Senin, 23 Januari 2017

commodity  Commodity

Masalah Syria akan Menahan Minyak di Level Tinggi

Selasa, 27 Agustus 2013 10:16 WIB
Dibaca 782

Monexnews - Eskalasi konflik di Timur Tengah berdampak besar terhadap prospek permintaan minynak mentah. Setelah kisruh Mesir, ketegangan di Syria turut memberikan efek kenaikan pada grafik harga.

Konflik Syria berpotensi menyebar ke wilayah sekitarnya, terutama negara-negara dengan cadangan produksi minyak berlimpah. Jika hal ini benar terjadi, maka suplai energi benar-benar terancam. Menurut Tim Analis Barclays, indikasi penyebaran konflik mulai terlihat dalam beberapa pekan terakhir. "Kondisi keamanan di Irak, yang merupakan produsen terbesar ke-dua dunia, mulai terganggu oleh instabilitas politik Syria," demikian ulas Barclays dalam laporannya. Lebih lanjut, dukungan negara Iran terhadap pemerintahan Assad di Syria rawan memperburuk kesepahaman antara Teheran dan negara-negara barat seperti Amerika Serikat. Jika dukungan Iran kepada pemerintah berkuasa Syria sampai mengganggu hubungannya dengan sekutu barat, maka distribusi sekitar 1.5 juta barel minyak per hari terancam berhenti.

Konflik Syria sejauh ini sudah menaikkan tensi perdebatan di wilayah Timur Tengah. Apabila aksi kekerasan di beberapa negara tidak juga berujung, tidak tertutup kemungkinan suplai minyak ikut terhenti dalam kurun waktu tertentu. Skenario terburuk adalah menularnya sentimen suni dan syaih negara produsen seperti Kuwait dan Arab Saudi. Konflik Syria memuncak tepat di saat tingkat permintaan minyak meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi negara maju. Alasan itulah yang diyakini bisa semakin memacu kenaikan harga di sisa tahun 2013. Kontrak minyak mentah berjangka sekarang terpantau pada posisi $106.43 per barel.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar