emiten teknologi dengan kapitalisasi pasar terbesar di Amerika mempunyai kas yang tidak sedikit. Apple diketahui menyimpan dana segar $178 miliar dan Microsoft masih memiliki tabungan mendekati $100 miliar. Sementara Google, Cisco dan Oracle masing-masing mengantongi dana tidak terpakai sekitar $50 miliar. Jumlah tersebut belum dihitung dengan investasi likuid yang mereka kuasai sampai sekarang.

Secara matematis, pemakaian kas untuk kepentingan strategis seperti merjer dan akuisisi sebenarnya bisa memberi nilai tambah lebih besar ketimbang pemberian dividen lebih tinggi. Begitu banyak peluang akuisisi di luar sana yang bisa digarap oleh korporasi-korporasi tersebut. Sayangnya kebanyakan dari mereka memilih cara aman dengan menimbun uang karena risiko penurunan gairah bisnis masih cukup besar. Sedikit banyak trauma krisis setengah dasawarsa silam masih membayangi sehingga investasi besar-besaran belum diperlukan. 

Patut diingat bahwa investor menginginkan timbal balik atas apa yang sudah mereka berikan saat ini, bisa berupa pembagian dividen, kabar akuisisi atau buyback saham. Sudah menjadi tanggung jawab perusahaan untuk membalas jasa publik dan pemerintah yang menjadi tulang punggung keberhasilan bisnis mereka. Apapun itu bentuknya, asalkan uang tidak hanya nganggur tak bertuan di dalam gudang.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar