Monexnews -
Kondisi perdagangan relative stabil kembali seiring volume transaksi di bursa saham global mulai menurun, mengindikasikan partisipasi para pelaku pasar mulai menyusut jelang rilis indikator perekonomian AS.
Setelah terjadi aksi sell-off Dollar dalam dua minggu terakhir, secara mengejutkan Dollar AS berhasil rebound di hari ini jelang laporan minutes rapat FOMC di awal Agustus kemarin.
Mata uang Euro terbentur resisten kunci 1.2500, sementara Poundsterling berupaya tembus diatas range trading 1.5400 – 1.5800 yang menjaga pergerakan dalam beberapa bulan terakhir. Oleh sebab itu penembusan diatas range trading tersebut menjadi krusial untuk berikan sinyal bullish menguji area 1.6000 di jangka menengah.
Penguatan berbagai mata uang non-dollar tersebut sebenarnya bukan berdasarkan data fundamental, namun lebih pada sikap para investor yang mengantisipasi perbaikan permintaan dan potensi revisi kenaikan GDP Q2 yang akan dilaporkan hari Jumat nanti.
Satu-satu nya mata uang utama yang tertekan terhadap Dollar adalah Aussie setelah dilaporkan penurunan laju laba BHP Billiton, cukup kontras dengan optimisme minutes RBA sebelumnya, sehingga masih ada ekspektasi atas penyesuaian kebijakan moneter RBA jika permintaan dari China maupun Eropa masih terus merosot.
Meski Dollar menguat, namun reli masih terbatas sembari menunggu laporan existing home sales dan minutes FOMC nanti malam. Meski data sektor perumahan diprediksi positif untuk Dollar, namun minutes FOMC diperkirakan masih menunjukkan kecemasan bank sentral terhadap ekonomi AS sehingga berpotensi untuk menekan Dollar AS lebih lanjut.
(Sap)

Komentar