Kamis, 25 Mei 2017

cfd  CFD

Saham Twitter Makin Terpuruk di Awal Tahun

Jumat, 10 Januari 2014 14:16 WIB
Dibaca 549

Monexnews - Kinerja buruk saham Twitter di penghujung tahun lalu kembali berlanjut di 2014. Buruknya rekomendasi yang diberikan oleh lembaga-lembaga investasi membuat pemodal melakukan aksi jual secara besar-besaran.

Harga saham perusahaan media sosial asal Amerika tersebut sempat terpantau anjlok sampai 9% pada suatu sesi tahun ini. Kemudian pada sesi perdagangan Kamis (09/01), Twitter terkoreksi sampai 4%. Aksi jual masif terjadi pasca lembaga keuangan Cantor Fitzgerald menempelkan status 'jual' dan Morgan Stanley memberikan predikat 'underweight' awal pekan ini.

Pada minggu terakhir tahun lalu, beberapa perusahaan Amerika Serikat berinisiatif memangkas rekomendasi 'beli' dan 'hold' pada saham Twitter. Di antaranya termasuk perusahaan internasional yakni lembaga sekuritas Wunderlich, yang tanpa ragu menegaskan proyeksi 'jual' untuk Twitter. "Kami memang melihat potensi pertumbuhan laba dari iklan ponsel dan televisi, namun parameter penilaiannya menjadi tidak relevan karena kenaikan harga saham lebih disebabkan oleh ekspektasi investor," demikian ulas Wunderlich Securities dalam keterangannya kala itu. Pelaku pasar kadung menganggap Twitter sebagai generasi baru di industri media sosial dan mengabaikan prospek fundamentalnya. Wunderlich sendiri mengaku telah menjual sebanyak 17.8 juta saham Twitter sejak 29 November.

Pasca debut impresifnya bulan lalu, harga saham Twitter diragukan mampu meningkat lebih tinggi. Hal yang lebih mengenaskan, pihak underwriter-nya sendiri bahkan mulai skeptis terhadap earnings perusahaan media sosial terlaris dunia itu. Pemberian rating negatif oleh Morgan Stanley kemarin menunjukkan suatu indikasi serius betapa harga Twitter sudah terkerek kelewat tinggi. Penilaian itu kian memperkuat asumsi mayoritas pelaku pasar yang sudah dilontarkan sebelumnya. Analis Merrill Lynch, Justin Post, akhir 2013 sempat menyebut saham Twitter tidak memiliki valuasi menarik seraya melabelkan Twitter sebagai saham 'underperform'. Di Wall Street, rating tersebut setara dengan rekomendasi 'sell' yang biasa dilontarkan oleh analis-analis saham.

Seperti diketahui, debut mengesankan dicatat oleh Twitter di lantai bursa New York pada hari Kamis, 7 November 2013. Saham media sosial paling populer di dunia mengakhiri sesi pertama dengan kenaikan harga mencapai 73% dari banderol awalnya sekaligus menandai besarnya apresiasi pelaku pasar terhadap prospek bisnis sebuah perusahaan media sosial. Sebagian analis menilai 'burung biru' sudah terbang terlalu tinggi karena secara aspek fundamentalnya belum mencerminkan kapitalisasi pasar yang mancapai $24.4 miliar atau Rp270,5 triliun. Twitter memang mampu mencetak angka penjualan $317 juta pada tahun 2012, akan tetapi masih merugi sebanyak $79.4 juta. Sedangkan untuk 9 bulan pertama tahun ini, penghasilan Twitter menembus angka $422 juta, namun lagi-lagi tingkat kerugiannya ikut membengkak jadi $134 juta. Singkat kata, selama tiga tahun belakangan perusahaan media sosial ini belum mampu melaba sama sekali.

- Harga saham Twitter (NYSE:TWTR) melemah sekitar 4% pada sesi perdagangan Kamis (09/01) ke posisi $57.05.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar