Sabtu, 21 Oktober 2017

forex  Forex

Dollar Masih Dalam Tekanan, Euro Nantikan GDP

Jumat, 14 Februari 2014 11:22 WIB
Dibaca 792

Monexnews - Dollar AS terperangkap dekat level rendah 3 pekan terhadap sejumlah mata uang utama pada hari Jumat setelah data AS yang mengecewakan menambah tekanan pada greenback. Sementara itu euro mengabaikan berita bahwa Perdana Menteri Italia akan mengundurkan diri, dan fokus pada data GDP zona euro pada hari ini untuk arah jangka pendek. Penjualan ritel AS turun di luar perkiraan di bulan Januari dan jumlah klaim pengangguran bertambah pekan lalu, sinyal terkini bahwa negara perekonomian terbesar di dunia tersebut memulai tahun ini dengan lemah seiring gangguan dari cuaca buruk. Pelemahan pada indeks dollar terjadi seiring penurunan pada yield obligasi AS. Namun anehnya, Wall Street berhasil pulih dan ditutup menguat seiring sejumlah investor mencerna data yang mengecewakan, dan menyalahkan cuaca bukan fundamental yang melemah.

Euro nyaris tidak bereaksi terhadap berita bahwa Perdana Menteri Italia akan mengundurkan diri pada hari Jumat, membuka jalan bagi administrasi ketiga Italia dalam kurun waktu setahun. "Pelaku pasar mengabaikan pengunduran diri oleh Perdana Menteri Italia karena perekonomian zona euro belakangan ini tidak teerpengaruh oleh berita bearish," ucap Ayako Sera, ekonom pasar senior pada Sumitomo Mitsui Trust. "Namun pasar akan bereaksi dengan cepat jika perekonomian zona euro mulai menunjukkan sinyal pelemahan," ucap Sera.

Investor akan memiliki kesempatan untuk mengukur kesehatan perekonomian zona euro melalui data GDP kuartal keempat hari ini. Analis memperkirakan tingkat pertumbuhan zona euro naik tipis. "Setelah Presiden ECB Mario Draghi secara spesifik megnatakan GDP kuartal keempat adalah kunci bagi kondisi perekonomian, data hari ini akan menjadi fokus," menurut analis pada BNP Paribas. Pekan lalu, Draghi membuat pasar waspada terhadap kemungkinan adanya langkah kebijakan baru di bulan Maret. Data pertumbuhan yang positif nampaknya masih akan dihambat oleh tingkat inflasi yang masih lekat di level rendah, yang mana akan menjadi kunci pelonggaran lanjutan oleh ECB dan pelemahan euro, ucap analis BNP.

Sementara itu sterling menjadai mata uang dengan performa yang mengejutkan semalam dengan menguat ke level tertinggi dalam hampir selama 3 tahun terhadap greenback. Sterling mencatat penguatan lebih dari 1.5% pekan ini. Data AS yang buruk kontras dengan outlook yang jauh lebih bagus dari Bank of England untuk perekonomian Inggris yang membantu melambungkan nilai tukar pound hari ini. Di pihak lain, dollar Australia sempat melemah sebesar 1 sen penuh terhadap dollar AS akibat lemahnya data tenaga kerja. Namun pagi ini aussie berhasil memagnkas penurunannya, dan kembali ke atas level 90 sen terhadap dollar AS menyusul data China yang menunjukkan inflasi tingkat konsumen naik sebesar 2.5% di bulan Januari, sesuai dengan ekspektasi analis

(xiang)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar