Jumat, 26 Mei 2017

forex  Forex

'Valuta Garuda di Titik Nadir'

Kamis, 15 Agustus 2013 10:17 WIB
Dibaca 510

Monexnews - Penurunan nilai tukar mata uang India dalam beberapa bulan terakhir telah menyita perhatian pelaku pasar. Namun sesaat lagi fokus atensi investor pasar uang akan teralih ke valuta lain, yang sedang terdepsresiasi habis-habisan, yaitu Rupiah (IDR).

Nilai tukar Rupee India sudah jatuh nyaris sebesar 13% terhadap Dollar sepanjang tahun ini (year to date). Rupee menorehkan rekor terlemah baru di level 61.87 per Dollar pada pekan lalu. Sementara itu, Rupiah anjlok hampir 7% dalam periode yang sama dan sampai sekarang masih terpaku di atas kisaran 10.200 per Dollar.

Beberapa lembaga keuangan mulai mengeluarkan prediksi dan ramalan tentang bagaimana pergerakan nilai tukar Rupiah selanjutnya. Dalam beberapa hal, penyebab depresiasi kurs valuta India dan Indonesia tidak jauh berbeda. Menurunnya laju pertumbuhan ekonomi yang dibarengi dengan lonjakan inflasi menjadi pemicu utama pelemahan nilai tukar. Khusus bagi Indonesia, kondisi tersebut diperburuk oleh naiknya defisit neraca berjalan dan berkurangnya cadangan devisa karena tergerus oleh kebijakan intervensi Bank Indonesia di pasar uang.

Dariusz Kowalczyk, Senior Asia Strategist Credit Agricole, mengatakan bahwa kondisi fundamental antara kedua negara cukup identik. "Namun variabel keuangan Indonesia lebih buruk sehingga harus segera dibenahi," ujar Kowalczyk. Apabila pemerintah gagal mengantisipasi fakta tersebut maka rasio pelemahan Rupiah bisa mendekati skala depresiasi Rupee tahun ini. Tim riset Agricole memprediksi IDR melemah lagi ke kisaran 10.400 per USD di akhir tahun 2013, atau lebih bearish dibandingkan proyeksi sebelumnya di 9.890. Kombinasi antara lonjakan inflasi dan pelemahan Rupiah bisa menjadi alasan bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan hari Kamis, 15 Agustus. Sebagai catatan, inflasi tahunan Indonesia sudah menembus 8.61% di bulan Juli sekaligus menandai laju kenaikan inflasi tercepat dalam empat tahun terakhir. Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada bulan Juni lalu telah membuat harga-harga produk konsumen meroket dan berpengaruh pada komponen inflasi. Kowalczyk memperkirakan bank sentral kembali menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin ke level 6.75% di bulan Agustus meskipun hasil poll Reuters menghasilkan estimasi unchanged.

Saat menyikapi pelemahan nilai tukar, bukan berarti bank sentral tidak melakukan apa-apa. Otoritas moneter dilaporkan telah menjual Dollar antara $100 juta hingga $150 juta per hari di bulan Juli. Namun sederet intervensi di pasar uang gagal menangkal pelemahan kurs ke bawah 10.000 sehingga Bank Indonesia belakangan ini pasrah 'membiarkan' nilai tukar diatur oleh mekanisme pasar. Agus Martowardojo dan kolega kemungkinan ingin melihat sejauh mana depresiasi mengarah sebelum merogoh cadangan devisa yang nilainya terus menipis.

Adapun salah satu penyebab lain dari volatilitas IDR yaitu derasnya arus modal keluar dari pasar finansial Indonesia. Pada bulan Mei silam, tingkat net portfolio mencapai puncaknya di angka $6 miliar namun kemudian aliran modal berbalik keluar sampai $200 juta. Kinerja Rupiah di masa depan akan semakin buruk seandainya Federal Reserve benar-benar menghentikan program stimulus moneternya. Skenario terminasi stimulus hanya akan memperkuat kurs Dollar terhadap rival-rivalnya, tidak terkecuali Rupiah. Nilai tukar USD/IDR saat ini terpantau di level 10.300.

 

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar