Senin, 24 Juli 2017

cfd  CFD

Layanan Buruk, UPS Dikritik Terlalu Kejar Untung

Senin, 30 Desember 2013 10:35 WIB
Dibaca 821

Monexnews - Perusahaan United Parcel Service atau UPS dipaksa menerima sumpah serapah dari konsumen yang menggunakan jasanya. Meski sudah berusaha keras memenuhi pengiriman secara tepat waktu, perusahaan ekspedisi ini gagal menunaikan tugasnya untuk melakukan layanan antar barang di hari natal kemarin.

Kegagalan UPS dalam pengiriman barang ke tangan konsumen secara tepat waktu mendapat pembelaan dan kritikan dari pengamat dan ahli logistik Amerika Serikat. Menurut James Stock, Profesor Bidang Marketing dan Logistik Universitas South Florida, menilai harapan pelanggan kepada UPS cukup berlebihan. Namun di sisi lain ia juga mengkritisi komitmen yang diberikan perusahaan itu, karena terlalu berani menaruh target tinggi di tengah booming-nya arus jual beli online. "Tidak masuk akal berharap kualitas layanan yang sama memuaskannya dengan periode pengiriman hari biasa. Mengingat infrastruktur dan sistem mereka dirancang untuk frekuensi pengiriman sepanjang tahun, bukan satu atau dua hari saja," ujar Stock kepada CNN.

Stock mengakui kalau biaya pengiriman dalam jumlah besar secara tepat waktu juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun di sisi lain, pihak UPS harus mau berinvestasi lebih dengan membeli atau menyewa truk angkut baru, pesawat udara dan jaringan perhubungan laut. Sementara pada periode natal tahun ini, UPS dilaporkan tidak menambah armada dalam jumlah signifikan dan hanya menerima order sebanyak mungkin untuk mengejar laba besar. 

Seperti diketahui, UPS sebelumnya menargetkan bisa mengirimkan 132 juta parsel sepanjang liburan akhir tahun ini. Namun target tersebut urung terpenuhi karena jumlah pesanan justru lebih banyak ketimbang apa yang diperkirakan. Perusahaan ekspedisi Amerika biasanya mampu melayani pengantaran hadiah untuk sampai selambatnya pada malam natal. Namun pada kenyataannya, banyak konsumen tidak bisa membuka kado natal pada hari-H karena UPS telat mengirimkannya sampai ke rumah.

"Kami menyayangkan apa yang terjadi tahun ini. Volume barang yang masuk lebih besar dibandingkan perkiraan kami," ujar juru bicara UPS, Natalie Black kepada Bloomberg pekan lalu. Perusahaan juga kesulitan mengantar barang karena cuaca musim dingin sangat tidak bersahabat.

Scott Abell, manajer perencanaan UPS, menghabiskan sepanjang tahun 2013 dengan membuat daftar barang apa saja yang harus mendapat prioritas pengiriman di musim natal. Bersama timnya, Abell bahkan harus berulangkali merevisi perencanaan di bulan November guna mengantisipasi pemesanan di detik-detik akhir pada situs jual beli online Amazon. Namun demikian, segalanya menjadi sia-sia karena UPS masih kewalahan menunaikan tugasnya secara tepat waktu. Sampai dengan hari ini, pihak perusahaan masih berusaha mengantar barang ke tangan konsumen untuk kado natal.

UPS biasanya sudah me mulai perencanaan operasional sejak bulan Januari setiap tahun. Namun dengan adanya masalah tahun ini, pihak direksi harus mencari cara baru untuk mengirimkan pesanan secara tepat waktu ke tangan konsumen untuk musim perayaan berikutnya. Apabila mereka masih kewalahan pada liburan akhir tahun depan, bukan tidak mungkin order proyek pengiriman dari retailer seperti Amazon jatuh ke perusahaan ekspedisi lainnya.


*Harga saham UPS (NYSE:UPS) ditutup pada posisi $104.72 atau menguat 0.05% pada sesi perdagangan Jumat (27/12)

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar