Monexnews - Harga minyak melesat hingga mendekati area $89 per barrel pada hari Kamis di tengah memuncaknya kecemasan akan terhentinya pasokan minyak Norwegia. Kecemasan tersebut muncul setelah perusahaan Statoil menghentikan produksi minyaknya sebagai upaya mengakhiri pemogokan pekerja.
Penghentian produksi minyak dan gas Norwegia akan memaksa pemerintah untuk melakukan intervensi yang diharapkan dapat mengakhiri pemogokan yang telah memasuki hari ke-12.
"Pemogokan mungkin akan berakhir lebih cepat dari perkiraan. Lonjakan harga terjadi hanya karena reaksi spontan pasar saja, yang akan berakhir jika pemerintah bertindak," kata Carsten Fritsch, analis Commerzbank. "Norwegia memiliki reputasi sebagai salah satu produsen utama minyak, sehingga pemerintah pasti akan bertindak untuk mencegah penghentian produksi."
Melalui sebuah pernyataan yang dirilis hari Kamis, Statoil menyatakan akan menghentikan produksi pada ladang minyak mereka mulai 9 Juli. Hal tersebut akan mengikis produksi minyak Norwegia sekitar 1,2 juta barrel per hari. Langkah tersebut diambil sebagai upaya memaksa pemerintah untuk melakukan intervensi dan memaksa para pekerja untuk kembali bekerja.
Perselisihan antara industri dan serikat pekerja terkait dana pensiun sejauh ini telah mereduksi kapasitas produksi eksportir minyak terbesar ke-8 di dunia ini hingga 13%.
Pergerakan harga minyak selanjutnya akan tergantung pada rilis data persediaan AS, yang diperkirakan banyak analis akan mengalami penurunan sepanjuang pekan lalu. Saat ini minyak mentah untuk kontrak pengiriman bulan Agustus ditawarkan pada kisaran $87.30 per barrel setelah sempat menyentuh harga tertinggi harian $88.97 per barrel. (vid)

Komentar