Sabtu, 25 Maret 2017

cfd  CFD

Starbucks Melaba dari Peralihan Budaya China

Senin, 29 Juli 2013 10:22 WIB
Dibaca 671

Tidak terhitung berapa jumlah perusahaan kelas dunia yang sukses meraup laba dari operasional di wilayah Asia Pasifik. Sebagian besar emiten di Wall Street bahkan sudah membuktikan manisnya tawaran keuntungan dari area dengan populasi konsumen mencapai miliaran jiwa, khususnya di China.

Monexnews - Starbucks adalah perusahaan yang baru saja menikmati keberhasilan ekspansi di negeri tirai bambu. Dalam laporan keuangan kuartal II, produsen kopi mentah dan siap saji ini mencatat kenaikan laba 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year). Kontribusi terbesar bagi kocek perusahaan sudah bisa diterka, yakni berasal dari konsumen asal China.

"Angka penjualan kami membuktikan bahwa konsep kopi Starbucks mampu berbuah kesuksesan di negara dengan tradisi minum teh yang kental," ujar RJ Hootovy, Direktur Riset Konsumen di Morningstar Inc. Solidnya pertumbuhan laba Starbucks berasal dari pembukaan 500 gerai baru di China sejak tahun lalu, dan pihak perseroan bahkan berencana untuk menambahnya lagi. Apabila tidak ada aral melintang, gerai ke-1000 sudah bisa dikunjungi oleh konsumen sebelum akhir tahun ini. Selain Beijing dan Shanghai, Starbucks bertekad memperluas jaringan ke wilayah antah berantah atau kota-kota yang tidak terlalu terkenal. Dengan demikian pada tahun 2014 nanti, China akan melewati Kanada dalam hal pangsa pasar terbesar Starbucks setelah Amerika Serikat (AS).

Dalam lima tahun terakhir, penjualan ritel 'putri duyung' di China melonjak 10%, sekaligus mematahkan rekor penjualan di Hong Kong, Jepang dan lebih tinggi dibanding rata-rata penjualan global yang hanya 3% (data: Euromonitor International). Strategi marketingnya pun tetap sama yakni dengan memfokuskan layanan pada produk makanan minuman utama seraya menawarkan variasi produk lokal. "Demografi yang mereka incar adalah kaum muda dan komunitas grup," tambah Hottovy. Tingginya antusiasme warga terhadap produk luar negeri menjadi senjata ampuh untuk memperkenalkan trend kopi cepat saji. Seakan tidak mau dibilang ketinggalan zaman, muda mudi dan kaum pekerja China rela membeli apapun yang bisa meningkatkan status sosial dan prestis pribadi. 

Starbucks kali pertama membuka tokonya di Taipei pada tahun 1998, disusul dengan peresmian cabang baru di Beijing sekitar setahun kemudian. Sejak saat itu, angka penjualan kopi terus 'menggila' berkat kebijakan suportif dari pemerintah pusat yang dahulu dikenal kolot. Pada tahun 2012, satu orang di China rata-rata mengkonsumsi sekitar 2 cangkir kopi per tahun atau jauh di bawah rata-rata konsumsi penduduk dunia yang mencapai 134 per tahun. Fakta itu tidak mengejutkan karena sampai sejauh ini kopi hanya kebagian 1% dari total pasar minuman panas di China. Sedangkan teh masih menjadi minuman paling digemari dengan rasio pasar mencapai 54%. Atas dasar itulah banyak perusahaan kopi lain asal Amerika berniat memperluas jaringan gerainya di China. Mereka ingin ambil bagian dalam perubahan budaya masyarakat Asia, yang sekarang membuka diri terhadap pengaruh barat. Harga saham Starbucks ditutup pada level $73.36 atau naik 7.61% di sesi perdagangan Jumat lalu (26/07).

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar