Minggu, 24 September 2017

cfd  CFD

Keluarga Korban Tewas Sebut General Motors sebagai 'Pembunuh'

Rabu, 2 April 2014 15:24 WIB
Dibaca 861

Monexnews - Kecaman terhadap General Motors (GM) terus berdatangan seiring makin intensifnya penyelidikan terkait beredarnya mobil cacat produksi dalam satu dekade terakhir. Keluarga korban merasa belum ikhlas karena sampai sekarang belum ada satupun sosok di perusahaan otomotif itu yang diseret ke pengadilan.

Salah satu dari 13 korban jiwa yang meninggal akibat kesalahan teknis pada mobil GM adalah Sarah Trautwein. Pada tahun 2009 silam, Sarah kehilangan kontrol pada mobil Chevy Cobalt yang dikendarainya sehingga meninggal di tempat kejadian. Lima tahun setelah kecelakaan naas itu, ibu Sarah, Rene Trautwein mengutarakan perasaannya di beberapa saat jelang dengar pendapat di hadapan kongres Amerika Serikat. Dalam momen itu, Rene bersama 20 keluarga korban lainnya mengecam kelalaian GM dan meminta pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang terkait dengan kerusakan sistem switch. Masalah pada komponen switch ignition telah menyebabkan tenaga mobil mati mendadak dan fungsi airbag tidak berjalan semestinya. Kronologi inilah yang membuat 13 nyawa melayang selama satu dasawarsa terakhir.

"Sekarang saya masih sering membayangkan detik-detik jelang kematian anak saya, dan kepanikan yang ia rasakan kala itu," ujar Rene di hadapan wartawan. Di forum dengar pendapat, Rene juga baru menerima kepastian bahwa kematian anaknya terjadi akibat airbag tidak mengembang saat benturan terjadi. Efek berantai yang disebabkan oleh kerusakan switch tersebut juga dialami oleh 12 korban meninggal lainnya.

Pihak keluarga korban sendiri sudah bertemu langsung dengan CEO Mary Barra pada Senin malam di kantor GM. Mereka bertukar pendapat dan meminta pertanggungjawaban pihak perusahaan. Walaupun pihak GM sudah meminta maaf, keluarga dan kerabat 13 korban tewas menuntut petinggi perusahaan diseret ke pengadilan. "GM harus berhenti meminta maaf. Bagaimanapun pula mereka adalah pembunuh karena sudah menyembunyikan ini selama bertahun-tahun," imbuh Rene Trautwein.

Dengar Pendapat

Bos General Motors memang benar-benar menjadi sasaran tembak dalam dengar pendapat yang digelar kongres Amerika Serikat di Capitol Hill semalam. Di tengah cecaran kritik anggota legislatif, CEO Mary Barra menyatakan permintaan maaf atas kesalahan produksi yang mengakibatkan 13 orang meninggal dunia di jalanan.

Dalam pidatonya, Barra mengakui kalau perusahaannya membiarkan mobil cacat komponen beredar di Amerika sejak satu dasawarsa lalu. "Mulai hari ini, kami akan bekerja secara benar," janji sang CEO kepada anggota komite. Ia mengucapkan permohonan maaf kepada keluarga korban yang meninggal karena kecelakaan dalam beberapa tahun terakhir.

Pihak komite DPR Amerika tidak hanya menyalahkan GM atas skandal memalukan ini, namun mereka juga mencibir National Highway Traffic Safety Administration (NTSA) karena gagal mengawasi kualitas kendaraan yang dijual ke konsumen. "Kesalahan berada di pihak GM dan NTSA karena keduanya tidak mengambil tindakan apa-apa sejak dulu," kilah anggota dewan dari partai Republik, Tim Murphy. Sementara anggota partai Demokrat, Diana DeGette, mempertanyakan alasan mengapa GM tidak mau mengganti komponen yang cacat padahal biaya penggantian hanya sebesar 57 sen per mobil. DeGette mengkritik kebijakan perusahaan yang hanya mementingkan faktor uang ketimbang keselamatan penumpang. "Mereka terus menjual meski barangnya tidak memenuhi standar keamanan," tegasnya di forum.

Mary Barra ikut mengkritik kebijakan perusahaan sebelum ia masuk menduduki posisi CEO. Menurutnya, dahulu GM memang sangat mengutamakan pemangkasan biaya produksi tanpa mendahulukan kualitas produk. Fakta itu terlampir dalam laporan kinerja perseroan tahun 2005 yang diterima kongres. Oleh karena itu, ia bertekad mengubah budaya kerja GM di bawah asuhannya per 2014. "Kami tidak menjalankan bisnis dengan cara seperti itu lagi," tuturnya.

Pada pertengahan Maret lalu, kasus recall GM resmi masuk ranah hukum saat Jaksa penuntut umum wilayah Manhattan, New York menggelar penyelidikan terkait kasus cacat produksi pada mobil-mobil yang dijual di Amerika. Meskipun perusahaan otomotif terbesar Amerika itu telah melakukan recall unit, investigasi tetap berlaku karena 13 korban jiwa sudah melayang di jalan raya.

Penyidikan terfokus pada indikasi pembiaran cacat produksi sejak satu dasawarsa silam. GM sendiri telah melakukan recall mulai Februari untuk memperbaiki masalah dalam komponen switch, yang telah menyebabkan 31 kecelakaan parah dan kematian 13 pengendaranya dalam beberapa tahun terakhir. Kontroversi menyeruak karena dalam dokumen yang diterima oleh otoritas pengawas, para insinyur GM ditengarai sudah mengetahui kekurangan ini sejak 10 tahun silam. Oleh karena itulah, perusahaan terpaksa menarik lebih banyak kendaraan untuk disempurnakan kembali.

Sebagai wujud tanggung jawabnya, GM menawarkan berbagai fasilitas kepada konsumen yang dirugikan mulai dari peminjaman mobil pengganti secara gratis hingga pemberian uang kompensasi $500 kepada pemilik mobil baru selama kendaraan mereka di-servis di bengkel.

Pada 13 Februari lalu, perusahaan mengumumkan penarikan lebih dari 780,000 model Cobalt dan Pontiac G5 (keluaran 2005-2007). Kemudian dua pekan berselang, GM juga me-recall 842,000 unit Saturn Ion compact (2003-2007), dan Chevrolet HHR SUV serta Pontiac Solstice dan Saturn Sky sports car (2006-2007). Total mobil yang ditarik ke dealer mencapai hampir 7 juta unit di seluruh dunia pada tahun ini.

Sementara langkah antisipasi untuk menghindari kasus serupa juga diambil oleh Mary Barra. Ia menunjuk insinyur senior, Jeff Boyer, sebagai Vice President untuk bagian Keamanan Produk Global mulai bulan lalu. Pria yang sudah bekerja untuk perusahaan selama 40 tahun ini dipercaya untuk menduduki posisi yang baru saja dibentuk sebagai pemegang komando dalam aspek keamanan kendaraan. Untuk pertama kali dalam sejarah GM, pimpinan yang terkait dengan unsur safety mendapat posisi setara dengan vice president untuk divisi lainnya. "Rincian tanggung jawab Boyer akan segera diterjemahkan supaya masalah keamanan pada produk GM bisa dicarikan solusinya," ujar Mary Barra kepada awak media kemarin.

Jeff Boyer sendiri sebelumnya adalah direktur pelaksana untuk divisi engineering dan pengembangan sistem di General Motors. Pria berusia 58 tahun ini juga sempat kebagian tanggung jawab untuk mengurus proses sertifikasi performa dan keamanan produk. Namun ia relatif bersih dari skandal recall karena sewaktu masalah cacat produksi pertama kali diketemukan pada tahun 2004 silam, ia masih menduduki posisi di bagian purchasing.

Di hadapan kongres semalam, Mary Barra menyatakan siap memenuhi tanggung jawab moral dan hukum kepada keluarga korban meninggal. Namun ia masih akan menunggu putusan kongres dan pengadilan terkait skandal perusahaannya. Untuk mengurus proses hukum, GM menunjuk pengacara kenamaan Kenneth Feinberg, yang dikenal ahli mengurus masalah ganti rugi seperti dalam kasus 9/11 dan tumpahan minyak British Petroleum.

[Harga saham General Motors (NYSE:GM) ditutup pada posisi $34.34 atau melemah 0.23% pada sesi perdagangan Selasa (01/04)]

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar