Senin, 18 Desember 2017

cfd  CFD

Tidak Kunjung IPO, Alibaba Cari Tanggal Cantik?

Senin, 30 Juni 2014 14:22 WIB
Dibaca 666

Monexnews -  Raksasa jual beli online asal China, Alibaba, telah menuntaskan segala prosedur untuk menggelar initial public offering (IPO) di awal tahun ini. Dokumen proposal sudah dikirimkan kepada Securites Exchange Comission (SEC) Amerika Serikat lebih dari sebulan lalu dan perusahaan sepertinya sudah mantap untuk meraup modal segar dari penjualan sahamnya kepada investor di Wall Street.

Namun sambutan positif investor terhadap kedatangan Alibaba seakan diabaikan oleh perusahaan bisnis internet tersebut. Pasalnya, sampai sekarang pihak direksi belum juga menentukan tanggal IPO meski otoritas sudah memberi lampu hijau. Berbagai spekulasi mulai merebak terkait penundaan jadwal penerbitan saham perdana Alibaba. Ada yang percaya kalau pendirinya, Jack Ma, sedang mencari tanggal cantik untuk dijadikan waktu debut yang pas. Meski terkesan penuh klenik, hal ini bisa dimengerti karena di China faktor kepercayaan memegang peranan besar dalam kehidupan bisnis. Pertimbangan numerologi, kosmologi hingga feng shui bukan hanya berlaku untuk peristiwa sakral seperti pernikahan, kematian maupun sewa-menyewa hunian. Namun faktor keyakinan seperti ini juga masih relevan dijadikan acuan bisnis mulai dari untuk mencari mitra kerja, lokasi kantor sampai desain brosur. Maka tidak heran kalau penundaan IPO Alibaba menimbulkan banyak spekulasi khususnya menyangkut tanggal IPO.

"Kalau Alibaba punya tanggal cantik sendiri, sebaiknya mereka memanfaatkannya," ujar Joseph Bosco, Profesor Rekanan Jurusan Antropologi, Chinese University of Hong Kong. Menurutnya, investor asal Hong Kong memang masih memegang keyakinan seperti ini termasuk dalam hal investasi. Sementara seorang pembaca almanak keberuntungan di Temple Street, New York menyebut 14 dan 15 Agustus sebagai 'tanggal hoki' di tahun 2014. "Sedangkan tanggal 8 Agustus kurang begitu bagus, meski jika dibaca cukup cantik (08-08)," kata fortune-teller bernama Mary Li tersebut. Sampai sekarang, pihak Alibaba sendiri belum memberikan komentar terkait isu klenik yang merebak di kalangan pelaku pasar.  

Banyak pihak percaya kalau penerbitan saham perdana oleh spesialis jual beli online ini akan melampaui rekor kapitalisasi emiten teknologi senilai $16 miliar yang dicatat oleh Facebook pasca IPO-nya tahun 2012 lalu. Bukan tidak mungkin perputaran modal Alibaba juga mampu menyamai rekor IPO Visa yang mencapai $17.9 miliar. Perusahaan underwriter yang dipilih untuk mengurus IPO juga bukam main-main, mereka adalah Credit Suisse, Deutsche Bank, Goldman Sachs, J.P. Morgan, Morgan Stanley dan Citigroup.

Dalam dokumen pendaftaran IPO yang dikirimkan kepada Securities Exchange Commission, Alibaba mengklaim telah mempunyai 231 juta pengguna aktif atau naik 44% dibandingkan satu tahun sebelumnya. Sementara untuk periode 9 bulan sampai dengan Desember lalu, perusahaan ini menghasilkan laba $2.9 miliar dari total pemasukan yang mencapai $6.5 miliar.

Kepastian IPO Alibaba didapat pertengahan bulan Maret 2014 saat pihak direksi memilih bursa saham Amerika Serikat sebagai pelabuhan IPO-nya tahun ini. Meskipun tidak terlalu memiliki nama di Amerika Serikat, Alibaba otimis mampu menggalang dana segar di atas $16 miliar dari IPO-nya nanti. Jumlah modal yang ditargetkan dari kocek investor tersebut kurang lebih sama dengan nilai IPO Facebook ($16 miliar).

Setelah berbulan-bulan melakukan negosiasi dengan otoritas bursa Hong Kong serta operator bursa NYSE dan Nasdaq, Alibaba akhirnya memutuskan untuk memilih New York sebagai lokasi penerbitan saham perdana. Sejak pertengahan tahun lalu, pihak direksi sebenarnya lebih menyukai bursa Hong Kong namun rencana IPO di sana terbentur tata aturan yang berlaku. Alibaba terpaksa mengurungkan niatnya untuk melantai di Hong Kong karena skema organisasi bisnisnya tidak sejalan dengan prasyarat emiten bursa. Dalam sebuah tulisan di blog bulan Oktober 2013, co-founder sekaligus Executive Chairman Alibaba menyatakan bahwa wacana IPO di bursa saham terbesar ke-dua Asia sudah tertutup. Perusahaan kemudian mengalihkan perhatian ke bursa saham Amerika Serikat dengan cara berkonsultasi dengan NYSE dan Nasdaq, seraya tetap menjalin komunikasi dengan otoritas bursa Hong Kong dengan harapan pihak pengawas mau memodifikasi aturan. Tidak lama berselang, NYSE dan Nasdaq kemudian memberitahukan pihak Alibaba bahwa karakteristik kepemilikan usahanya tidak menyalahi aturan di bursa Amerika sehingga perusahaan dengan nilai aset mencapai 60 miliar itu dipersilakan untuk memilih operator mana yang dianggap paling sesuai.

Adapun perihal yang bertentangan dengan aturan bursa Hong Kong yakni terkait dengan struktur kepemilikan Alibaba yang kurang lazim. Di dalam struktur itu, para pendiri perusahaan memiliki akses untuk mengambil kebijakan strategis demi kesinambungan bisnis dan berwenang menentukan arah perusahaan tanpa pengaruh dari fluktuasi pasar modal secara keseluruhan. Dengan menentukan kebijakan secara mandiri, Alibaba meyakini bahwa kepentingan konsumen dan pemegang saham lebih terjaga. Pihak pengawas Hong Kong menolak garis kebijakan Alibaba, yang memperbolehkan pendiri Jack Ma dan 27 eksekutif lainnya menentukan komposisi dewan direksi meskipun mereka hanya menguasai sekitar 10% dari total saham perseroan. Poin itulah yang tidak sejalan dengan prasyarat emiten bursa Hong Kong.

 (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar