Jumat, 28 Juli 2017

forex  Forex

Drama Politik Persempit Ruang Gerak Rupiah

Kamis, 9 Oktober 2014 11:27 WIB
Dibaca 706

ustify;">Monexnews - Nilai tukar Rupiah semakin tertekan di pasar uang. Meski hasil pemenang pemilu presiden sudah diketahui oleh pelaku pasar, drama politik yang tidak berujung membuat valuta domestik gagal menguat terhadap US Dollar. 

Menurut sebagian analis keuangan di pasar, belum ada gejala kebangkitan Rupiah dalam waktu dekat. Spekulasi soal pengetatan moneter di Amerika Serikat sebenarnya sudah cukup menggerus kinerja nilai tukar, namun kini kondisi diperburuk oleh drama politik di parlemen dan yudikatif.

"Peralihan kekuasaan di tanah air akan membuat Rupiah konsisten tertekan," ujar pakar ekonomi OCBC, Wellian Wiranto, ketika diwawancarai oleh Dow Jones Newswires. Hasil pertemuan Federal Reserve Bank semalam memang menguntungkan Rupiah karena bank sentral Amerika tersebut menyoroti ancaman dari penguatan Dollar yang berlebihan. Alhasil, Rupiah sempat menguat ke level 11,185 per Dollar. Akan tetapi, kenaikan nilai tukar itu diprediksi hanya bersifat temporer karena suhu politik dalam negeri masih belum kondusif. Rupiah sudah terdepresiasi sebanyak nyaris 2% terhadap Dollar sejak parlemen mengubah aturan soal pemilihan kepala daerah bulan lalu. Spot Rupiah kini diperdagangkan pada posisi 12.180 per Dollar (grafik Reuters pukul 11.24 WIB).

Di sisi lain, otoritas moneter dan pemerintah Indonesia terus berdalih bahwa trend pelemahan Rupiah lebih dipengaruhi oleh kinerja Dollar yang terlalu kuat dan prospek kebijakan di Amerika Serikat. Menurut Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah akhir bulan lalu, pelemahan Rupiah yang terjadi saat ini merupakan hasil dari tekanan kebijakan Bank Sentral AS (The Fed), yang akan mengakhiri pemberian stimulus moneter non-konvensional (Quantitative Easing). “Itu sesuai dengan prediksi kita sebelumnya bahwa Rupiah masih akan mengalami tekanan akibat dari kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang akan mengakhiri (tapering-off) pemberian stimulus moneter non-konvensional (QE III),” kata Firmanzah tanggal 30 September lalu.

Di kesempatan yang berbeda, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo juga menyatakan hal yang serupa bahwa salah satu penyebab pelemahan nilai tukar Rupiah adalah potensi kenaikan tingkat suku bunga Amerika Serikat yang diperkirakan lebih cepat. “Secara umum, nilai tukar itu mencerminkan kondisi ekonomi bahwa pada saat yang lalu banyak faktor eksternal berperan. Khususnya proses normalisasi AS dan statement yang menunjukkan kondisi AS terus membaik,” jelasnya.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar