Rabu, 29 Maret 2017

cfd  CFD

Operator Mulai Enggan Simpan Stok Blackberry di Toko

Kamis, 26 September 2013 10:03 WIB
Dibaca 565

Monexnews - Masa depan Blackberry di industri smartphone dunia masih belum jelas. Wacana go private dan penjualan bisnis perusahaan kepada investor juga terlihat buram. Berkaca pada kenyataan tersebut, pihak operator ponsel mulai berani mengambil sikap terkait pemasaran produk ponsel asal Kanada ini. Walaupun masih bersedia menyalurkan unit handset kepada konsumen, sudah ada vendor yang menyatakan enggan untuk menyimpan stok ponsel Blackberry di gudangnya.

Operator T-Mobile pada hari Kamis (26/09) mengumumkan rencana untuk tidak menyimpan stok unit Blackberry di toko distribusinya. Namun salah satu provider terbesar se-Eropa ini memastikan untuk tetap melayani permintaan handset Blackberry secara online dan pre-order. "T-Mobile akan tetap mendukung penjualan Blackberry," urai perwakilan T-Mobile kepada situs teknologi AllThingsD. Channel distribusi di gerai T-Mobile bergantung pada pengiriman langsung dari pihak produsen dan tidak berlaku penyimpanan stok di gudang toko. Konsumen masih akan melihat ponsel Blackberry di etalase namun barangnya sendiri belum tentu tersedia di toko T-Mobile. Calon pembeli kemungkinan hanya bisa melakukan pemesanan melalui toko distributor terdekat.

Kebijakan yang diambil oleh T-Mobile merupakan efek dari ketidakpastian masa depan bisnis Blackberry. Buruknya penjualan produk-produk berbasis Blackberry 10 dan wacana penjualan perusahaan kepada pihak lain juga turun memicu keengganan operator untuk memasarkan produk smartphone Kanada itu secara gila-gilaan.

Sikap berbeda diutarakan oleh operator lainnya, yaitu Verizon Mobile dan AT&T. Walaupun turut pesimis dengan prospek penjualan model terbaru Blackberry di akhir tahun, keduanya belum ingin cepat-cepat memutus kerjasama dengan pihak produsen. "AT&T tetap akan melayani pembelian model unit Z30 di toko-toko kami," tegas juru bicara AT&T, Mark Siegel. Sementara dalam akun Twitter-nya, Verizon menegaskan hal serupa terkait distribusi produk Blackberry. Seperti diketahui, penjualan smartphone di Amerika dan Eropa dikoordinasi oleh pihak operator melalui sistem kontrak pasca bayar. Mekanisme ini memungkinkan kedua pihak meraup keuntungan simbiotik dibandingkan melepas produk ke distributor atau importir. Konsumen yang tidak ingin membeli paket bundling juga dapat memiliki ponsel incarannya via distributor non-operator, namun harganya dipastikan lebih mahal ketimbang memakai sistem kontrak. 

Pada sesi perdagangan hari Rabu (25/09) saham Blackberry merosot lebih dari 6% pasca berita ketidakpastian akuisisi oleh Fairfax. Harga saham anjlok sampai $8.01 per unit dengan kisaran harian tertinggi di $8.42.

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar