Kamis, 27 Juli 2017

forex  Forex

Tragis! Rupiah Kian Terpuruk ke Posisi Terlemah

Jumat, 6 September 2013 13:39 WIB
Dibaca 1588

Monexnews - Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kian tak terbendung di akhir pekan ini (Jumat, 6/9). Hingga sesi siang hari ini dollar sempat menembus posisi tertingginya di Rp 11.725 per dollar AS.

Seperti dikutip dari Bloomberg, rupiah kini berkisar di area Rp11.695 setelah di buka pada kisaran Rp11.615 per dolar AS. Mata uang berlambang Garuda ini pun terus melemah hingga posisi dollar (USD) menembus harga Rp11.725. Dan angka tersebut menjadikan level tertingginya sejak tiga tahun terakhir.

Asal tahu saja, USD pernah berada di posisi tertingginya dalam 5 tahun terakhir yaitu di angka Rp12.300 pada 2 Desember 2008 silam. Ambruknya rupiah saat itu akibat dari krisis di AS yang membuat Indonesia terkena dampaknya.

Pelemahan rupiah hari ini terutama akibat merebaknya lagi isu ‘tapering’ yang kian santer berhembus di pasar global yang kemudian turut membangkitkan nilai dollar AS. Karena kekhawatiran itu membuat pasokan dollar ke pasar menjadi berkurang sehingga USD pun menguat terhadap Rupiah. Rally USD juga berkat serangkaian rilis data-data ekonomi AS yang positif belakangan ini.

Dari dalam negeri, fundamental ekonomi domestik yang masih 'negatif' juga turut memberikan kontribusi atas pelemahan nilai rupiah. Belum lama ini pemerintah merilis data neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juli 2013 mengalami pembengkakan defisit sebesar US$ 2,31 miliar. Defisit tersebut merupakan defisit bulanan terbesar dalam sejarah. Sebelumnya defisit terbesar terjadi pada Oktober 2012 senilai U $ 1,88 miliar. Sedangkan neraca perdagangan periode Januari s/d Juli 2013 mengalami defisit senilai US$ 5.65 miliar.

Sedangkan tekanan lain juga datang dari tingginya kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia. Efek negatif dari gejolak depresiasi rupiah menyebabkan aktivitas sektor manufaktur Indonesia mengalami penyusutan selama bulan Agustus. Berdasarkan data yang di kalkulasi oleh HSBC, angka manufaktur PMI Indonesia merosot menjadi 48.5 dari bulan sebelumnya di level 50.7 yang masih menandakan ekspansi di sektor tersebut.

Sementara, keputusan Bank Indonesia yang telah menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 7% di akhir bulan lalu, ternyata belum ‘mumpuni’ untuk mengangkat rupiah. Sampai hari in rupiah justru terus terpuruk.

(Daru Wibisono)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar