Senin, 27 Maret 2017

cfd  CFD

Qualcomm Takut Bisnis di China Terganggu Isu Politik

Senin, 25 November 2013 13:05 WIB
Dibaca 692

Monexnews - Di tengah pesatnya arus permintaan produk gadget, perusahaan chip komputer asal Amerika Serikat meraup laba besar dari seluruh dunia. Akan tetapi fenomena tersebut bisa jadi tidak bertahan lama akibat dinamika politik antar negara yang kian memanas.

Chief Executive perusahaan chip Qualcomm Inc mengkritik adanya perseteruan politik antara Amerika Serikat dan China di penghujung 2013. Menurutnya, bisnis perusahaan di China bisa terganggu oleh sentimen nasional kedua negara. Terdapat dua isu sentral yang rawan mengurangi prospek usaha Qualcomm di negara perekonomian terbesar Asia itu, yakni kasus penyadapan NSA dan larangan penjualan produk bagi supplier Huawei Technologies di wilayah Amerika.

"Jelas sekali ada suatu tekanan dalam roda bisnis Qualcomm karena isu-isu tersebut," ujar Paul Jacobs, CEO perseroan, kepada Wall Street Journal. Ia meyakini kalau semua perusahaan Amerika terbebani oleh hubungan buruk antara Washington dan nyaris semua negara di dunia pasca terkuaknya penyadapan oleh NSA. Namun demikian, Jacobs melihat efeknya belum bisa dilihat saat ini juga. "Kami harus lebih hati-hati dalam segala hal, baik ketika menjual barang maupun berinteraksi dengan kolega dan konsumen China," tambah Jacobs.

Wajar jika Qualcomm was-was terhadap dampak negatif dari dinamika politik terkini. Pasalnya perusahaan itu menjalin kerjasama dengan beberapa pabrik dan supplier lokal China dalam proses produksi chipset-nya. Chip buatan Qualcomm sendiri banyak digunakan oleh produsen-produsen tablet PC dan ponsel cerdas sebagai komponen utama. Pada akhir tahun fiskal yang berakhir 29 September lalu, Qualcomm sukses mengeruk pemasukan $1 miliar dari penjualan di wilayah China.

Paul Jacobs juga mengutarakan kecemasannya seraya mengambil contoh dari penurunan omset perusahaan teknologi lain asal Amerika. Pada 14 November lalu, Cisco Systems melaporkan penurunan jumlah pesanan barang dari China sebanyak 18%, sekaligus memprediksi berkurangnya pemasukan internasional sekitar 8% di kuartal yang sedang berjalan. Sebagian besar penurunan tersebut diperkirakan berasal dari kelesuan minat beli konsumen China.

Sentimen antar negara memang kerap mempengaruhi belanja konsumen khususnya di wilayah Asia. Kasus penurunan laba serupa pernah dialami perusahaan otomotif asal Jepang beberapa waktu lalu di tengah meningkatnya eskalasi politik antara negara itu dan pemerintah China. Konsumen China langsung menjauhi produk-produk buatan Jepang sebagai refleksi atas kekecewaan terhadap negara tetangganya itu.

Bos Qualcomm berharap kondisi seperti ini segera usai dan perusahaan bisa kembali bekerja tanpa takut dengan isu-isu non-bisnis. "China adalah pasar potensial khususnya di masa pertumbuhan teknologi LTE, yang erat kaitannya dengan keunggulan produk kami," tutup Jacobs.


*Harga saham Qualcomm (NASDAQ:QCOM) ditutup pada posisi $72.96 atau naik 1.7% hari Jumat lalu (22/11).

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar