Jumat, 20 Oktober 2017

commodity  Commodity

Arab Saudi Pangkas Suplai, Harga Minyak Melambung

Jumat, 24 Oktober 2014 2:52 WIB
Dibaca 902

Monexnews - Harga minyak naik pada hari Kamis menyusul berita bahwa Arab Saudi memangkas suplainya untuk pasar di bulan September, meski secara keseluruhan tingkat produksinya meningkat dari bulan ke bulan, dan seiring data ekonomi yang kuat dari Eropa dan China. Harga minyak berhasil ditutup di atas level $82 per barel. Produsen terbesar OPEC, Arab Saudi, memproduksi 9.7 juta barel minyak per hari di bulan Agustus, menurut salah satu sumber industri pada hari Kamis. Namun jumlah suplai dari Arab Saudi untuk pasar domestik dan ekspor turun menjadi 9.36 juta barel, dari sekitar 9.69 juta barel di bulan Agustus. Minyak yang tidak dipasok ke dalam pasar disimpan di gudang penyimpanan. 

"Menurutku ini adalah reaksi awal," ucap Christopher Bellew, broker pada Jefferies di London. "Arab Saudi tidak memangkas outputnya secara keseluruhan." Sebelumnya Arab Saudi telah mensinyalkan bahwa pihaknya nyaman dengan penurunan tajam pada harga minyak dan bersedia untuk mempertahankan level suplai yang tinggi untuk berkompetisi mendapatkan bagian pasar. Di sisi lain, suplai minyak mentah AS bertambah sebanyak 7.1 juta barel pekan lalu menjadi 377.68 juta barel, lebih dari 2 kali lipat estimasi analis untuk kenaikan sebanyak 2.7 juta barel, menurut data dari Energy Information Administration.
Data ekonomi juga turut menopang harga minyak. Aktivitas industri di zona euro bertumbuh jauh lebih cepat dari estimasi analis pada bulan Oktober, ditunjukkan oleh indeks PMI yang berada pada angka 52.5 pada hari Kamis. Laju pertumbuhan sektor industri di China juga mencapai level tinggi 3 bulan di bulan Oktober, dengan PMI sektor manufaktur HSBC/Markit naik menjadi 50.4 dari 50.2 di bulan September. Namun secara keseluruhan laju pertumbuhan pada negara importir minyak terbesar dunia tersebut berada pada laju paling lambat sejak krisis keuangan global di tahun 2009 silam, dan beresiko gagal mencapai target pertumbuhan dari pemerintah untuk pertama kalinya dalam 15 tahun.
Carsten Fritsch, analis minyak pada Commerzbank di Frankfurt, mengatkaan rebound naik pada harga minyak mungkin hanya akan berlangsung sementara dan pasar akan kembali melanjutkan trend turun akibat kelebihan suplai. Organization of the Petroleum Exporting Countries masih belum membeirkan sinyal jelas bahwa pihaknya akan memangkas output pada pertemuan tanggal 27 November nanti, menambah kecemasan atas kelebihan suplai minyak pada pasar. "Menurutku OPEC tidak akan memangkas output," ucap Fritsch. "Negara anggota OPEC mencemaskan bahwa hanya dengan pemangkasan output tidak dapat mendorong harga naik, dan malah hanya membuka ruang bagi suplai minyak dari negara non-OPEC." Gubernur OPEC Libya, Samir Kamal pada hari Rabu mengatakan bahwa OPEC harus memangkasn output minyak setidaknya sebanyak 500,000 barel per hari untuk mencegah kelebihan suplai sekitar 1 juta barel per hari. Namun Libya hanya satu-satunya dari 4 negara Afrika yang merupakan anggota OPEC yang mengusulkan pemangkasan output.

(xiang)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar