Rabu, 13 Desember 2017

forex  Forex

Dollar Singapura Solid di Tengah Trend Depresiasi Valuta Asia

Kamis, 29 Agustus 2013 10:57 WIB
Dibaca 1527

Monexnews - Tekanan terhadap mata uang Asia menyebar rata ke berbagai negara. Selain Indonesia, India dan Thailand, valuta yang berasal dari negara dengan fundamental ekonomi kuat juga ikut terimbas oleh trend koreksi kurs. Dollar Singapura diprediksi mengalami nasib serupa dengan koleganya seperti Rupiah, Rupee dan Baht.

Nilai tukar Dollar Singapura merosot lebih dari 2% dari posisi tertinggi dalam dua bulan, yang tercapai dua pekan lalu. Fenomena itu memicu spekulasi tentang kinerjanya untuk beberapa pekan ke depan. Muncul ekspektasi terciptanya aksi jual brutal terhadap SGD sebagaimana yang terjadi pada mata uang tetangga dalam beberapa bulan belakangan. Pun demikian masih ada pula analis dan ahli strategi forex yang yakin kalau Dollar Singapura akan kebal dari koreksi tajam karena neraca perdagangannya jauh lebih baik ketimbang negara-negara yang valutanya melemah dramatis. Rupiah dan Rupee masing-masing sudah tergerus sampai 6.5% dan 16.3% dalam satu bulan saja. Sejauh ini kinerja SGD masih terbilang solid jika mengacu pada rasio pelemahannya.

Grafik Year to Date USD/SGD


sumber: XE.com

"Saya tidak melihat peluang bagi nilai tukar Dollar Singapura untuk menguat, tetapi mata uang itu relatif akan mencatat performa lebih baik dibandingkan yang lainnya," ulas Mitul Kotecha, Kepala Strategi Forex Global di Credit Agricole kepada CNBC. Menurutnya, SGD dikenal sebagai salah satu safe haven Asia yang cukup diminati kala perekonomian bergejolak seperti sekarang.

Faktor yang dinilai penting dalam menjaga kurs mata uang suatu negara yakni kesehatan neraca berjalan. Komponen neraca Singapura jauh lebih bagus dibandingkan Indonesia dan India, yang sedang dibayangi defisit besar. Semakin bagus kondisi neraca maka semakin kuat pula nilai tukar mata uang di tengah derasnya arus modal keluar. Dalam laporan terakhir Kementerian Industri dan Perdagangan, jumlah surplus Singapura tercatat sebesar 19% dari total GDP nasional. Bandingkan dengan jumlah defisit Indonesia yang nyaris mencapai $10 miliar hingga kuartal II lalu. Maka sah-sah saja jika pemilik modal memandang SGD jauh lebih menarik ketimbang Rupiah.

Lembaga investasi UBS bahkan berani menobatkan Dollar Singapura sebagai valuta emerging markets paling kebal gejolak setelah Dollar Taiwan dan Yuan China. Oleh karena itu potensi penguatan Dollar hanya akan menggiring SGD ke posisi 1.25, 1.24 dan 1.23 per US Dollar dalam jangka waktu 3, 6 dan 12 bulan ke depan. Kalaupun ada kendala yang bisa mengganjal laju perekonomian Singapura, maka tak lain adalah gelembung properti di negara itu, yang risikonya sendiri jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara lain di Asia seperti China. Nilai tukar SGD/USD kini masih terpantau berkisar di level 1.28.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar