Kamis, 29 Juni 2017

Korelasi Turun Naiknya Harga Minyak Dengan Potensi Teknikal Rebound Emas

Kamis, 29 Maret 2012 20:45 WIB
Dibaca 32

Monexnews -

Di berita Financial Times dikatakan harga minyak anjlok pada Kamis (29/3) waktu setempat setelah diberitakan bahwa cadangan minyak mentah naik tajam pada pekan lalu di Amerika Serikat, negara konsumen energi terbesar di dunia. Bahkan pasokan minyak mentah di AS mendekati level rekor tertinggi.

Mari kita lihat faktor lain yang menjadi penyeret harga Minyak terfluktuasi, di hari yang sama kemarin, ada komentar dari pejabat resmi Prancis bahwa AS sedang mengajukan proposal pada Inggris dan Prancis untuk melepaskan cadangan strategis minyak, dimana hal ini akan menambah kenaikan supply minyak global.

Supply berlimpah ditengah harga yang sedang naik tiba-tiba menjadi masalah yang dominan, benarkah itu inti masalah harga minyak? Data pemotretan bursa komoditas minyak Nymex 28 Maret 2012 kemarin, saat harga minyak turun, terindikasi order harga fisik minyak dibentuk oleh order transaksi yang datang dari hedge fund (lembaga financial) dan hedge fund itu juga yang membentuk down-price di pasar berjangka option.

Fakta ini juga menunjukkan bahwa pola harga minyak tak berubah, gejala naiknya, turun dan lalu naik lagi hanyalah sebuah konfirmasi bahwa dunia masih dilanda di kotak yang sama, negara maju bermain cari uang dari memutar portfolio global hedge fund.

Sederhananya, harga minyak terkonfirmasi naik-turun hanya untuk pemenuhan aksi ambil untung portfolio minyak oleh hedge fund. Tampaknya sejak tahun 2008, Amerika Serikat belum juga menertibkan pola spekulatif di bursa komoditas minyak yang kembali tampak kali ini.

Menyimak kuliah yang diberikan oleh Ben Bernanke pada mahasiswa Universitas George Washington (melalui link ini:http://federalreserve.gov/newsevents/lectures/about.htm).

Taktik moneter The Fed pascakrisis dapat dibaca dengan membiarkan dollar AS melemah, sekaligus menjadikannya mata uang terfluktuasi, karena fluktuasi berarti perolehan keuntungan selisih nilai tukar, dari perdagangan instrumen keuangan negara lain. Hal ini dilakukan untuk menghindari gagal bayar surat utangnya, meskipun AS sudah tidak mampu mengatasi pembelian surat utangnya dari uang primer ataupun sektor riil, tampaknya AS mengharapkan untung dari uang financial yang diciptakan dari ombak pasar komoditas dan keuangan dunia.

Dalam posisi seperti itu, keseimbangan perekonomian AS adalah ambil untung (capital gain) dari selisih kurs instrumen keuangan yang saling menutupi dengan neraca perdagangannya. Suka atau tidak, ini sinyal siaga bagi pasar global, masalahnya cara seperti ini jika dilakukan secara berulang akan berdampak tsunami financial.

Bagi para investor, memahami mengapa pergerakan di forex maupun Emas beberapa bulan terakhir ini hanya berfluktuasi naik turun dalam range sempit untuk pemenuhan capital gain dan mengurangi defisit fiskal AS dapat membawa pencerahan atas potensi terjadinya trend baru di Emas ketika kondisi telah berubah.

Kondisi Emas saat ini bukanlah merupakan waktu yang ideal untuk bertransaksi akibat minimnya faktor penggerak fundamental yang cukup kuat. Hal ini pula lah yang menyebabkan berbagai sistem dengan cara trend-follower menjadi gagal dan terkena margin call, karena tidak ada satu indikator pun yang dapat memberitahu kita bahwa market akan bergerak range-bound. Dan kita harus bergantung pada fundamental (maupun insting) untuk mengambil penilaian di kondisi market seperti ini.

Berbicara fundamental, optimisme terhadap pulihnya perekonomian menjadi menyusut setelah melihat rasio tenaga kerja AS dengan populasi masih menunjukkan bentuk-L , yaitu setelah mengalami kemerosotan pasar tenaga kerja kini rasio tersebut mengalami stagnasi.

Padahal di periode recovery sebelumnya, level pengangguran paska krisis berhasil menurun ke angka yang cukup rendah seiring dengan rasio tersebut berbentuk V, yaitu setelah mengalami kemerosotan pasar tenaga kerja, rasio tersebut pulih ke level semula.

Oleh sebab itulah, Ben Bernanke menyatakan bahwa tingkat pengangguran masih akan tertekan di jangka panjang, yang sekaligus mengimplikasikan bahwa Fed Funds Rate masih akan bertahan dekat level nol untuk beberapa bulan kedepan.

Efeknya dari upaya The Fed ini adalah potensi pelemahan dollar di jangka panjang, yang diperkirakan akan kembali mendorong Emas ke teritori “hijau”, sehingga pelaku pasar cenderung akumulasi versus distribusi Emas yang seharusnya mengalami rebound paska koreksi.

Keadaan teknikal Emas yang oversold, ditunjukkan dengan adanya divergensi antara harga dan MACD yang tidak membentuk new low seharusnya membuat pelaku pasar mulai akumulasi buy Emas lagi untuk antisipasi teknikal rebound ke 1670 di jangka pendek.

Gold (29-03)
Spot 1657.55 (-0.34%)
Comex 1657.70 (+0.01%)

Support: 1653-1624-1600, Resistance:1667-1695-1716

(Sap)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar