Jumat, 20 Oktober 2017

cfd  CFD

Lagi, Media China Serang Perusahaan Luar Negeri

Senin, 17 Maret 2014 10:09 WIB
Dibaca 650

Monexnews - Tidak ada satupun perusahaan internasional yang kebal dari kritikan media-media di China. Setelah Apple dan Starbucks, kini produsen kamera kenamaan, Nikon, juga mengalami serangan dari lembaga penyiaran.

Akhir pekan lalu, stasiun televisi pemerintah China, CCTV, mengkritisi layanan buruk yang diberikan oleh Nikon. Perusahaan asal Jepang itu dianggap telah menjual kamera cacat produksi disertai layanan purna jual yang buruk. CCTV mengklaim kamera seri D600 menghasilkan kualitas gambar sangat rendah, dan Nikon tidak bersedia mengganti bagian yang cacat atau menggantinya dengan kamera baru.

Kritikan terhadap Nikon merupakan serangan media China pertama kepada perusahaan asal Jepang. Walaupun tujuannya adalah untuk melindungi konsumen, banyak pihak meyakini kalau kritik media didasari alasan lain yaitu ketegangan politik antara kedua negara terkait sengketa pulau di Laut China Timur. Kedekatan antara pemerintah Jepang dan blok barat juga ditengarai menjadi benih sentimen anti-Jepang di negeri tirai bambu.

Sejak pertengahan tahun lalu, perang antara media resmi pemerintah dan perusahaan multinasional semakin panas. Adapun perusahaan Asia lainnya yang dikecam habis-habisan sebelum Nikon adalah Samsung Electronics, pada Oktober 2013. Produsen elektronik asal Korea Selatan itu diberitakan memungut biaya dari perbaikan produk konsumen walaupun sesungguhnya servis dilakukan akibat cacat produksi. Produk ponsel Samsung Note dan seri S kerap mengalami kerusakan pada komponen kartu memori internalnya. Namun alih-alih memberikan garansi, Samsung justru memungut biaya dari klaim perbaikan yang diajukan oleh konsumen. Sementara di awal bulan yang sama, dua media BUMN pemerintah, yakni China Central Television (CCTV) dan China Daily, juga melaporkan bahwa Starbucks memberlakukan harga lebih tinggi untuk produk kopi dan turunannya di gerai-gerai yang berlokasi di China. Padahal di negara lain, termasuk Amerika, harga kopi Starbucks tidak semahal banderol yang berlaku di China. Isu 'pemerasan' konsumen tersebut sempat memperuncing friksi antara media pemerintah dan korporasi besar asal negeri Paman Sam. Di bulan Maret 2013, Apple dituding gagal memberikan layanan berkualitas kepada konsumen China terkait penggunaan komponen rekondisi dalam purna jualnya. Pihak Kementerian Informasi mengklaim pemberitaan media BUMN tersebut adalah wujud kontrol publik terhadap kinerja bisnis swasta. Melalui kritik transparan, pemerintah berharap hak-hak warga konsumen terpenuhi sebagaimana mestinya.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar