Monexnews -
Minyak mentah berjangka AS melambung lebih dari $1 per barrel setelah sempat beredar rumor Twitter palsu yang memicu spontanitas ketakutan pasar minyak terhadap gejolak Timur Tengah.
Sebuah account Twitter yang mengaku bernama Vladimir Kolokoltsev, menteri dalam negeri Rusia, men-tweet pada 9:59 am waktu New York bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad telah tewas atau terluka, diikuti oleh dua tweet mengaku mengkonfirmasi kematian.
Antara 10:15 pagi dan 10:45 pagi, akibatnya minyak mentah berjangka dari $ 90,82 ke atas $92.20 per barel paska pembukaan sesi Eropa.
Kementerian Dalam Negeri Rusia membantah mengeluarkan pernyataan tersebut dan mengatakan kepada Reuters bahwa pihak nya tidak terhubung ke account Twitter.
Pasar minyak selanjutnya masih terfokus pada perkembangan di Timur Tengah, khususnya konflik antara Barat dan Iran terkait program senjata nuklir Teheran. Barat telah menerapkan sanksi embargo. Sementara para pejabat Iran mengancam akan membalas dengan menutup Selat Hormuz, dimana sepertiga dari minyak mentah dunia berlayar melewati jalur pengapalan tersebut.
Pedagang dan analis mengatakan kekhawatiran bahwa Iran akan mengganggu pasokan minyak telah menjadi katalis positif harga minyak mentah AS diatas $80 per barel, meskipun prospek permintaan masih suram akibat goyah nya pertumbuhan ekonomi global.
Penyebaran rumor bukanlah fenomena baru untuk pasar minyak. Meskipun laporan itu ternyata palsu, kerusuhan Timur Tengah adalah "selalu menjadi latar belakang" pergerakan intraday minyak , kata Andy Lebow, pedagang dan broker untuk Jefferies.
(Sap)

Komentar