Selasa, 21 Februari 2017

Cina Memang Alami Perlambatan

Senin, 9 April 2012 19:11 WIB
Dibaca 1

Monexnews - Minggu ini, investor akan disuguhkan oleh serangkaian data ekonomi Cina yang mungkin dapat berikan petunjuk akan performa ekonomi terbesar No.2 di dunia tersebut. Indeks harga konsumen (CPI) yang hari ini dirilis tunjukan kembali naiknya inflasi Cina. CPI tahunan tumbuh 3,6% di bulan Maret, lebih tinggi dari prediksi 3,3% dan publikasi sebelumnya 3,2%. Naiknya inflasi tentu dapat membuat bank sentral Cina (PBOC) untuk lebih berhati-hati menyusun kebijakan moneternya.

Di akhir pekan nanti, data GDP diprediksi akan melambat ke level 8,4% untuk kuartal pertama 2012; lebih rendah dari publikasi sebelumnya 8,9%. Ini memang cukup mencemaskan mengingat data akan menegaskan perlambatan pertumbuhan dalam dua tahun terakhir. Sebagian investor bahkan bertanya-tanya apakah perlambatan akan terus berlanjut hingga ekonomi alami hard landing atau akan berhenti segera dan bangkit kembali sehingga ekonomi hanya alami soft landing.

Kekhawatiran memang cukup beralasan. Perdana Menteri Wen Jibao hanya menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,5% untuk tahun 2012; masih lebih rendah dari data yang akan dirilis di akhir pekan. Ini berarti pemerintah mungkin enggan untuk berikan stimulus fiskal dalam jumlah besar seperti tahun 2008.

Meski demikian, perlambatan ekonomi Cina tidak perlu terlalu dicemaskan. Negera Tirai Bambu ini tengah alami penyesuaian dari export-led growth menjadi consumption-lead growth. Ekspor memang telah menjadi mesin penggerak ekonomi utama di Cina sejak beberapa dekade terakhir. Namun, krisis subprime mortgage AS dan berlarutnya krisis utang zona-euro telah membuat pasar ekspor Cina terpukul. AS bahkan telah loloskan Undang-Undang yang dapat meningkatkan tarif impor barang dari Cina. Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, telah serukan Uni Eropa untuk membeli produk buatan Eropa.

Beijing pun kini tengah menggenjot konsumsi untuk bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Kenaikan upah buruh dan pengendalian inflasi merupakan cara untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan meningkatnya daya beli tentu konsumsi akan meningkat, terlebih dengan penduduk Cina yang mencapai 1,3 miliar.

Sulit untuk membayangkan Beijing akan membiarkan ekonomi Cina mengalami hard landing. Biaya ekonomi dan politik yang harus ditanggung terlalu besar. Meskipun ruang manuver kebijakan fiskal dan moneter terbatas namun Beijing tentunya masih bisa memberikan pelonggaran kebijakan yang dapat mencegah terjadinya hard landing.  

Perlambatan ekonomi Cina hanya bersifat soft-landing. Data inflasi yang dirilis juga isyaratkan adanya kenaikan aktivitas ekonomi domestik. Inflasi juga masih berada di bawah target PBOC 4%; ini tentunya akan memberikan ruang bagi bank sentral untuk longgarkan kebijakan moneternya. Masih terlalu dini untuk harapkan penurunan suku bunga namun cukup realistis jika PBOC kembali menurunkan giro wajib minimum perbankan sebagai bentuk pelonggaran.

Data lain yang akan dirilis minggu ini juga menunjukkan geliat ekonomi Cina. Defisit perdagangan diprediksi berkurang menjadi $3 miliar; lebih baik dari publikasi Februari $31,5 miliar. Penyaluran kredit diharapkan bertambah 799 miliar yuan untuk bulan Maret; lebih tinggi dari publikasi sebelumnya 711 miliar yuan. Produksi industri dan penjualan ritel juga diperkirakan alami perbaikan dengan catatkan pertumbuhan masing-masing sebesar 11,5% dan 15,1%.

Bagaimanapun juga ekonomi Cina memang alami perlambatan dan ini tentunya akan ditegaskan oleh data GDP yang akan dirilis di akhir pekan. Perlambatan Cina tentu akan berdampak negatif bagi harga komoditas mengingat Cina adalah salah satu konsumen komoditas utama dunia, terutama minyak. Dengan demikian, harga minyak harusnya masih akan tertekan hingga akhir pekan.  

Analisa Teknikal:

Dari grafik harian, turunnya indikator stokastik dan RSI akan menjaga pelemahan harga minyak di dalam channel bearish. Untuk pekan ini, strategi masih Sell on Rally. Area 102.00 hingga 103.00 cukup bagus sebagai level entry dengan stop-loss di 104.10 (sedikit di atas Moving Average 50). Walaupun MA 100 akan coba membatasi penurunan, namun masih ada peluang bagi minyak untuk mengincar target terdekatnya 100.00 (level psikologis yang juga dekat area trendline). Perlu penurunan di bawah area trendline (garis hijau) untuk bisa membuka peluang keberlanjutan kejatuhan hingga 95.60 (MA 200). 

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar