Kamis, 27 Juli 2017

cfd  CFD

Pfizer Masih Punya Harapan untuk Tuntaskan Mega-merjer

Selasa, 6 Mei 2014 15:11 WIB
Dibaca 471

Monexnews - Meskipun sudah ditolak sebanyak dua kali dalam upayanya menjalin merjer dengan AstraZeneca, Pfizer diyakini mampu menuntaskan deal tidak lama lagi. Produsen obat asal Amerika ini mempunyai waktu untuk menaikkan tawaran pembelian saham.

Rencana Pfizer untuk mengambilalih bisnis perusahaan farmasi Inggris, AstraZeneca, sejauh ini masih menemui jalan buntu. Tawaran hari Jumat lalu sebesar 50 Poundsterling per saham dengan total transaksi mencapai 63 miliar Poundsterling atau setara $106.43 miliar gagal merebut hati pemegang saham. Padahal jika kedua pihak sepakat, takeover itu akan menjadi nilai akuisisi termahal dalam sejarah perseroan di Inggris.

Pun demikian, bukan berarti harapan produsen Viagra untuk berinvestasi di Inggris benar-benar tertutup. Menurut Kepala Pengelolaan Saham Farmasi Aegis Capital, Raghuram Selvaraju, Pfizer mempunyai modal kuat untuk menyelesaikan merjer. "Pfizer dikenal sangat agresif dalam mengejar agenda bisnisnya," ujar Selvaraju kepada CNBC. Ia menilai peluang Pfizer masih terjaga karena mereka memiliki dana untuk menaikkan tawaran dan merebut simpati pemegang saham. Sulit bagi perusahaan lain untuk datang dengan tawaran yang lebih baik dan reputasi yang lebih mumpuni. Sehingga jika dilihat dari sisi bisnis, Pfizer tidak memiliki saingan dalam rencana akuisisi AstraZeneca.

Pfizer diyakini akan segera menyodorkan angka penawaran baru kepada AstraZeneca karena ada kepentingan yang lebih besar ketimbang soal nilai transaksi. Sudah rahasia umum kalau perusahaan Amerika ini sedang berusaha menghindari pungutan pajak yang terlalu besar (sekitar 27%) di negara asalnya. Dengan memiliki unit usaha AstraZeneca, Pfizer dapat membagi pendapatan bisnisnya di bawah aturan pajak Inggris yang hanya sekitar 10%. Pemegang saham kemungkinan juga tidak akan keberatan karena kolaborasi kedua raksasa obat ini akan menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit. "Di Amerika, Pfizer kena pajak tinggi. Sedangkan di Inggris, mereka hanya membayar 10% dari nilai laba produk yang dibuat di sana," tambah Selvaraju.

Terlepas dari alotnya penawaran dalam rencana takeover, pemerintah menaruh perhatian besar kepada dua pihak yang terlibat. Perdana Menteri Cameron sampai harus berbicara langsung dengan Chairman AstraZeneca, Leif Johansson, guna membahas untung rugi dari penjualan perusahaan obat terbesar nasional itu. Sementara di tempat terpisah, Menteri Keuangan George Osbourne bertemu dengan CEO Pfizer, Ian Read, untuk mengetahui visi bisnisnya terhadap AstraZeneca. Read bahkan menyempatkan diri untuk menulis surat kepada pemerintah pusat yang berisi tentang visi dan rencananya untuk memajukan perusahaan. Berbagai komitmen ia utarakan dalam surat tersebut, termasuk memastikan kalau minimal 20% pegawai divisi riset dan pengembangan tetap akan dipekerjakan di Inggris.

[Harga saham Pfizer ditutup pada posisi $29.96 atau melemah 2.57% pada sesi perdagangan hari Senin (05/05).]

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar