Rabu, 29 Maret 2017

cfd  CFD

Whatsapp: Kami Tidak Bisa Memata-matai Anda

Rabu, 19 Maret 2014 15:00 WIB
Dibaca 737

Monexnews - Sejak tahun lalu, muncul spekulasi yang menyebut bahwa perusahaan teknologi dan media sosial terlibat dalam aksi mata-mata pemerintah. Berita tersebut sempat membuat 'risih' pengguna data internet karena melibatkan banyak perusahaan besar, termasuk Facebook.

Kepercayaan pengguna internet kepada media sosial memang semakin menurun karena mereka takut kalau aktivitasnya di dunia maya diawasi oleh pemerintah. Sikap antipati dan kecaman sempat terlontar kepada banyak perusahaan seperti Apple dan Facebook karena bocoran dokumen yang beredar menyebut perusahaan-perusahaan ini menjadi bagian dari program konspirasi pemerintah.

Sentimen serupa juga dialami oleh Whatsapp, penyedia layanan pesan singkat yang baru saj dibeli oleh Facebook. Menyikapi ketakutan penggunanya, pendiri Whatsapp, Jan Koum mengatakan kalau pihaknya sangat menjaga informasi yang diberikan oleh setiap pengguna pada saat registrasi. Miliarder baru ini juga menyebut aplikasi buatannya tidak akan bisa menggali informasi karena hanya meminta pengguna untuk memasukkan nomor telepon pada proses aktivasi. Whatsapp tidak membutuhkan alamat email dan bahkan nama pengguna, sehingga tidak ada informasi rinci yang bisa dibagi kepada pemilik barunya, Facebook.

"Whatsapp tidak pernah meminta informasi profil anda seperti tanggal ulang tahun, alamat rumah dan histori pencarian anda di internet," ujar Jan Koum dalam blog perusahaan. Melalui keterangan itu, ia ingin meluruskan informasi yang beredar terkait akusisi perusahaannya oleh Facebook. Pria berdarah Eropa Timur ini juga menegaskan kerjasama dengan Facebook tidak akan mengubah nilai bisnis yang selama ini ia pegang teguh. Proses pembelian murni bersifat bisnis dan tidak ada campur tangan Mark Zuckerberg dalam hal kebijakan apapun. "Kalau akuisisi ini harus memaksa kami untuk mengubah nilai-nilai bisnis, maka kami tidak akan pernah menyetujuinya," imbuh Koum.

Pelaku bisnis dan investasi bulan lalu dikejutkan oleh kabar salah satu akuisisi terbesar dalam sejarah teknologi Amerika Serikat. Angka $19 miliar atau lebih dari $222 triliun digelontorkan oleh Facebook untuk mengambil alih kepemilikan penyedia layanan pesan singkat, Whatsapp. Menurut data yang beredar di media, Whatsapp memiliki pengguna aktif sebanyak lebih dari 450 juta orang di seluruh dunia, dan terus bertambah setiap harinya. Mereka dikenal sangat aktif, sebagaimana terlihat dari total pengiriman foto yang mencapai 600 juta setiap 24 jam atau lebih banyak dibandingkan jumlah pengunggahan foto di Facebook sendiri. Bahkan jika diperbandingkan dari sisi pengguna aktif, Facebook juga kalah dari Whatsapp karena total pelanggannya yang online per hari hanya sekitar 62% atau lebih sedikit jika disejajarkan dengan pengguna aktif Whatsapp yang mencapai 70% dari total konsumennya. Sebanyak 19 juta pesan Whatsapp bertebaran di seluruh dunia tiap hari, termasuk 200 juta pesan suara dan 100 juta video. Impresif!

Sejak didirikan pada tahun 2009 silam, Whatsapp memang langsung disukai oleh publik karena mampu menjembatani keperluan komunikasi antar platform, tidak seperti BBM yang dahulu hanya bisa dipakai oleh sesama pengguna Blackberry. Walau dianggap sebagai komponen sektor teknologi anak bawang, aplikasi chat justru mampu menarik lebih banyak konsumen dibandingkan layanan media sosial. Dalam periode empat tahun terakhir, Facebook hanya mampu menyerap 145 juta pengguna, Gmail menguasai 123 juta pengguna email dan Twitter cuma berhasil merangkul 54 juta tweeps. Adapun anak usaha Microsoft, yaitu Skype, juga masih berjuang mempertahankan kesetiaan 52 juta konsumennya. Bahkan jika jumlah pengguna keempat media sosial dan email tersebut digabungkan, angkanya tidak akan mengimbangi angka pengguna Whatsapp secara global.

Pembelian Whatsapp merupakan aksi korporasi Facebook yang paling meyita perhatian publik setelah IPO. Pada tahun 2012 lalu, Facebook juga sempat menuntaskan salah satu akuisisi paling monumental dalam sejarah teknologi Amerika dengan membeli aplikasi photo-sharing, Instagram. Sama seperti sekarang, kala itu mahar pembelian senilai $1 miliar dianggap berlebihan karena Instagram bukanlah perusahaan yang diperhitungkan. Jika dikalkulasi berdasarkan jumlah pengguna Instagram pada saat itu, yang baru sebanyak 33 juta orang, maka Facebook harus merogoh kocek $30 untuk 'membeli' satu orang pengguna. Sedangkan kini untuk Whatsapp, jumlah dana yang harus dikeluarkan oleh Mark Zuckerberg jauh lebih besar karena satu orang penggunanya 'dihargai' dengan nominal $42.

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar