Selasa, 17 Januari 2017

market-outlook Market Outlook

'Cermin Pemulihan itu Bernama Retail Sales'

Selasa, 13 Agustus 2013 10:11 WIB
Dibaca 919

Monexnews - Untuk mengukur kondisi ekonomi sebuah negara (maju), pelaku bisnis dan keuangan lazimnya memakai beberapa indikator atau parameter. Indikator itu bisa berupa laporan, data maupun pernyataan verbal dari otoritas yang berwenang seperti bank sentral. Di Amerika Serikat, kebijakan pemerintah dan Federal Reserve Bank selalu diambil berlandaskan tolok ukur statistik dalam indikator-indikator ekonomi, seperti tingkat penyerapan tenaga kerja dan harga properti berbasis hunian.

Selain dua data atau laporan ekonomi tadi, masih ada indikator yang selalu dijadikan bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan yaitu retail sales. Retail sales atau penjualan ritel merupakan laporan yang berisi perhitungan angka penjualan barang-barang di lokasi/tempat transaksi ekonomi utama masyarakat, yakni pusat perbelanjaan, kios, pasar dan sebagainya. Singkatnya, retail sales adalah tolok ukur penjualan barang dari pihak produsen ke konsumen paling akhir (end-user). Indikator ini begitu penting untuk dicermati karena mampu mewakili daya belanja warga negara pada kurun waktu tertentu.

Setiap indikator ekonomi dari Amerika Serikat selalu berpengaruh terhadap optimisme ekonomi dan pergerakan harga produk investasi di pasar finansial. Pekan ini, retail sales untuk bulan Juli dijadwalkan keluar pada hari Selasa waktu Amerika (ET) dan angkanya diperkirakan naik 0.3% dibandingkan hasil data satu bulan sebelumnya. Apabila komponen penjualan otomotif tidak dihitung, maka retail sales diramalkan naik sebesar 0.4%. Jika dibandingkan dengan hasil laporan bulan Juni, di mana rasio kenaikan adalah sebesar 0.4%, maka estimasi retail sales Juli tidak berubah banyak.

Biasanya beberapa lembaga keuangan telah merilis perkiraan hasil data masing-masing sebelum retail sales dirilis. Tim Ekonom Citigroup memprediksi memprediksi data muncul dengan kenaikan 0.4% atau berakselerasi pada laju tercepatnya sejak akhir tahun 2012. "Core retail sales (penjualan ritel produk inti) kemungkinan melaju kencang antara Juni-Juli, seperti tercermin dari tingkat same-store sales," demikian urai Citigroup. Same-store sales sendiri merupakan salah satu komponen perhitungan retail sales yang memperlihatkan selisih pendapatan suatu gerai/toko/jaringan ritel pada suatu periode dengan periode yang sama di masa lampau. Robert DiClemente dari Citigroup melihat tingkat pemasukan industri restoran relatif turun pada bulan Mei dan Juni, namun belum jelas apakah kondisinya bisa membaik pada periode Juli 2013. Di sisi lain, ia melihat belanja untuk bahan bangunan naik 0.9% dan barang-barang umum menguat 0.5%. Sementara sektor otomotif diprediksi lesu sehingga melemah 0.6% sekaligus mengakhir catatan apik bulan Juni yaitu kenaikan sebanyak 1.8%. Akurasi dari pernyataan DiClemente bisa dibuktikan dalam beberapa jam ke depan. 

Patut diketahui bahwa tingkat penjualan ritel suatu negara juga dipengaruhi oleh beberapa hal, misalnya faktor cuaca, musim dan perubahan pajak pertambahan nilai oleh pemerintah pusat. Dalam sejarahnya, hal-hal seperti itu kerap mempengaruhi rencana belanja dan minat beli konsumen terhadap barang-barang kebutuhan. Konsistensi kenaikan belanja warga mencerminkan suatu laju pemulihan ekonomi yang bagus dan bisa dijadikan acuan bagi pemerintah dan bank sentral untuk menentukan kebijakan fiskal dan moneter di masa depan.

Consumer spending atau belanja konsumen merupakan motor utama penggerak ekonomi suatu negara. Retail sales adalah cermin yang mampu memperlihatkan sejauh mana konsumen mau mengeluarkan koceknya di tengah kondisi ekonomi terkini. Lebih dari itu, retail sales juga terkait erat dengan laju inflasi dan penciptaan lapangan kerja karena hasilnya erat dengan dinamika harga barang dan daya serap karyawan oleh perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang konsumsi. Grafik di bawah ini bisa menunjukkan betapa tingginya korelasi antara Angka penjualan ritel dan makanan di Amerika dan total penyerapan tenaga kerja (Non-farm Payrolls) pada tahun 2011, saat perekonomian Amerika baru mulai menapaki perbaikan pasca krisis. Hasil studi Bank Sentral Amerika wilayah St. Louis menghasilkan kesimpulan bahwa korelasi antara retail sales dan payrolls mencapai +0.96 atau tergolong sangat erat.


 Jika ditarik ke kondisi perekonomian terkini, angka penjualan ritel patut dicermati karena bisa mempengaruhi keberlangsungan program quantitative easing yang dirancang oleh Federal Reserve. Komite kebijakan bank sentral beberapa bulan lalu sudah menyatakan bahwa suku bunga acuan baru akan dikerek naik apabila rasio pengangguran turun ke level 6.5% dan inflasi meningkat ke level 2.5%. Target itu bisa dibilang masih sangat jauh dibandingkan rasio pengangguran dan inflasi terkini yang masing-masing masih bertengger di level 7.6% dan 1.8%. Retail sales dapat dijadikan suatu 'hint' untuk menerka dinamika inflasi dan lapangan kerja karena data-data ini saling mempengaruhi. Terdapat suatu prinsip ekonomi nasional yang menyebut bahwa inflasi tinggi membuat daya beli konsumen berkurang. Korelasi itu akan tetap abadi walaupun buku sejarah satu dekade terakhir juga menunjukkan bahwa resesi telah meruntuhkan daya beli, dan kini banyak negara justru tengah berjuang mengatrol tingkat inflasi.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar