Selasa, 21 Februari 2017

Keperkasaan Dollar Menjadi Momok Bagi Euro

Selasa, 10 April 2012 21:44 WIB
Dibaca 2

Monexnews -

Ekonomi Spanyol dan mata uang tunggal Euro kini tengah dililit resiko yang jauh lebih tinggi dibanding dua minggu yang lalu.

Seiring dengan prospek pertumbuhan Spanyol yang telah berada di ujung tanduk, terutama juga dibarengi dengan adanya pelambatan ekonomi negara Eurozone lainnya, Madrid kemungkinan akan mengalami kemerosotan pendapatan dari pajak, diakibatkan langkah penghematan defisit yang harus diterapkan pemerintah. Oleh sebab itulah kemampuan pemerintah untuk memenuhi kewajiban obligasi semakin diragukan oleh para investor.

Hal ini berarti juga resiko atas terjadinya default surat utang sovereign Spanyol akan semakin tinggi. Lihat saja kondisi market terakhir setelah memasuki hari perdagangan yang mulai aktif setelah masa libur paskah di Eropa, terjadi kenaikan yield obligasi pada tenor 10-tahun di berbagai kawasan Eropa. Yield obligasi Italia meroket ke 5.563%, sementara Portugal melonjak ke 12.061%, sedangkan yield Spanyol naik menjadi 5.91%, dan Prancis naik tipis ke 2.877%.

Gejolak di bursa obligasi Eropa ini turut memicu kenaikan volatilitas di berbagai aset lainnya, secara keseluruhan di bursa hari ini (10/4), tidak hanya mata uang Euro yang sempat tertekan, namun Sterling juga turut anjlok tajam terhadap mata uang Dollar, sementara Aussie masih tertekan akibat antisipasi permintaan China yang lebih lemah dibanding ekspektasi sebelumnya.

Perdana Menteri Mariano Rajoy beberapa waktu lalu berhasil memenangkan suara untuk mendapatkan persetujuan Parlemen terkait program penghematan anggaran tambahan sebesar 27 milyar Euro yang terdiri dari pemangkasan pengeluaran pemerintah serta kenaikan pajak demi mereduksi defisit anggaran Spanyol menjadi 5.3% dari GDP tahun 2012, dari sebelumnya 8.5% pada 2011.

Sayangnya pemangkasan pengeluaran Rajoy masih sangat diragukan bisa berdampak positif pada perekonomian Spanyol, bahkan level angka pengangguran yang terakhir masih melejit ke level 24%, sedangkan indeks PMI Spanyol selama bulan Maret jatuh ke 44.5 dari 45.0 di bulan February mengindikasikan kontraksi perekonomian.

Langkah preventif dari para pemangku kebijakan Eropa menghadapi ini adalah dengan menyetujui perubahan fasilitas dana talangan EFSF dengan ESM, yang akhirnya menambah kapasitas bailout menjadi 700 milyar Euro untuk membantu negara Euro zone lainnya yang terancam terkena default.

Bagaimanapun, penambahan kapasitas dana talangan tersebut dianggap tidak mumpuni untuk mengatasi krisis utang secara keseluruhan, selain itu juga negara BRIC (Brazil, Russia, India dan China) masih kurang tertarik untuk berkontribusi pada penambahan dana bailout untuk menyelamatkan Euro.

Secara ringkasnya berbagai kondisi yang telah dijabarkan tadi, telah merubah kondisi fundamental mata uang Euro untuk berada dalam posisi lebih rentan dibanding sebelumnya. Faktanya, Euro masih berpotensi tertekan dibawah 1.3000 dan bahkan masih potensial menuju level 1.2800 dengan catatan harga tidak naik lebih dari  1.3485. Peluang downtrend EURUSD ini terbuka lebar karena laju pelambatan ekonomi yang dialami Spanyol akan semakin cepat sehingga dana-dana bailout yang diharapkan dapat membendung Spanyol dari penyebaran krisis utang pada akhirnya dapat jebol dengan mudah.

Belum lagi ditambah faktor penguatan Dollar yang berpotensi membebani pairing EURUSD lebih lanjut. Komentar Bernanke beberapa waktu lalu merupakan salah satu bukti bahwa The Fed mengupayakan transparansi kebijakan untuk membimbing pergerakan market sesuai dengan pandangan The Fed.

Maka cukup jelas setelah dirilis risalah (minutes) rapat kebijakan moneter The Fed yang terakhir lebih pada posisi hawkish, dan tidak mempertimbangkan adanya stimulus (QE) lebih lanjut kecuali jika ada bukti pelambatan ekonomi secara signifikan dan laju inflasi kembali jatuh dibawah 2%.

Berdasarkan data statistik yang terakhir laju inflasi AS selama bulan February masih naik ke 2.9%. Jadi meskipun data nonfarm payrolls turun diluar perkiraan, namun laju inflasi yang masih tinggi tetap belum merubah arah kebijakan moneter The Fed yang pada intinya meniadakan kebijakan easing (QE) kedepannya. Efeknya dari minutes FOMC ini tidak bisa diremehkan, karena perubahan arah kebijakan ini adalah mengurangi minat para investor global terhadap aset berisiko.

Setelah sebelumnya berbagai aset menikmati keuntungan dengan adanya stimulus dan QE1, QE2. Kemungkinan besar investor AS akan merepatriasi dana nya dari luar untuk kembali ke mata uang domestik, selain itu berbagai manajer investasi akan mengurangi eksposur mereka terhadap aset berisiko. Dengan kata lain, mata uang Dollar AS berpotensi untuk terus menguat setelah stimulus The Fed yang terakhir berupa Operation Twist berakhir di bulan Juni nanti.

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar