Jumat, 26 Mei 2017

commodity  Commodity

Minyak WTI Berakhir Rendah Di Tengah Aksi Profit Taking

Sabtu, 26 April 2014 3:03 WIB
Dibaca 721

Monexnews -

Minyak berjangka abaikan serangkaian ancaman dan tuntutan dari negara Barat terhadap Rusia atas krisis Ukraina, tergelincir menjelang akhir pekan atas aksi ambil untung dan pasokan yang melonjak di Amerika Utara.

Cadangan minyak mentah AS mencapai rekor tertinginya seperti yang di laporkan oleh pemerintah pada hari Rabu yang mana itu telah membebani kontrak berjangka minyak AS, yang kurang rentan terhadap resiko geopolitik dan ketakutan pada melemahnya pasokan minyak di Eropa.

Minyak Brent melemah lebih dari 1 dollar per barel pada satu titik, kemudian mengurangi beberapa kerugiannya untuk di perdagangkan melemah 70 sen untuk di tutup dekat $110. Kontrak masih berada di jalur untuk penguatan mingguan ketiga dalam kenaikan terpanjang sejak September. Sementara itu minyak AS merosot sebanyak $1.34 untuk settle di $100.60.

Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris, semuanya indikasikan bahwa mereka akan mengupayakan sanksi lebih lanjut terhadap Rusia setelah para separatis di Ukraina memegang kendali di beberapa kota dan pada hari Jumat menahan sebuah bus yang membawa para pengamat internasional.

Sementara itu di sisi lain, Rusia memperingatkan Kiev bahwa mereka akan di adili untuk “kejahatan berdarah” di timur Ukraina, dimana pasukan pemerintah membunuh lima separatis, dan Jerman mengatakan bahwa kekerasan yang di lakukan oleh tentara Ukraina dan “nasinonalis radikal bersenjata” harus di hentikan.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang merupakan salah satu sekutu terdekat Rusia dari Eropa, mengatakan bahwa dia melihat tidak ada dukungan dari perjanjian damai yang di sepakati minggu lalu dari Moskow dan jadinya harus di pertimbangkan untuk lebih banyak sanksi, ini sebuah pandangan yang kemudian di katakan ulang oleh Inggris.

Di pasar AS yang memiliki gambaran permintaan yang bearish, dengan cadangan minyak di negara tersebut yang naik ke level tertinggi pada rekornya seiring produksi minyak terus melonjak dan tidak memiliki ppengaliran dari luar negeri melalui ekspor, yang di larang kembali tekan harga minyak. Berita dari Libya mendukung harga Brent, dengan laporan bahwa pelabuhan minyak mungkin akan di tutup dengan waktu yang lebih lama dari yang di perkirakan.  

(fsyl)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar