Senin, 25 September 2017

cfd  CFD

Pekan Ini, Publik Tunggu Hasil Investigasi General Motors

Senin, 2 Juni 2014 11:23 WIB
Dibaca 630

Monexnews - Pekan ini akan menjadi momen krusial bagi salah satu perusahaan otomotif terbesar Amerika Serikat, General Motors (GM). Pasalnya mantan jaksa federal, Anton Valukas, dijadwalkan memaparkan hasil temuannya soal skandal recall paling memalukan di negara itu.

Sejak bulan Februari 2014, saat isu penjualan mobil cacat produksi terkuak, pihak GM sama sekali belum menyodorkan nama-nama yang harus bertanggungjawab atas tewasnya 13 orang di jalan raya. Perusahaan tersebut juga belum memecat seorangpun karyawannya dan terkesan menutupi biang kerok di balik kasus recall. Dua orang karyawan biasa yang diklaim terlibat dalam pembuatan switch pada produk GM dikabarkan cuti panjang, sementara dua pejabat senior yang berperan dalam kinerja operasional kala itu juga sudah pensiun. CEO Mary Barra kebingungan mencari orang yang bertanggungjawab atas skandal ini mengingat dirinya juga baru mengisi kursi CEO di bulan Januari lalu.

GM kemudian menyewa firma hukum Jenner & Block untuk memimpin investigasi internal. Bos Jenner & Block, Anton Valukas, dijadwalkan memaparkan hasil temuannya pekan ini untuk menjawab keingintahuan publik. Hasil investigasinya diharapkan mampu memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi di lini produksi GM dalam beberapa tahun terakhir.

Adapun pertanyaan yang akan dijawab oleh Valukas antara lain tentang alasan mengapa insinyur-insinyur GM tidak mau mengganti bagian switch starter yang rusak pada Chevrolet Cobalt dan mobil-mobil yang sudah ketahuan cacat sejak awal. Investigasinya diharapkan mampu menghasilkan nama orang yang seharusnya bertanggungjawab atas kebijakan itu. Valukas juga meminta keterangan beberapa orang untuk mengetahui latar belakang penundaan recall selama bertahun-tahun. Beberapa pertanyaan lain diharapkan bisa terjawab dalam dokumen penyelidikan Jenner & Block, seperti soal hasil rapat antara GM dan otoritas NHTSA pada tahun 2007, kasus cacat airbag pada Chevrolet Cobalt tahun 2005 dan penolakan GM untuk memberikan laporan masalah teknis kepada pemerintah pada tahun 2010 silam.

Pangkal Masalah Isu Recall GM

Jaksa penuntut umum wilayah Manhattan, New York pada bulan Maret lalu resmi menggelar penyelidikan terkait kasus cacat produksi mobil-mobil produksi General Motors. Meskipun perusahaan otomotif terbesar Amerika itu telah melakukan recall unit, investigasi tetap berlaku karena 13 korban jiwa sudah melayang di jalan raya.

Penyidikan terfokus pada indikasi pembiaran cacat produksi sejak satu dasawarsa silam. Bagian switch ignition yang bekerja tidak sempurna konon sudah diketahui oleh tim insinyur sejak lama, namun tidak ada perbaikan sama sekali. Cacat fungsional itu juga berlaku untuk model seperti Chevrolet Cobalt, Pontiac G5 serta Saturn Sky dan Ion.

Di awal bulan April, CEO Mary Barra dipanggil oleh DPR untuk menjelaskan kasus recall di hadapan publik dan keluarga 13 korban meninggal. Di tengah cecaran kritik anggota legislatif, CEO Mary Barra hanya bisa menyatakan permintaan maaf atas kesalahan produksi namun tidak dapat menerangkan apa yang sebenarnya terjadi di tubuh perusahaannya.

Dalam pidatonya, Barra mengakui kalau perusahaannya membiarkan mobil cacat komponen beredar di Amerika sejak satu dasawarsa lalu. Namun komite perlindungan konsumen DPR Amerika tidak hanya menyalahkan GM atas skandal memalukan ini, namun mereka juga mencibir National Highway Traffic Safety Administration (NTSA), yang dianggap gagal mengawasi kualitas kendaraan yang dijual ke konsumen. "Kesalahan berada di pihak GM dan NTSA karena keduanya tidak mengambil tindakan apa-apa sejak dulu," kilah anggota dewan dari partai Republik, Tim Murphy kala itu. Sementara anggota partai Demokrat, Diana DeGette, mempertanyakan alasan mengapa GM tidak mau mengganti komponen yang cacat padahal biaya penggantian hanya sebesar 57 sen per mobil. DeGette mengkritik kebijakan perusahaan yang hanya mementingkan faktor uang ketimbang keselamatan penumpang. "Mereka terus menjual meski barangnya tidak memenuhi standar keamanan," tegasnya di forum.

Opini publik sendiri terbelah dalam menyikapi skandal recall perusahaan otomotif terbesar Amerika itu. Menurut pantauan Monexnews terhadap beberapa media, sebagian besar warga memberikan komentar pembelaan untuk Mary Barra, karena ia bukanlah orang yang mengatur operasional GM dalam satu dasawarsa terakhir. Ia baru saja menjabat posisi CEO per bulan Januari lalu dan sudah diwariskan budaya bisnis yang 'bobrok' dari pendahulunya. Sementara ada juga warga yang menganggap ia tetap harus bertanggungjawab karena skandal tersebut muncul di bawah periode kepemimpinannya.

[Harga saham General Motors (NYSE:GM) ditutup pada posisi $34.58 atau menguat 0.38% pada sesi perdagangan Jumat (30/05)]

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar