Jumat, 26 Mei 2017

breaking-news Klaim Pengangguran AS naik ke 234K pekan lalu,sebelumnya 232K, perkiraan 238K

commodity  Commodity

Minyak Tergelincir Di Tengah Meredanya Kecemasan Atas Suplai

Selasa, 1 Juli 2014 5:48 WIB
Dibaca 604

Monexnews -

Minyak berjangka melemah untuk sesi ketiga beruntun pada hari Senin atas meningkatnya kepercayaan bahwa kekacauan di Irak tidak akan mengganggu ekspor minyak dari negara tersebut.

Pertempuran yang sengit di wilayah utara Irak hanya berdampak sedikit pada kilang di wilayah selatan yang memprokduksi sekitar 90% dari pengiriman minyak Irak.

Minyak Brent masih naik sekitar 3% pada bulan ini, itu merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak Agustus. Namun minyak turun dari level tertinggi 9 bulan di $115.71 yang di capai pada dua pekan lalu.

“Ketakutan telah mereda seiring kemungkinan pertempuran di Irak yang dapat melukai suplai minyak mereda,” kata Crasten Fritsch, seorang analis minyak dan komoditas di Commerzbank di Frankfurt. “Saat ini tampak sangat tidak mungkin bahwa para pemberontak akan mencapai area pasokan minyak utama.”

Minyak AS berakhir dengan turun 37 sen, atau 0.4%, di $105.37 per barel di Nymex. Minyak Brent di bursa berjangka ICE tergelincir 94 sen, atau 0.8%, menjadi di $112.36 per barel.

Pada hari Jumat, Menteri luar negeri AS John Kerry dan Raja Saudi Arabia Abdullah membahas tentang pasokan minyak global selama pertemuan mereka tentang krisis di Irak, kata pejabat AS.

Selama pembicaraan, yang mengacu pada pernyataan Kerry pada komentar terbaru dari pejabat perminyakan Saudi mengatakan bahwa mereka yang merupakan produsen minyak terbesar di dunia akan meningkatkan pasokan jika ada gangguan karena krisis di Irak atau Suriah.

Pembukaan kembali pelabuhan di Libya dan meredanya ketegangan atas krisis Ukraina juga turut melemahkan harga minyak.

Meskipun kekerasan di Irak masih berlangsung, para analis mengatakan bahwa faktor ketakutan akan menahan harga minyak di atas $105 per barel  untuk minyak WTI dan $110 untuk Brent dalam waktu dekat.

“Minyak akan mendapatkan dukungan selama masih ada masalah di Irak dan Russia,” kata Carl Larry, CEO konsultan di Oil Outlooks di Houston, Texas.

(fsyl)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar