Rabu, 29 Maret 2017

cfd  CFD

Twitter Dianggap Terbang Kelewat Tinggi

Selasa, 12 November 2013 11:11 WIB
Dibaca 375

Monexnews - Debut impresif dicatat oleh Twitter di lantai bursa New York pada hari Kamis, 7 November 2013. Saham media sosial paling populer di dunia mengakhiri sesi pertamanya dengan kenaikan harga mencapai 73% dari banderol awalnya sekaligus menandai besarnya apresiasi pelaku pasar terhadap prospek bisnis sebuah perusahaan media sosial.

Terlepas dari tingginya lonjakan harga di sesi-sesi awal perdagangan, beberapa analis menilai 'burung biru' sudah terbang terlalu tinggi karena secara aspek fundamentalnya belum mencerminkan kapitalisasi pasar yang mancapai $24.4 miliar atau Rp270,5 triliun. "Angka itu terlampau tinggi untuk ukuran perusahaan yang masih merugi," tutur Brian Hamilton, Chairman lembaga analisa saham, Sageworks. Terlebih lagi, menurut Hamilton pertumbuhan rasio penjualan justru sedang menurun. Twitter memang mampu mencetak angka penjualan $317 juta pada tahun 2012, akan tetapi masih merugi sebanyak $79.4 juta. Sedangkan untuk 9 bulan pertama tahun ini, penghasilan Twitter menembus angka $422 juta, namun lagi-lagi tingkat kerugiannya ikut membengkak jadi $134 juta. Singkat kata, selama tiga tahun belakangan perusahaan media sosial ini belum mampu melaba sama sekali.

Kekhawatiran serupa diutarakan oleh Analis Senior Pivotal Research Group, Brian Wieser. Hanya satu jam setelah saham Twitter ditransaksikan di NYSE, Wieser memangkas outlook rating emiten pendatang baru itu dari 'beli' menjadi 'jual'. "Twitter jelas terlalu mahal jika diperdagangkan di atas $30," tegas Wieser di hari pertama penjualan. Level tersebut adalah target harga yang sebelumnya ia rekomendasikan kepada para klien. Pada level penutupan IPO di kisaran $45, Wieser menilai pelaku pasar sudah berlebihan mengerek harga karena kinerja perusahaan belum sebagus emiten lain yang lebih mapan seperti CBS, Discovery Communications dan Yahoo. Level $45 hanya bisa relevan jika Twitter mampu mengunci penjualan lebih dari $6 milar per tahun sampai 2018 nanti. Namun sekali lagi, target itu juga terbilang sesumbar karena di sembilan bulan pertama 2013 saja perusahaan hanya bisa mencetak sales $422 juta.

Pandangan lebih sinis diungkap oleh Peter Ganry, Kepala Analis Saham Saxo Bank, yang menyebut kalau kinerja saham Twitter tidak masuk akal. "Valuasinya tidak sesuai dengan perhitungan logis manusia," urai Ganry dalam rilis penelitiannya kepada nasabah. Ia memperingatkan investor risiko penurunan harga secara drastis apabila perusahaan itu gagal memenuhi ekspektasi tinggi dalam laporan keuangannya dalam beberapa kuartal ke depan. Harga saham Twitter ditutup pada posisi $42.90 hari Senin (11/11) atau menguat 3% dari level pembukaan.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar