Sabtu, 23 September 2017

market-outlook  Market Outlook

Didepak Eropa, Rusia Siap Merapat ke Raksasa Ekonomi Asia

Jumat, 28 Maret 2014 11:35 WIB
Dibaca 9830

Monexnews - Sanksi ekonomi yang diberikan oleh blok barat kepada Rusia membuat negara ini kehilangan pangsa pasar dan mitra perdagangan. Untuk menyiasati hal tersebut, pemerintah siap mencari partner baru khususnya dari wilayah Asia.

Rusia terancam sanksi ekonomi terkait dengan keterlibatannya dalam krisis Ukraina tiga bulan terakhir. Embargo perdagangan ditakutkan bisa membuat perekonomian negeri beruang merah melambat dan pendapatan ekspornya turun drastis. Pihak Kremlin sedang menghitung untung rugi dari pemutusan kerjasama dengan negara-negara Uni Eropa. Salah satu opsi yang paling logis untuk menyelamatkan masa depan perekonomian adalah dengan mencari mitra baru yakni dengan negara asal Asia, terutama China.

Selain 'akrab' karena kesamaan ideologi, Rusia dan China memang saling membutuhkan jika dilihat dari aspek demografis, populasi dan kepentingan politik. Hubungan antara Kremlin dan Beijing makin mesra dalam satu dasawarsa terakhir di tengah dominasi Amerika Serikat dalam stabilitas keamanan internasional. Selain saling berbagi tapal batas wilayah, keduanya juga kerap satu kata di dewan keamanan PBB dan tidak jarang bergantian mengirimkan senjata keperluan militer. Persahabatan keduanya akan benar-benar diuji saat blok barat (jadi) memberlakukan embargo ekonomi penuh dalam waktu dekat.

China akan menjadi titik awal dari kebijakan luar negeri Rusia di Asia, sebelum nantinya mereka mendekati India dan bukan tidak mungkin, Jepang. Tidak ada satupun pemerintah yang bisa menolak ajakan Rusia karena negara ini memang mempunyai sumber daya yang melimpah. Rusia mengirimkan 7 juta barel minyak per hari ke pasar komoditi dunia, dan total perdagangan migasnya berkontribusi sebanyak 70% terhadap pos ekspor nasional yang sekitar $515 miliar per tahun (data Energy Information Administration). Pemerintah Vladimir Putin sudah sejak lama ingin menjual lebih banyak produk minyaknya ke China, ditandai dengan negosiasi panjang antara perusahaan BUMN kedua negara yakni Gazprom dan China National Petroleum. Sampai sekarang kata mufakat untuk kerjasama energi monumental memang belum terwujud karena alasan harga. Namun di tengah tensi politi terkini, kemungkinan besar Rusia mau menurunkan banderol harga produk energinya sehingga surat kerjasama bisa langsung diteken. Dalam hal ini, China memiliki posisi tawar yang bagus.

Dengan masuknya China ke dalam portofolio energi Rusia, calon pembeli lain akan lebih mudah didapatkan. Penjualan minyak dengan harga murah memang kurang menguntungkan, namun apabila volumenya bisa lebih banyak, mengapa tidak? Setelah China, Rusia bisa melirik konsumen energi terbesar sesama Asia yakni Korea Selatan dan Jepang. Kedua negara ras kuning ini merupakan konsumen setia produk minyak Amerika Serikat dan masuk dalam daftar importir energi terbesar dunia. Selain mendatangkan pemasukan, kerjasama dengan pihak Jepang dan Korea Selatan akan turut 'menyakiti' Amerika layaknya membidik dua target dengan satu anak panah.

China dan India sudah memberi lampu hijau untuk bisa didekati oleh Rusia. Sinyal ini bisa dilihat dari sikap masing-masing negara dalam merespon aktivitas Rusia di wilayah Crimea. Walaupun tidak membenarkan kebijakan Moskow, China dan India tidak mengeluarkan kecaman atau mengutuk Rusia. Keduanya hanya memberi saran agar semua pihak mengutamakan upaya dialog dan diplomasi. Presiden Vladimir Putin mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada India atas 'pengertian' yang diberikan terkait isu Crimea. Sementara untuk China, mantan agen KGB ini menyanjung habis keberanian pemerintah Beijing melalui statement-nya. "Rusia berterimakasih kepada rakyat dan pemerintah China karena telah bersikap dewasa dalam menyikapi krisis di Crimea. Terimakasih pula kepada India atas objektivitas dan suara mereka," tegas Putin pekan lalu.

Babak Baru Uni Eropa

Amerika Serikat dan Uni Eropa akhirnya memang merilis sanksi berupa pembekuan aset dan penolakan visa bagi warga Rusia yang bisnisnya terkait dengan pemerintah Moskow. Namun sejauh ini, blok barat masih pikir panjang untuk menjatuhkan embargo penuh di sektor perdagangan dan ekonomi seperti apa yang mereka terapkan kepada Iran. Amerika dan Rusia bebas mempertahankan egonya masing-masing karena kedua kubu sudah lama terlibat dalam perang dingin. Washington dan Kremlin nyaris tidak memiliki ketergantungan ekonomis sejak perang dingin dimulai dua setengah dekade silam. Namun perseteruan ideologis tersebut menyulitkan posisi sekutu barat yakni Uni Eropa, salah satu konsumen dan mitra perdagangan paling akrab Rusia. Embargo penuh secara otomatis akan memutus hubungan ekonomi antara Uni Eropa dan Rusia dan mengorbankan banyak hal lainnya.  Berikut ini adalah alasan mengapa Uni Eropa plus Inggris akan butuh adaptasi lama sesudah 'bercerai' dari Rusia:

- Zona Euro masih dalam tahap pemulihan ekonomi. Pemutusan kerjasama dengan pihak Rusia hanya akan memperburuk keadaan mengingat negara itu adalah mitra dagang terpenting ke-tiga bagi Uni Eropa setelah Amerika dan China. Nilai perdagangan antara kedua wilayah mencapai rekor tertinggi 336 miliar Euro pada tahun 2012 lalu atau 10 kali lipat lebih besar dibandngkan volume perdagangan antara Rusia dan Amerika Serikat.

- Apabila ditambah dengan ekspor jasa, maka nilai kerjasama Rusia-Uni Eropa menembus angka fantastis $520 miliar.

- Rusia merupakan pemasok energi terbesar bagi Uni Eropa. Tidak heran jika harga minyak sempat melonjak pada hari Senin kemarin karena lalu lintas suplai ke benua biru terancam oleh tingginya tensi politik Eropa Timur.

- Setengah dari total volume ekspor minyak Rusia ke Eropa melewati wilayah Ukraina.

- Sementara produk ekspor dari Uni Eropa ke Rusia didominasi oleh perangkat mesin, alat transportasi, bahan kimia, obat-obatan dan produk pertanian.

- Jerman menjadi negara Eropa dengan tingkat ketergantungan tertinggi terhadap produk migas dari Rusia.

- Mantan kanselir Jerman, Gerhard Schroeder, merupakan anggota komite pemegang saham Nord Stream, yaitu perusahaan joint venture antara raksasa minyak Rusia Gazprom dan empat perusahaan energi Eropa yang berasal dari Jerman, Belanda dan Prancis. Nord Stream sendiri telah menanamkan modal 7.5 miliar Euro ($10.3 miliar) untuk membangun pipa ganda yang akan mengalirkan minyak melalui Laut Baltik.

- Perusahaan energi terbesar Inggris, British Petroleum (BP), adalah pemegang saham terbanyak ke-dua di Rosneft (produsen minyak terbesar Rusia).

- Perusahaan otomotif, minuman, perbankan dan retailer Eropa akan menderita apabila perang dingin jilid 2 benar-benar terjadi.

- Uni Eropa adalah investor terbesar Rusia dengan estimasi modal asing langsung (FDI) mencapai 75% dari total dana asing yang berputar di sektor riil Rusia.

- Orang-orang kaya Rusia memiliki aset menggurita di wilayah Eropa Barat. Mereka merupakan pemborong real estat di negara-negara dengan pajak rendah seperti Siprus, dan bahkan menyekolahkan anak-anaknya di sana.

- Sebanyak 9% penjualan rumah mewah di Inggris (kategori di atas 1 juta Poundsterling per unit) berasal dari kocek orang Rusia (data Knight Frank, 2013).

- Sekolah-sekolah swasta di Inggris juga menikmati uang orang Rusia. Menurut Independent Schools Council, jumlah anak-anak asal Rusia yang bersekolah di lembaga pendidikan milik Inggris naik 27% pada bulan Januari tahun lalu dibandingkan periode yang sama tahun 2012.

- Jumlah siswa Rusia di Inggris adalah yang ke-tiga terbanyak setelah China dan Jerman.

Posisi Uni Eropa dalam portofolio ekonomi Rusia memang tidak bisa digantikan. Begitu pula dengan peran Rusia dalam pemenuhan sumber daya dan ketahanan energi di 18 negara pengguna valuta tunggal. Namun selepas krisis Ukraina dan (kemungkinan) sanksi ekonomi blok barat, masyarakat dunia bisa saja melihat tatanan geopolitik yang baru. Bukan hanya urusan ideologi, pertentangan antara kubu Paman Sam dan Beruang Merah akan meluas ke sektor ekonomi dengan munculnya proyek-proyek kerjasama multilateral yang melibatkan nominal sangat besar. 


Sumber referensi:

CNN

Energy Information Administration

Reuters

 




(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar