Senin, 25 September 2017

market-outlook  Market Outlook

'Antara Pemilu dan Pengetatan Moneter Amerika'

Rabu, 16 April 2014 16:03 WIB
Dibaca 937

Monexnews - Indonesia sedang menghadapi momentum penting dalam sejarah dunia politiknya. Agenda akbar pemilihan umum bukan hanya menjadi ajang serah terima tongkat estafet kepemimpinan nasional, namun menjadi titik balik era perekonomian baru bagi negara terbesar di Asia Tenggara.

Pasar keuangan sedang berharap cemas menantikan efek (positif maupun negatif) dari pelonggaran moneter yang terjadi di Amerika Serikat. Tetapi selain dinamika kebijakan di negeri Paman Sam, ada sentimen politik lain berupa pesta demokrasi di beberapa negara berkembang yakni India, Indonesia, Brazil, Afrika Selatan dan Turki. Semua negara itu tengah disibukkan oleh pemilihan umumnya masing-masing untuk mencari calon pemimpin dan anggota parlemen pembuat undang-undang. Khusus bagi Indonesia, pemilu menjadi begitu penting karena menentukan arah haluan ekonomi dan regenerasi kepemimpinan dari tangan Susilo Bambang Yudhoyono.

"Terdapat peralihan sentimen di pasar keuangan soal dinamika di negara berkembang. Dalam lebih dari sebulan terakhir, kekhawatiran bergeser ke isu politik," ujar Nicholas Spiro, Managing Director Spiro Sovereign Strategy. Menurutnya, jika pada periode Mei-Agustus 2013 aksi jual aset keuangan dipengaruhi oleh buruknya pos defisit beberapa negara, maka ketakutan yang muncul sekarang adalah risiko dari transisi kepemimpinan. "Pertimbangannya sangat luas, mulai dari peta kebijakan rejim yang baru hingga kondisi politik secara umum," imbuh Spiro. 

Dhara Ranasinghe dan Nyshka Chandran dari CNBC memaparkan pengaruh pemilu di Indonesia terhadap peta pasar keuangan. Fokus utamanya masih seputar isu pemberantasan korupsi dan penyehatan pos defisit neraca keuangan.

Jadwal Pemilu: pemilihan legislatif berlangsung pada 9 April 2014 lalu. Suara terbanyak versi hitung cepat diperoleh oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), yang merupakan partai favorit investor. Pemilihan presiden berlangsung pada awal Juli mendatang, dan apabila tidak ada pemenang mutlak (50%+1), maka pemilihan presiden tahap 2 akan dihelat pada bulan September.

Sentimen di Pasar: sama seperti negara berkembang lainnya, Indonesia juga dibayangi oleh iklim pelonggaran moneter Amerika Serikat. Pencabutan stimulus oleh Federal Reserve Bank hanya akan mengekspos kelemahan di pos neraca yaitu pembengkakan defisit transaksi berjalan. Setelah menyempit jadi 1.98% dari nilai GDP pada kuartal IV lalu, pemerintah menargetkan defisit di bawah 3% dari nilai GDP untuk triwulan pertama 2014. Demi mencapai target defisit dan membantu penguatan nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia bahkan sudah menaikkan suku bunga sebanyak 5 kali sejak pertengahan tahun lalu. Walaupun laju ekonomi nasional sudah berjalan baik, dengan rasio pertumbuhan sebesar 5.72% (tahunan) pada kuartal IV lalu, pelaku pasar finansial meyakini kalau kebijakan moneter yang ketat dan aturan ekspor mineral yang baru justru akan menjadi penghambat kemajuan ekonomi.

Tema Kampanye: beberapa partai berusaha memenangkan suara pemilih dengan mengangkat isu korupsi. Di samping itu bagi sebagian warga kelas menengah, masalah infrastruktur serta minimnya anggaran untuk kesehatan dan pendidikan merupakan pekerjaan rumah yang harus bisa diselesaikan oleh presiden terpilih. Siapapun yang ingin memenangkan hati masyarakat, mereka harus tanggap dalam mengulik isu-isu tadi. 

Skenario Pemilu: menurut hitung cepat, PDI-P meraih suara sekitar 19% pada pemilu parlemen. Untuk mencapai batas pengajuan calon presiden, partai berlambang banteng itu harus disokong suara minimal 25%. Untuk memenuhi kuota suara, PDI-P sudah mengantongi limpahan suara 7% dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem) sebagai mitra koalisi. Walaupun tidak tertutup suatu kerjasama dengan partai lain, duet PDI-P dan Nasdem sudah bisa mencalonkan Joko Widodo sebagai presiden Republik Indonesia pada pilpres mendatang. Sosok gbernur Jakarta ini menjadi favorit terdepan untuk menuju kursi RI-1. 

Potensi Kejutan: peran pemilih pemula atau usia muda sangat besar dalam pemilu tahun ini. Dari 187 juta calon pemilih terdaftar, lebih dari sepertiganya masih berusia antara 16 dan 20 tahun. Kebanyakan dari mereka belum memiliki fanatisme kental terhadap suatu figur atau partai sehingga arus suaranya masih bisa digoyang lagi. Pemilih pemula inilah yang bisa memberikan kejutan dalam persaingan calon presiden 9 Juli.

Pendapat Pengamat: "Apapun hasil pemilu nanti, kami yakin pemerintahan yang baru akan mempertahankan landasan kebijakan ekonomi dari pendahulunya. Terbuka ruang untuk adanya suatu aturan yang lebih ketat di sektor pertambangan dan agribisnis, seperti yang sudah diprakarsai oleh pemerintahan SBY," demikian proyeksi tim analis Standard & Poor's dalam laporannya.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar