Kamis, 14 Desember 2017

cfd  CFD

Tiga Aplikasi Chat Asia Ancam Dominasi Facebook dan Google

Jumat, 2 Agustus 2013 11:01 WIB
Dibaca 688

Monexnews - Perusahaan-perusahaan teknologi dengan layanan berbasis telekomunikasi asal Amerika Serikat harus waspada. Kini persaingan di pasar 'chat' dunia bukan jadi domain negara-negara barat lagi namun sudah menjadi arena pertarungan developer-developer lokal.

Pasar aplikasi chat untuk perangkat mobile dan tablet PC memang sangat potensial. Setelah era Blackberry pudar, sekarang menjamur aplikasi-aplikasi lintas OS yang menawarkan banyak kemudahan. Selain layanan chat real time, kirim gambar dan emotikon, beberapa aplikasi berani menawarkan layanan telepon tanpa pulsa dan saling kirim video. Kalau membahas soal traffic komunikasi via chat-apps, maka pangsa pasar yang paling potensial tentu adalah Asia Tenggara. Dengan populasi mencapai 600 juta jiwa, wilayah ini merupakan ladang bagi perusahaan pengembang aplikasi untuk meraup laba. Atas dasar itulah banyak pengembang baru bergerilya memasarkan layanannya dengan gelontoran modal besar. Mulai dari belanja iklan di televisi nasional sampai memakai jasa ikon terkenal.

Pemain-pemain baru seperti KakaoTalk, Line dan WeChat merupakan kuda hitam yang bisa mengancam prospek bisnis aplikasi dan sosial media semacam Facebook, Google dan Blackberry. Selain menggelontorkan jutaan Dollar untuk berpromosi dan menyewa jasa selebriti, pengembang aplikasi Asia tidak henti melakukan inovasi khususnya dalam memperkaya tampilan. Dari sekian banyak aplikasi chat yang tersedia di pasar, hanya Kakao, Line dan WeChat yang paling diterima oleh masyarakat Asia Tenggara. Popularitas ketiganya kini bahkan sudah mengalahkan aplikasi lain yang lebih senior seperti WhatsApp, Live Profile dan Viber.

Geliat pihak pengembang Asia di pasar pesan mobile dimulai pada tahun 2010 saat KakaoTalk resmi beroperasi. Namun dua tahun kemudian dominasi Kakao disalip oleh Line, yang sukses menarik simpati 200 juta pengguna mobile. Ekspansi user terbilang fenomenal karena dalam sejarahnya perusahaan seperti Facebook dan Twitter saja harus menghabiskan waktu 5 tahun untuk menjaring pengguna sebanyak itu. Industri bisnis chat lintas OS memang sangat maju sejak berbagai varian smartphone bisa didapat dengan harga terjangkau. Kalau dulu komunikasi pengguna hanya terbatas via Facebook, Yahoo Messenger dan Google Chat, sekarang semua kemudahan yang bisa didapat pada tiga layanan itu sudah bisa diakses via chat-apps buatan Asia.

KakaoTalk merupakan produk asli Korea Selatan yang benar-benar diuntungkan oleh demam K-Pop di penjuru Asia. Dengan merangkul artis dan boyband sebagai duta, Kakao sukses menarik pengguna dari kalangan muda. Sementara Line juga adalah produk NHH Korea meskipun kini operasionalnya terpusat di Jepang. Perusahaan ini menarik artis-artis lokal untuk mengisi spot iklan mereka di berbagai negara. Strategi yang sama diterapkan oleh WeChat, yang gemar memakai jasa selebriti lokal di negara yang mereka bidik konsumennya. Kiprah ketiga pengembang patut menjadi perhatian pemain-pemain lama di industri komunikasi lintas OS seperti Facebook dan Google. Terlebih lagi pasar Asia Tenggara tergolong potensial, di mana sebanyak 44 juta unit ponsel pintar dibeli konsumen setiap tahunnya (data 2012) dengan rasio kenaikan tahun lalu mencapai 60%.

*Harga saham Google (GOOG) semalam ditutup pada level $904.22 atau naik 1.86% dan Facebook (FB) ditutup menguat 1.87% ke $37.49.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar