Selasa, 17 Januari 2017

commodity Commodity

Minyak WTI Melemah, Terseret Penurunan Harga Brent

Selasa, 3 Maret 2015 4:03 WIB
Dibaca 786

Monexnews - Minyak West Texas Intermediate berjangka diperdagangkan lebih rendah pada hari Senin untuk tergelincir kembali ke bawah $50/barel pada penutupan perdagangan, namun selisih harga masih lebih kecil dengan Brent seiring minyak patokan Eropa tersebut juga terpuruk.

Para trader memperhitungkan kenaikan dalam aktivitas manufaktur bulanan dan pemangkasan suku bunga yang mengejutkan dari China serta serangkaian laporan ekonomi AS dan berita meningkatnya output minyak dari Libya pada pergerakan harga minyak hari Senin.

Di New York Mercantile Exchange, minyak berjangka pengiriman April turun sebesar 17 sen, atau 0.3% untuk settle di $49.59 per barel. Harga minyak pada hari Senin sebagian besar bergerak di atas level $50, namun melemah pada setengah jam perdagangan sebelum berakhir karena kerugian dalam minyak Brent begitu intensif.

Harga minyak Brent April di bursa London ICE Futures turun $3.04, atau 4.9%, untuk settle di $59.54 per barel.

Penguatan dalam harga minyak Brent telah melampaui WTI pada bulan lalu, dengan Brent menguat 18% dibandingkan dengan minyak AS yang menguat 3.2%, ditekan oleh level cadangan yang berada di rekor tertinggi.

Perbedaan harga antara dia jenis minyak mentah tersebut melebar pada hari Jumat ke level terbesar sejak Januari 2014. Meskipun baik minyak Brent dan WTI keduanya berakhir melemah pada hari Senin, selisihnya masih menyempit untuk hanya di bawah $10.

Tim Evans dari Citi Futures mengatakan bahwa selisih perdagangan minyak Brent dan WTI telah membuat minyak WTI menguat meskipun nadanya masih lemah di pasar internasional. Minyak WTI pada hari Senin menyentuh level tertinggi di $51.04.

Minyak Brent terlihat dapatkan beberapa tekanan dibalik laporan bahwa produksi minyak Libya naik, ucap para analis.

Penurunan diantara produk minyak pada hari Senin lebih mungkin karena unit kilang AS kembali berjalan, ucap Evans yang dilansir oleh MarketWatch.

Di China, bank sentral di negara konsumen energi terbesar kedua di dunia tersebut menurunkan suku bunga pada akhir pekan dan dua indeks aktivitas manufaktur menunjukkan penguatan untuk bulan Februari.

Richard Hastings dari Global Hunter Securities mengungkapkan bahwa secara keseluruhan sinyal dari China sedikit bearish dan menunjukkan bahwa mereka berjuang untuk mempertahankan pertumbuhan industri, yang mana itu sinyal tidak langsung untuk minyak.

Dia perkirakan suplai minyak AS masih akan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang, dan harga minyak AS kemungkinan masih kembali berada di dalam tekanan pada pekan depan.

Hasting menambahkan bahwa laporan ISM manufaktir tidak terlalu menggembirakan dan menunjukkan lemahnya pertumbuhan dalam jangka pendek.

(fsyl)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar