Selasa, 24 Januari 2017

forex  Forex

Rupiah Semakin Terluka Ditengah Buruknya Outlook Minyak

Rabu, 4 September 2013 11:30 WIB
Dibaca 523

Monexnews - Rupiah pada hari Rabu merosot ke level terendah dalam empat tahun atas kecemasan AS yang ingin menyerang Suriah yang mana itu mendorong naik harga minyak dan juga karena memburuknya defisit neraca perdagangan Indonesia yang mencapai rekor terbesarnya. Sementara itu IHSG juga melemah ditengah spekulasi bahwa suku bunga acuan Indonesia akan naik lagi.

Nilai kontrak non deliverable forward (NDF) tergelincir sebesar 2 persen, mendekati penurunan 2.5 persen pada tanggal 27 Agustus yang mana itu merupakan penurunan terbesar sejak September 2011, ditunjukkan dalam data yang dikompilasi oleh Bloomberg. Kontrak NDF rupiah saat in di perdagangkan di kisaran 11756 pada pukul 10.38 di Jakarta, 5 persen lebih lemah dari harga spot, dan sebelumnya mencapai 11788, ini merupakan level terendah sejak April 2009.  

Presiden Barack Obama kemarin mendapatkan dukungan dari pemimpin Republik dan Demokrat pada komite senat hubungan luar negeri atas rancangan resolusi pada otorisasi serangan militer ke Suriah setelah ada dugaan pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia. Defisit perdagangan Indonesia melebar hingga $ 2.3 milyar di bulan Juli serta impor gas dan minyak naik sebanyak 50 persen, atau hampir seperempat dari anggaran belanja luar negeri. Ditunjukan dalam data resmi pemerintah.

“Ada tekanan depresiasi untuk rupiah setelah dirilisnya angka perdagangan,” kata Khoon Goh, analis mata uang di Australian & New Zealand Banking Group Ltd. di Singapore.”NDF adalah cerminan terbaik untuk arah pergerakan rupiah. Kita mungkin akan terus melihat perbedaan antara spot dan NDF dalam jangka pendek sampai bertemunya nilai spot dengan apa yang ditunjukan oleh pasar luar negeri.”

Rupiah anjlok sekitar 0.9 persen di pasar spot menjadi 11.170 per dollar, level terlemah sejak April 2009, harga di ambil dari bank lokal yang kompilasikan oleh Bloomberg. Nilai spot rupiah seharusnya menuju level 12.00 perdollar sebelum akhir tahun, kata Goh, analis dari ANZ.

“Sentimen negatif dari defisit perdagangan Indonesia yang mencapai rekor dan faktor eksternal lainnya masih akan berlanjut,” kata Rully Nova, seorang analius mata uang di PT Bank Himpunan Saudara 1906 di Jakarta.”Konflik di Suriah telah naikan harga minyak, yang mana itu kedepannya akan membebani neraca perdagangan dan setelah itu Rupiah.”

(fsyl)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar