Selasa, 28 Maret 2017

breaking-news Indeks Kepercayaan Konsumen AS melonjak ke 125.6 di bulan Maret, melampaui estimasi 114.0

cfd  CFD

Lupakan Skandal Mesin Cuci, Samsung-LG Sepakat Damai

Selasa, 31 Maret 2015 15:28 WIB
Dibaca 597

Monexnews -  Samsung Electronics Co. and LG Electronics Inc. sepakat berdamai terkait kasus kampanye hitam saat digelarnya eksibisi elektronik di Jerman. Dalam pernyataan yang ditandatangani oleh pihak direksi perusahaan dan anak-anak usahanya, dua konglomerat asal Korea Selatan ini setuju untuk tidak saling serang lagi dan menyelesaikan masalah di luar pengadilan.

Kasus memalukan terjadi bulan September lalu antara dua perusahaan elektronik terbesar Korea Selatan, Samsung Electronics dan LG Electronics. Samsung menuduh pihak LG telah merusak beberapa mesin cuci yang mereka jual di toko-toko ritel yang berlokasi di Jerman. Tujuannya diduga untuk memperburuk reputasi Samsung, terutama di industri alat-alat rumah tangga, jelang pameran akbar yang digelar di negara itu.

Kemudian Samsung memutuskan untuk membawa kasus pengrusakan mesin cuci ke pengadilan. Tim penuntut umum bahkan sampai harus menggeruduk kantor pusat LG untuk mencari bukti-bukti dokumen, khususnya yang terkait dengan perintah pengrusakan. Tindakan aparat dilatarbelakangi permintaan Samsung yang diajukan kepada Kantor Jaksa Penuntut Kota Seoul, di mana Samsung mengklaim ada karyawan LG yang sengaja merusak beberapa mesin cuci mahal yang dipajang di dua toko di kota Berlin pada saat IFA Show September lalu. Kepala Divisi Produk Rumah Tangga LG, Jo Seong-jin dicekal ke luar negeri jelang Consumer electronics Show tanggal 6-9 Januari 2015. Persaingan antara kedua perusahaan memang meruncing selama tahun lalu khususnya jelang pameran-pameran elektronik akbar di berbagai negara.

Baik Samsung dan LG merupakan rival di industri elektronik, khususnya untuk peralatan rumah tangga seperti televisi, lemari es dan smartphone. Rivalitas menjadi tidak sehat karena keduanya sering berseteru di pengadilan memperebutkan hak paten suatu produk maupun kampanye hitam. Walaupun dua perusahaan sudah berdamai untuk kasus mesin cuci yang memalukan ini, tidak ada jaminan perseteruan berakhir begitu saja.

Warga Korea sendiri menilai perang antara dua perusahaan kebanggaan negeri ginseng itu sesungguhnya tidak perlu. Dalam berbagai kolom komentar di media, kebanyakan pembaca menganggap kasus 'mesin cuci' tidak perlu dibawa ke pengadilan. Masyarakat ikut mengkritik budaya pebisnis Korea yang selalu ingin menjatuhkan musuhnya karena memperlihatkan mental saling menjatuhkan antara pelaku bisnis satu negara. (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar