Kamis, 19 Januari 2017

breaking-news Bank of Canada mempertahankan suku bunga di level 0.50%.

market-outlook Market Outlook

Dicari: Kandidat Potensial untuk BOJ 1

Jumat, 15 Februari 2013 10:45 WIB
Dibaca 704

Monexnews - Satu bulan sebelum Masaaki Shirakawa lengser dari kursinya, pemerintah dan parlemen Jepang dituntut segera menemukan sosok baru untuk memimpin bank sentral. Tidak hanya cakap, ia juga harus mampu berdiplomasi menghadapi tudingan dunia internasional atas kebijakan mata uang negeri sakura.

Menurut perdana menteri Shinzo Abe, Jepang membutuhkan orang yang berani mengambil langkah frontal demi perbaikan ekonomi nasional, khususnya terkait kendala deflasi. Kebijakan moneter yang lebih agresif sudah menjadi wacana primer Tokyo untuk tahun 2013 dan suksesor Shirakawa diharapkan bisa memenuhi ekspektasi itu. Siapapun calon yang dimunculkan nantinya, ia pasti menjadi andalan Shinzo Abe untuk mencapai target kabinet. Komponen utama pemulihan ekonomi adalah soal deflasi. Abe sudah menegaskan keinginannya akan seseorang yang siap mengambil langkah radikal demi mengakhiri instabilitas harga, yang sudah berlangsung menahun. Jadi tidak ada tempat bagi ahli fiskal dan moneter dengan pola pikir moderat untuk ambil bagian dalam kontestasi kursi tertinggi Bank of Japan (BOJ).

Shirakawa bulan lalu sepakat merestui target inflasi 2% yang dikehendaki pemerintah sebagai panduan utama pengambilan kebijakan. Ia juga meneken program pembelian obligasi dalam jumlah tidak terbatas meski sempat menentang proposal pelonggaran lainnya. Pemerintah menilai sikap dewan gubernur agak terlambat ketimbang seharusnya. Namun di sisi lain, politisi dan pengamat ekonomi kadung mencap BOJ sebagai lembaga yang sudah kehilangan independensinya, entah karena kehebatan Abe atau memang ketidakmampuan otoritas untuk melawan tekanan.

Beberapa nama sudah diapungkan oleh berbagai media untuk menggantikan Shirakawa, di antaranya adalah Toshiro Muto, Kazumasa Iwata dan Haruhiko Kuroda. Tidak tertutup kemungkinan adanya kandidat baru selain mereka dalam waktu dekat. Kuroda mungkin adalah calon gubernur dengan curriculum vitae paling impresif saat ini. Ia merupakan Kepala Asian Development Bank (ADB) yang sangat pro dengan strategi moneter berbasis pertumbuhan nasional. Dalam wawancaranya dengan Wall Street Journal pekan ini, Kuroda menyebut Jepang masih mempunyai banyak ruang untuk pelonggaran. "Apabila diperlukan dan memang bisa dilaksanakan, pelonggaran moneter ekstra siap diluncurkan tahun ini," demikian argumennya untuk mengambil simpati sang perdana menteri. Sementara dua calon lainnya, Muto dan Iwata, juga memiliki peluang yang sama untuk mengisi kursi nomor satu BOJ. Beberapa lembaga keuangan menilai dua sosok ini sangat kompeten dalam kalkulasi kebijakan dan penciptaan stabilitas pasar keuangan. Toshiro Muto adalah Kepala Daiwa Institute of Research dan mantan kandidat gubernur periode sebelumnya. Ia telah memberi dukungan terhadap kebijakan pembelian aset oleh bank sentral, namun menolak wacana pembelian obligasi asing. Alasannya Jepang bisa dipandang terlalu agresif dalam melakukan ekspansi moneter oleh negara-negara mitra dagangnya nanti. Pola pikir Muto berlawanan dengan Iwata, yang menyatakan diri siap memborong surat hutang asing apabila diperlukan. Kalau soal ketersediaan melakukan pelonggaran, Iwata memang sosok yang paling agresif ketimbang dua calon lainnya.

Mata uang Yen telah melemah sebanyak hampir 20% terhadap Dollar Amerika sejak bulan Oktober, dan menjadi sentimen utama dalam trend kenaikan bursa saham. Kurs JPY terhadap mata-mata uang lain juga anjlok sehingga memicu asumsi bahwa Jepang sengaja memandulkan nilai tukar untuk menggenjot sektor ekspor. Analis lembaga keuangan Citi memiliki skenario menarik tentang masa depan Yen di bawah kepemimpinan calon-calon potensial pemimpin BOJ. Apabila Muto terpilih menggantikan Shirakawa maka nilai tukar USD/JPY diramalkan mencapai level 95, sedangkan di bawah komando Iwata, Yen berpeluang ke 100 per Dollar. Pasalnya kedua sosok ini diperkirakan akan senang melakukan intervensi agresif ke pasar uang ketimbang Huroda, yang dianggap lebih moderat.

Jika ditelisisik lebih lanjut, siapapun yang terpilih sebagai BOJ 1 nantinya tidak hanya dituntut berani memutuskan pelonggaran moneter. Patut diingat bahwa kini Jepang sedang berada di bawah sorotan dunia internasional terkait kebijakan mata uangnya. Pemimpin bank sentral yang baru harus cakap melakukan diplomasi dan komunikasi, baik dengan mitra dagang maupun pejabat politik. Apabila ia gagal membangun pembelaan di hadapan dunia maka Jepang akan kembali dianggap sebagai pemicu 'perang valuta', yang eksistensinya membahayakan perdagangan internasional.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar