Selasa, 25 Juli 2017

market-outlook  Market Outlook

China, Calon Importir Minyak Terbesar Sejagad

Senin, 26 Agustus 2013 11:53 WIB
Dibaca 1016

Monexnews - Dalam sejarah perekonomian modern, Amerika Serikat (AS) sudah lama memantapkan diri sebagai konsumen minyak mentah terbesar sejagad. Negara ini kerap mengimpor produk minyak dan olahannya dalam jumlah besar dari negara-negara produsen utama. Namun di tengah perubahan kebijakan yang progresif, AS diklaim lebih mandiri dalam menjaga ketahanan energinya.

Seiring makin tingginya tingkat kemandirian Amerika Serikat dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka semakin kecil pula volume impor yang dicatat oleh negara ini. Menurut laporan lembaga peneliti Wood MacKenzie, posisi Amerika sebagai importir minyak terbesar dunia akan segera disalip oleh China pada tahun 2017 mendatang. Adapun dua alasan yang melatarbelakangi skenario tersebut yakni meningkatnya volume konsumsi China sendiri dan kemajuan teknologi eksplorasi yang dimiliki oleh Amerika.

Nilai impor minyak mentah China diprediksi menembus angka $500 miliar pada tahun 2020 mendatang. Bertambahnya jumlah warga golongan menengah berdampak pada melambungnya angka pembelian kendaraan bermotor di negara itu. Menurut Energy Information Administration (EIA), China tidak akan mampu memenuhi kebutuhan energi meskipun masih menduduki posisi empat dalam daftar produsen terbesar dunia. "China adalah importir besar. Namun kemampuan produksi mereka sudah mencapai titik puncak sehingga dibutuhkan suplai ekstra dari luar negeri supaya kekurangan permintaan bisa terpenuhi," tutur Gary Clark, Ahli Strategi Komoditi Roubini Global Economics.

Kembali ke data Wood MacKenzie, ketergantungan China terhadap suplai minyak dari luar negeri semakin besar dari waktu ke waktu. Kalau pada tahun 2004 nilai impornya hanya sekitar $20 miliar, maka pada 2012 lalu total impor China menembus $140 miliar. Angka tersebut menyaingi nilai impor minyak Amerika, yang totalnya terus turun dari tahun ke tahun pasca menembus puncak tertingginya, $190 miliar, pada tahun 2008 silam.

Sejak kemampuan untuk produksi gas dan minyak bertambah, impor Amerika Serikat turun menjadi 4 juta barel per hari. Hal itu sangat berbeda dengan China, yang impornya justru naik sebanyak 1 juta barel per hari sejak tahun 2004 menjadi 3 juta barel pada tahun lalu.

Kebutuhan impor minyak berbandung lurus dengan kemajuan ekonomi dan daya beli warganya. Namun dengan lebih banyak mengimpor minyak dari luar negeri, maka negara ini makin rentan terserang efek dari volatilitas harga dunia. Jika ditinjau dari pos neraca perdagangan, pengaruh buruk dari kebijakan impor sudah membuat surplus anjlok 29.6% dibandingkan Juli tahun lalu. Di tengah iklim perlambatan ekonomi saat ini, kondisi tersebut tentu sangat tidak menguntungkan karena arus investasi asing di saat bersamaan juga turun drastis. "Secara keseluruhan, permintaan terhadap minyak dan volume impor akan tetap kuat. Hal ini hanya akan menggerus surplus neraca," tutup Clark.

*Kontrak berjangka minyak mentah kini terpantau pada level $106.92 per barel.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar