Kamis, 19 Oktober 2017

cfd  CFD

Produsen Otomotif Nikmati Momentum Pelemahan Yen

Jumat, 25 Oktober 2013 16:42 WIB
Dibaca 561

Monexnews - Trend pelemahan mata uang Yen terhadap Dollar diyakini terus berlanjut sampai tahun depan. Kebijakan ekstra longgar dari pemerintah Tokyo memungkinkan nilai tukar domestik untuk terkoreksi lebih dalam lagi.

Pemerintah Shinzo Abe sedang giat menggalakkan program stimulus moneter untuk menggenjot perekonomian. Tidak hanya itu, otoritas fiskal dan moneter juga segera menaikkan pajak konsumen dan di saat yang sama menurunkan pungutan pajak dari perusahaan. Langkah ini diambil untuk menekan beban biaya korporasi serta meningkatkan daya tarik investasi di negeri sakura. Kombinasi kebijakan bank sentral dan pemerintah juga dipastikan mendukung pelemahan kurs lebih lanjut sehingga pengusaha produk ekspor bisa menikmati keuntungan lebih optimal.

Ahli Strategi Mata Uang Bank of Singapore, Sim Moh Siong, meramalkan kurs Yen turun ke 102 hingga 105 per Dollar dalam enam bulan ke depan. Di Jepang sendiri, prospek belanja modal cukup positif dan machinery orders naik signifikan. Hasil survei kepercayaan bisnis Tankan juga mendukung trend pemulihan negara ini. Estimasi pertumbuhan ekonomi di tahun 2014 terus meningkat walaupun pemerintah diperkirakan segera menaikkan pajak konsumsi tahun depan. Bank Sentral Jepang sudah berkomitmen untuk mengambil langkah antisipasi seandainya pajak konsumsi justru memperlambat aktivitas ekonomi.

Sektor mana yang paling diuntungkan oleh trend penurunan kurs? Produsen otomotif menjadi pihak yang selalu paling senang ketika Yen terpuruk. Terdapat beberapa faktor yang membuat mereka diuntungkan yaitu: pertama, pendapatan dari pasar luar negeri mereka akan lebih besar saat dikonversi ke dalam bentuk Yen. Dari setiap 1% pelemahan Yen terhadap mata uang lain, produsen otomotif Jepang di-estimasikan mendapat tambahan laba operasional sebesar 2.5 untuk tahun fiskal (final) 2013. Ke-dua, daya saing produk mereka akan lebih baik sehingga turut menjadi katalis kenaikan volume dan profit ekspor dari sisi permintaan konsumen.

Meskipun angka penjualan di wilayah Amerika Serikat dan Jepang menurun, tingkat penurunannya mampu diimbangi oleh minat beli konsumen di wilayah Asia Tenggara. Pertumbuhan angka penjualan mobil di ASEAN bahkan naik di atas 100% dibandingkan tahun lalu sehingga marjin keuntungan tetap terjaga. Rasio penjualan terbanyak mobil Jepang masih dipegang oleh area Amerika Utara dengan persentase mencapai 33%. Jepang menyusul di posisi berikutnya dengan angka 31% dan Eropa berkontribusi 10% terhadap total sales otomotif Jepang. Sedangkan 27% penjualan berasal dari wilayah lain termasuk Asia, yang memiliki populasi konsumen sangat besar.

Produsen besar seperti Honda Motors, Nissan, Mazda dan Toyota giat melancarkan strategi untuk menggenjot penjualan di emerging markets. Di tengah penurunan kurs Yen, perusahaan-perusahaan tersebut tidak ingin ketinggalan momentum untuk melaba. Di Indonesia misalnya, kampanye mobil murah yang diinisiasi oleh pemerintah diprediksi mampu mengerek pemasukan dalam jumlah besar. Produk city car dan mobil hemat energi merupakan magnet bagi konsumen, terutama karena mahalnya biaya bahan bakar.

Menurut lembaga keuangan Nomura, Toyota Motor dan Mazda Motor kemungkinan akan merevisi naik target laba full-year pada saat pengumuman laba untuk periode kuartal Juli-September di akhir Oktober atau awal November. Revisi ini merupakan efek dari pelemahan Yen dan pertumbuhan angka penjualan di AS dan Jepang, yang di luar dugaan. Pengumuman revisi akan menaikkan sentimen terhadap saham-saham otomotif Jepang di tahun 2014. 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar