Sabtu, 21 Oktober 2017

commodity  Commodity

OPEC Akan Memenangkan Perang Harga Minyak

Rabu, 3 Juni 2015 10:20 WIB
Dibaca 4211

Monexnews - Seiring menteri-menteri OPEC akan menggelar pertemuan di Vienna pekan ini, mereka akan mendebatkan apakah strategi mereka untuk mempertahankan bagian pasar minyak telah bekerja. Terakhir kali Organization of Petroleum Exporting Countries bertemu di bulan November tahun lalu, OPEC mengejutkan pasar dengan mempertahankan tingkat produksi bukan memangkasnya. Harga minyak anjlok ke level terendah dalam 6 tahun saat itu. OPEC mengatakan bahwa pihaknya ingin mengembalikan ekuilibirium pasar dengan harga yang stabil. Hal tersebut berarti membanjiri pasar dengan suplai hingga harga minyak turun ke level yang memagkas produsen dengan biaya tinggi memangkas produksi, dan akhirnya mendorong harga kembali naik. Saat ini grup dengan 12 negara anggota tersebut, yang mengendalikan sekitar 40% dari suplai minyak dunia, harus memutuskan apakah mereka akan mengubah jalur mereka atau mempertahankan targetnya. 

Mulai dari Kanada hingga Qatar dan Laut Barrent hingga Teluk Meksiko, perusahaan-perusahaan energi memangkas atau menunda sejumlah proyeknya erkait penurunan tajam harga minyak mentah. Sejumlah perusahaan eksplorasi minyak terbesar di dunia telah memangkas anggaran modal sebanyak seperti semenjak tahun lalu. Di AS, jumlah rigs pengeboran minyak anjlok sebanyak 60% sejak bulan Oktober menuju level terendah dalam hampir selama 5 tahun. Produksi minyak jenis shale di AS mulai berkurang di bulan Mei dan pemerintah memperkrirakan penurunan tersebut akan berlanut. Investor juga turut membebani perusahaan pengeboran minyak asal AS, dan saham mereka pun tertinggal rally pada bursa saham, membuat perusahaan-perusahaan tersebut kesulitan untuk terus mengumpulkan dana yang mereka butuhkan untuk terus melakukan aktivitas pengeboran. Sementara itu, OPEC juga harus memperhatikan sisi keuangannya sendiri, mengingat harga saat ini terlalu rendah bagi sebagian banyak negara anggota untuk menoreh keuntungan, menurut International Monetary Fund dan ING Bank NV. Sementara Arab Saudi, eksportir minyak terbesar, kewalahan dalam hal cadangan fiskal, namun Arab Saudi masih memiliki 686 milyar dollar sebagai cadangan.

(xiang)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar