Selasa, 17 Oktober 2017

cfd  CFD

Manchester United: No Trophy, No Money!

Rabu, 23 April 2014 12:35 WIB
Dibaca 710

Monexnews - Olahraga kini bukan hanya merupakan refleksi perilaku sosial budaya masyarakat dunia, namun ber-transformasi menjadi lahan bisnis dan investasi. Dinamika yang terjadi di dalam sebuah intitusi olahraga tidak lagi ditentukan oleh baik buruk penampilan di arena laga, tetapi juga ditentukan oleh kalkulasi bisnis yang terukur. Seperti apa yang terjadi antara klub sepakbola Manchester United dan (mantan) pelatihnya, David Moyes, dalam beberapa jam terakhir.

Manchester United (MU) kemarin resmi memecat pelatihnya, David Moyes, karena kinerjanya dianggap kurang memuaskan. Baru 10 bulan mengasuh di klub paling sukses se-Inggris Raya itu, Moyes dipaksa angkat kaki pasca menelan kekalahan 2-0 dari klub yang pernah dilatihnya, Everton. Banyak pihak mempertanyakan mengapa manajemen tidak bersabar sampai tahun depan sebelum mendepak orang Skotlandia ini. Tidak sedikit pula yang menganggap pemecatan di akhir musim jauh lebih bermartabat ketimbang melakukannya di saat MU masih mengantongi tiga pertandingan sisa dan mengejar peringkat untuk masuk ke kompetisi Eropa.

Dari aspek olahraga, David Moyes jelas 'bersalah' karena timnya memang bermain buruk sepanjang musim bahkan ketika melawan klub papan bawah sekalipun. Namun pemecatan kemarin lebih pantas dipandang sebagai titik habisnya kesabaran jajaran direksi dan sang pemilik klub, yang tentu lebih mementingkan prospek bisnis MU ketimbang raihan trofi. Sang owner, keluarga Glazer dari Amerika, memang dinasti spesialis penggarap bisnis olahraga. Tentu akan sangat naif apabila fans MU berharap mereka mau mengutamakan prestasi klub ketimbang memikirkan jumlah laba yang bisa diraup setiap tahunnya.


Di bawah kendali David Moyes, MU hanya mampu menduduki posisi 7 sampai dengan pertandingan ke-35. Artinya, 'Setan Merah' tidak akan lolos ke Liga Champions Eropa (UCL) pada musim mendatang, dan bukan tidak mungkin pula mereka gagal ikut ambil bagian di kompetisi kelas dua benua biru, Liga Eropa atau European League. Kalau di mata pemain sepakbola UCL merupakan kompetisi prestisius, maka tidak demikian bagi pemilik klub dan pemegang saham. Untuk mereka, Liga Champions adalah ajang bagi perusahaan untuk meraup pemasukan sebanyak-banyaknya dari penjualan tiket, hak siar televisi, hadiah per pertandingan, sponsorship hingga merchandise resmi. Fans MU akan sangat terpukul melihat klub kesayangannya gagal main di kasta tertinggi, dan pemegang saham akan meratapi kecilnya pemasukan yang akan diterima perusahaan mulai musim depan. Wajar jika dosa David Moyes tidak termaafkan, dan uang pesangon 5 juta Poundsterling atau setara Rp98 miliar seakan terasa murah dibandingkan harus melihat dirinya menjalani kontrak hingga 6 tahun ke depan.

Satu hal yang pasti, MU akan kehilangan penghasilan $50 juta hanya dari hak siar televisi untuk pertandingan Liga Champions. Potensi hilangnya pemasukan lain dari keikutsertaan di UCL belum bisa diukur karena nilai sponsorship dan harga tiket sangat relatif dari tahun ke tahun. Lebih dari itu, kegagalan untuk tampil dalam satu ajang piala antarklub Eropa akan membuat sponsor lari ke klub lain. Seharusnya, produsen apparel Nike sudah memperbarui masa kerjasama dengan MU karena kontrak antara kedua pihak segera jatuh tempo. Namun dengan mempertimbangkan buruknya performa klub dalam hampir setahun belakangan, bisa jadi Nike menarik diri dan lebih memilih untuk menggunakan anggaran promosinya dengan cara lain. Padahal bagi MU, suntikan uang dari Nike merupakan sumber penghasilan terbesar setelah pemasukan dari penjualan hak siar televisi dan tiket pertandingan.

Ironisnya, keluarga Glazer juga tidak bisa menjamin penonton mau hadir ke pertandingan musim depan apabila MU benar-benar lolos ke kompetisi kelas dua, European League. Fans MU tidak terbiasa melihat klub kesayangannya bermain di kompetisi sekunder melawan klub-klub Eropa lain dengan reputasi medioker. Atas dasar itulah Glazer memberikan diskon tiket 25% bagi suporter untuk pertandingan kandang European League 2014/2015. Strategi pemangkasan harga karcis diharapkan mampu memperbaiki prospek pendapatan satu tahun ke depan, selain tentunya dengan mendepak Moyes dari kursi kepelatihan.

Untungnya, pihak manajemen MU sudah mengamankan kontrak sponsor dengan General Motors (GM) berdurasi 7 tahun dengan nilai kesepakatan 27 juta Poundsterling per tahun atau lebih tinggi dibandingkan dengan nilai kontraknya dengan sponsor utama saat ini, AON, yang 'hanya' senilai 20 juta Poundsterling. Mulai musim 2014/2015, logo perusahaan mobil terbesar asal Amerika itu akan mengisi bagian depan kostum utama MU, menggantikan AON yang kontraknya sudah kadaluarsa.

Dua tahun terakhir merupakan masa-masa yang berat bagi pemegang saham MU. Belum genap 12 bulan sejak menggelar IPO di Bursa New York, saham MU sudah mendapat cobaan pasca kepergian pelatih Sir Alex Ferguson akhir musim kemarin. Padahal nama besar 'Sir Alex' menjadi komoditi jualan Glazer saat melepas sahamnya ke bursa pada tahun 2012 lalu. Sosok 72 tahun yang juga berasal dari Skotlandia ini sudah melatih jawar Inggris sejak 6 November 1986 dan sukses mengoleksi puluhan gelar bergengsi termasuk 13 kali juara liga, dua gelar Liga Champions, 5 FA Cup dan empat League Cup. Belum ditambah dengan puluhan piala minor dari berbagai kompetisi, baik yang sifatnya resmi maupun hanya ajang eksibisi. Atas prestasinya itu, ia dianugerahi gelar Sir oleh kerajaan Inggris sekaligus memegang jabatan ganda di klubnya, yakni sebagai Direktur dan Duta Besar. Ya, Sir Alex adalah jaminan kejayaan. Kejayaan yang selama dua dekade terakhir selalu mendatangkan pundi-pundi uang.

Kini tanpa figur sentral seperti Sir Alex, kemampuan MU untuk meraih prestasi layak dipertanyakan. Terlebih lagi, keluarga Glazer bukanlah orang yang mengerti sepakbola dan mampu menyorongkan nama pelatih baru yang setidaknya mampu membawa klub meraih piala-piala bergengsi. Jajaran direksi, termasuk Sir Alez sendiri, harus benar-benar cermat dalam melakukan seleksi pelatih anyar. Karena sebagai bagian dari suatu industri, torehan gelar juara klub sepakbola menentukan prospek laba yang akan didapatnya dalam beberapa tahun ke depan.

[Pada sesi perdagangan pertama sejak David Moyes dipecat (22/04), harga saham MANCHESTER UNITED (NYSE:MANU) ditutup menguat nyaris 6% ke posisi $18.78.]

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar