Jumat, 24 Maret 2017

breaking-news Klaim Awal Pengangguran AS naik menjadi 258K pekan lalu dari sebelumnya 243K, estimasi 240K

commodity  Commodity

Harga Karet Tapaki Penguatan Mingguan Pertama dalam 5 Pekan

Jumat, 12 April 2013 11:29 WIB
Dibaca 657

Monexnews - Komoditi karet (rubber) bergerak dalam jalur untuk mencatat kenaikan mingguan pertama dalam 5 pekan terakhir. Hal ini dimungkinkan menyusul pelemahan nilai tukar Yen ke dekat level terendah dalam 4 tahun terhadap Dollar. Hal ini membuat minat investor pada komoditi berdenominasi Yen menjadi lebih besar dibandingkan beberapa waktu sebelumnya. Penguatan harga karet juga terjadi pasca munculnya kebijakan pemerintah Thailand untuk menaikkan tingkat harga. 

Kontrak karet bulan September naik 0.3% ke 277.7 yen /kg di bursa komoditi Tokyo pagi ini (Jumat 12/04). Harga saat ini berada dekat level penutupan tertinggi dalam dua pekan terakhir. Untuk pekan ini, harga karet sudah naik sebanyak 9.3%.

Kurs Yen mendekati 100 per Dollar atau level terendahnya sejak bulan April 2009. Koreksi nilai tukar terjadi di tengah spekulasi keluarnya aliran dana dari pasar investasi pemerintah akibat kebijakan anti-deflasi baru Bank of Japan. Aset investasi di negara ini tidak lagi dipandang menguntungkan sehingga pemilik modal bisa sewaktu-waktu mengalihkan dananya ke negara lain. Dari sisi fundamental persediaan, Thailand (produsen karet terbesar dunia) dilaporkan berencana  menurunkan volume suplai sebanyak 10 pengapalan hingga akhir Mei untuk membantu peningkatan harga jual. 

Tiga negara dengan kontribusi produksi karet terbesar sejagad (70%) yakni Thailand, Indonesia dan Malaysia dijadwalkan bertemu dalam pertemuan 3 hari mulai Jumat ini untuk membahas strategi stabilisasi harga. Harga karet di bursa Tokyo memasuki trend bearish pada 1 April di tengah kekhawatiran berkurangnya volume permintaan dari China. Penurunan daya serap dari negara ini akan melambungkan stok persediaan karet dunia. Tanpa adanya langkah antisipatif, cadangan karet alam alam dunia akan naik ke rekor tertinggi dalam 13 tahun terakhir karena jumlah produksi melebihi konsumsi sepanjang tahun dan ikut menekan harga.

(gsy)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar