Selasa, 12 Desember 2017

Setelah Isu Perlambatan, Kini Fokus ke Uni Eropa

Senin, 26 Maret 2012 14:59 WIB
Dibaca 70

Monexnews - Mengawali pekan ini (Senin, 26/3) pasar dunia khususnya mata uang utama dunia (major currencies) terpantau cukup stabil dan masih kokoh di kisaran positif layaknya akhir pekan lalu di tengah meredanya kecemasan terhadap perlambatan ekonomi China dan zona euro.

Kondisi yang cukup terbilang stabil tersebut, lebih dikarenakan sikap investor yang masih enggan untuk melakukan transaksi di pasar dan cederung wait and see di tengah kondisi pasar yang sudah cukup jenuh (overbought). Sehingga hal itu menjadi faktor yang mendukung mata uang utama dunia khususnya Euro yang kini masih bercokol di kisaran tinggi dalam 3-pekan terakhir setelah di hantam aksi jual beberapa hari sebelumnya.

Faktor pelemahan dollar (USD) juga turut menopang Euro sehingga mata uang tunggal ini masih kuat bercokol di atas level $1.3250 meskipun sempat mengendur ke level $1.3246. Berbeda dengan sesi hari Jumat yang sempat anjlok hingga ke level rendah $1.3188. Hingga awal pekan ini, gain dollar masih tergerus pasca rilis data sektor perumahan AS (New Home Sales) dimana secara mengejutkan menunjukkan penurunan di bulan Februari, sehingga mengindikasikan perbaikan di pasar perumahan masih belum stabil. Angka penjualan rumah baru selama periode Februari menurun menjadi 313.000 dari sebelumnya 318.000 dan jauh di bawah ekspektasi pasar 325.000.  

Fokus Beralih ke Pertemuan Uni Eropa

Selain itu dengan absennya berita-berita buruk dari kawasan Eropa, pelaku pasar kini mulai mempersiapkan diri untuk menyambut pertemuan menteri keuangan Eropa (ECOFIN) akhir pekan ini (30-31 Maret 2012), dimana mereka akan kembali membahas tentang ekspansi dana talangan zona Euro. Pertemuan di Copenhagen (Denmark) nanti di sinyalir akan membawa para menteri keuangan zona Euro semakin mendekati kesepakatan terhadap dana penyelamatan gabungan yang mencapai sekitar €700 milyar ($924 milyar).

Sementara bursa saham Asia mengawali perdagangan dengan start yang lambat dan belum menunjukkan rally signifikan terutama akibat investor masih cemas pasca data ekonomi minggu lalu yang menunjukkan merosotnya aktivitas pabrikan dan manufaktur di negara China dan kawasan euro, sehingga menambah kekhawatiran terhadap melambatnya ekonomi dunia.

Rally bursa Asia juga tersendat karena didominasi anjloknya bursa Shanghai-China akibat aksi lepas posisi sebagian investor akibat efek negatif dari data yang menunjukkan merosotnya aktivitas manufaktur di negara China. Indeks manufaktur PMI China-HSBC bulan Maret muncul di angka 48.1 dari sebelumnya 49.6, sehingga data ini menambah kekhawatiran kembali terhadap kondisi melambatnya perekonomian di negara China.

Sentimen semakin terbebani setelah kawasan euro turut merilis data PMI sektor jasa dan manufaktur yang merosot jauh di bawah ekspektasi pasar. Data PMI bulan Maret yang di rilis pekan lalu secara mengejutkan menunjukkan kontraksi yang tajam ke angka 47.7 dari sebelumnya 49.0 untuk sektor manufaktur. Sementara di sektor service PMI, indeks ikut anjlok ke level 48.7 vs 48.8 dan di bawah eskpektasi 49.2. Merosotnya angka tersebut dikarenakan menurunnya aktivitas manufaktur dan jasa negara Jerman dan Prancis. Dan pasar kini menilai bahwa lemahnya angka PMI semakin memperbesar resiko resesi di kawasan tersebut dan bahkan bisa mempersulit penyelesaian krisis hutang.

Namun demikian penurunan indeks saham Asia hari ini dapat terbatasi lantaran masih terangkat oleh penutupan Wall Street di akhir pekan lalu yang positif. Rebound Wall Street terutama dilesatkan oleh lonjakan saham sektor sumber daya alam dan pertambangan setelah perusahaan Codelco dari negara Chili, produsen tembaga terbesar dunia, melaporkan lonjakan laba perusahaan dan peningkatan produksi.

Tidak banyak data ekonomi dunia yang akan muncul hari ini. Setelah pasar dikagetkan data perumahan New Home Sales dari Amreika yang menurun, investor kembali akan di suguhkan data perumahan Pending Home Sales yang di prediksi juga akan mengalami penurunan sebesar 1% dari sebelumnya 2%. Sementara dari benua Eropa akan rilis surevei sentimen Ifo-Jerman bulan Maret yang di ekspektasi tetap stabil di angka 109.6.     

Penguatan Yen Bebani Nikkei

Untuk indeks Nikkei-futures Jepang (NK_JPK50), selain terimbas oleh isu perlambatan ekonomi, indeks juga akan terbebani oleh fluktuasi mata uang Yen. Dan penguatan Yen dalam 3 hari belakangan ini, menyebabkan Nikkei juga terdegradasi di bawah psikologis 10,000.

Secara teknikal, setelah indeks pecah kebawah level psikologis 10,000, peluang untuk kembali rally hingga bercokol lagi di atas level 10,000 kemungkinan akan berat bagi Nikkei di tengah kondisi yang konsolidasi. Pasalnya indikator harian Nikkei yaitu MACD dan MA telah menunjukkan kondisi yang overbought. Sehingga hal ini justru akan mambawa indeks kembali tergerus ke kisaran support 9930, 9880 dan 9840.

Sementara indikator lainnya seperti RSI masih stabil dan belum menujukkan arah tren, namun indikator Stochastic mulai menunjukkan tren reversal untuk rebound setelah sebelumnya berada di kawasan oversold. Maka peluang rally yang terbatas ini kemungkinan akan membawa indeks untuk menguat tipis ke level resisten 10,000 kemudian 10040 hingga 10070.

 

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar